Oleh : Tengku Gilang Pramanda
Kabupaten Tanjung Jabung Timur dinilai memiliki peluang besar untuk ikut mengambil peran dalam agenda besar pemerintah pusat menuju swasembada energi nasional. Potensi itu muncul dari melimpahnya sumber daya kelapa sawit dan gas alam yang dimiliki daerah pesisir timur Provinsi Jambi tersebut.
Di tengah dorongan pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap impor energi, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) disebut dapat menjadi instrumen strategis untuk memperkuat ekonomi daerah sekaligus menciptakan sumber pendapatan jangka panjang.
Pemerintah Republik Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto sendiri dalam berbagai kesempatan menegaskan komitmennya untuk memperkuat kemandirian energi dan pangan nasional. Langkah itu dilakukan guna menekan ketergantungan impor energi yang selama ini membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dalam sejumlah kunjungan luar negeri, Presiden Prabowo bahkan secara terbuka menyampaikan bahwa komoditas strategis Indonesia mulai menjadi perhatian banyak negara di dunia. Kelapa sawit Indonesia disebut masih menjadi salah satu komoditas paling dibutuhkan karena memiliki nilai strategis, baik untuk kebutuhan pangan maupun energi global.
Beberapa negara seperti Mesir, Pakistan hingga Rusia bahkan disebut membutuhkan pasokan sawit Indonesia untuk menopang kebutuhan industri mereka. Tidak hanya sebagai bahan baku makanan, sawit Indonesia juga mulai menjadi bagian penting dalam kebutuhan energi alternatif dunia melalui pengembangan biodiesel.
Situasi geopolitik global dan ketidakstabilan energi dunia turut membuat banyak negara mulai mencari sumber energi yang lebih aman dan berkelanjutan. Indonesia, sebagai salah satu produsen sawit terbesar dunia, dinilai memiliki posisi tawar yang sangat kuat dalam peta energi global tersebut.
Fakta itu memperlihatkan bahwa kelapa sawit bukan sekadar komoditas perkebunan biasa, tetapi telah berubah menjadi komoditas strategis masa depan.
Kelapa sawit kini memiliki banyak produk turunan bernilai ekonomi tinggi, mulai dari minyak goreng, biodiesel, sabun, kosmetik hingga berbagai kebutuhan industri lainnya. Bahkan, program pencampuran biodiesel nasional seperti B35 dan rencana peningkatan menuju B50 diperkirakan akan membuat kebutuhan Crude Palm Oil (CPO) terus meningkat setiap tahun.
Dengan tren permintaan yang terus tumbuh dan harga yang relatif stabil, bisnis sawit dinilai masih sangat menjanjikan. Keuntungan bukan hanya berasal dari penjualan Tandan Buah Segar (TBS), tetapi juga dari pengelolaan produk turunan bernilai tambah tinggi.
Di titik inilah BUMD Tanjung Jabung Timur seharusnya mulai membaca arah masa depan ekonomi daerah. Daerah tidak boleh lagi hanya menjadi tempat produksi bahan mentah tanpa mendapatkan manfaat ekonomi yang maksimal.
Selama ini, sebagian besar keuntungan dari sektor sumber daya alam justru lebih banyak dinikmati perusahaan besar di luar daerah. Sementara daerah penghasil tetap bergantung pada dana transfer pusat dan memiliki ruang fiskal yang terbatas.
Padahal, apabila BUMD mampu masuk ke sektor hilirisasi sawit, potensi keuntungan yang diperoleh daerah sangat besar. BUMD dapat mengambil peran mulai dari perdagangan CPO, pengelolaan distribusi hasil perkebunan, pembangunan industri turunan sawit, hingga investasi pada sektor energi berbasis biodiesel.
Jika langkah itu dilakukan secara serius, bukan hanya Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang meningkat, tetapi juga mampu membuka lapangan kerja baru, meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat, hingga menarik investasi masuk ke daerah.
Selain sektor sawit, peluang strategis lainnya juga datang dari pengembangan Compressed Natural Gas (CNG). Sektor ini dinilai akan menjadi salah satu bagian penting dalam arah transisi energi nasional beberapa tahun ke depan.
Pemerintah pusat mulai mendorong penggunaan energi yang lebih murah dan efisien untuk mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor. Salah satu yang didorong adalah pemanfaatan CNG sebagai alternatif energi rumah tangga maupun industri.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia sebelumnya menyampaikan bahwa pemerintah tengah mempercepat pengembangan penggunaan CNG di berbagai daerah.
Penggunaan CNG dinilai mampu menekan biaya energi hingga sekitar 30 persen. Selain lebih hemat, program tersebut juga menjadi bagian dari upaya memanfaatkan sumber daya gas domestik yang tersedia di Indonesia.
Provinsi Jambi, khususnya wilayah Tanjung Jabung Timur dan Tanjung Jabung Barat, dinilai memiliki potensi cukup besar dalam pengembangan sektor gas karena memiliki sumber daya yang tersedia dan posisi wilayah yang strategis.
Melihat potensi tersebut, BUMD Tanjung Jabung Timur didorong tidak hanya bergerak sebagai perusahaan daerah biasa, tetapi mampu menjadi motor penggerak bisnis energi masa depan.
BUMD harus mulai berani keluar dari pola lama yang hanya bergantung pada penyertaan modal pemerintah tanpa arah bisnis yang jelas. Momentum transisi energi saat ini seharusnya menjadi kesempatan bagi BUMD untuk membangun usaha yang produktif dan berorientasi jangka panjang.
BUMD dapat mengambil peran melalui skema bisnis terintegrasi di sektor kelapa sawit dan CNG. Misalnya melalui kerja sama investasi, distribusi energi, pengelolaan perdagangan komoditas, hingga pembangunan sektor hilirisasi yang memberikan nilai tambah langsung bagi daerah.
Apabila dikelola secara profesional, transparan dan modern, langkah tersebut tidak hanya akan memperkuat fiskal daerah, tetapi juga menciptakan sumber pendapatan berkelanjutan bagi Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Namun tantangan terbesar sesungguhnya bukan terletak pada potensi sumber daya, melainkan keberanian mengambil peluang.
Sebab selama ini tidak sedikit BUMD yang hanya berjalan sebagai perusahaan formalitas daerah tanpa visi bisnis yang kuat. Minim inovasi, lemahnya manajemen, hingga terlalu bergantung pada bantuan pemerintah membuat banyak BUMD sulit berkembang dan kalah bersaing.
Momentum transisi energi nasional saat ini sebenarnya menjadi kesempatan emas bagi daerah. Tidak semua daerah memiliki kombinasi sumber daya sawit dan gas seperti yang dimiliki Tanjung Jabung Timur.
Karena itu, jika peluang ini mampu dibaca dengan baik, maka daerah memiliki kesempatan besar untuk membangun kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal. BUMD dapat tumbuh menjadi perusahaan daerah yang modern, mandiri dan kompetitif.
Lebih jauh lagi, keberhasilan BUMD masuk ke sektor energi juga akan menjadi simbol bahwa daerah tidak lagi hanya bergantung pada dana pusat, tetapi mulai mampu berdiri di atas kekuatan ekonominya sendiri.
Jika mampu membaca arah kebijakan pemerintah pusat dan bergerak lebih cepat, bukan tidak mungkin BUMD Tanjung Jabung Timur akan tumbuh menjadi salah satu perusahaan daerah yang memiliki kontribusi besar dalam mendukung program nasional menuju kemandirian energi Indonesia.