Oleh:
Thamrin B. Bachri **
Teori Manajemen Adam Smith merupakan bagian dari dasar pemikiran ekonomi dan manajemen modern. Kendatipun Adam Smith (1723-1790) lebih dikenal sebagai bapak ekonomi klasik melalui bukunya “The Wealth of Nations” (1776), kontribusinya terhadap teori manajemen juga signifikan terutama dalam hal EFISIENSI, spesialisasi dan pengorganisasian kerja. Smith menekankan pentingnya efisiensi dalam penggunaan sumber daya (tenaga kerja, modal dan bahan baku). Output maksimal dengan input minimal. Lebih lanjut Smith menyadari arti penting motivasi pekerja. Meskipun ia secara eksplisit membahas teori motivasi, konsepnya tentang efisiensi berkontribusi pada pemikiran tentang bagaimana mengoptimalkan kinerja sumber daya manusia (SDM). Prinsip efisiensi Smith menjadi dasar bagi manajemen operasional modern.
Dari uraian tersebut diatas, penting untuk memahami bahwa teori efisiensi sudah lahir sejak 1776, konsep dasarnya berakar dari hukum ekonomi klasik yang dikembangkan oleh Adam Smith dan disempurnakan oleh ekonom modern yang menganalisis alokasi sumber daya secara maksimal. Selanjutnya, bagaimana kita menyikapi efisiensi tersebut khususnya dibidang pariwisata yang tengah menghadapi efisiensi anggaran.
Efisiensi Anggaran Pemerintah adalah kebijakan mengelola keuangan negara untuk mencapai hasil maksimal dengan menggunakan dana seminimal mungkin. Kebijakan ini berfokus pada penghapusan pengeluaran yang tidak produktif pencegahan pemborosan (seperti mark up, biaya perjalanan yang berlebihan, maupun biaya rapat yang berlebihan), dan pengalihan ke program prioritas yang berdampak langsung bagi masyarakat.
LANGKAH – LANGKAH STRATEGIS DISPARDA MENGHADAPI EFISIENSI ANGGARAN DALAM MENGEMBANGKAN PARIWISATA JAMBI
Seperti kita ketahui pariwisata Jambi merupakan perpaduan lengkap antara wisata sejarah, ekowisata, petualangan alam dan budaya melayu. Mulai dari situs purbakala Candi Muaro Jambi salah satu kompleks percandian Agama Buddha terluas di Asia Tenggara yang diakui sebagai warisan budaya dunia. Berikutnya destinasi alam Kerinci, merupakan jantung petualangan Jambi yang terkenal dengan Gunung Kerinci (gunung berapi tertinggi di Indonesia), hamparan kebun teh Kayu Aro dan Danau gunung Tujuh, Dan UNESCO Global Geopark Merangin terkenal dengan fosil flora fauna yang berusia ratusan tahun yang tersingkap di sepanjang aliran Sungai Batang Merangin, tempat ini juga untuk kegiatan rafting dan penelusuran Gua. Di samping ada beberapa Taman Nasional Kerinci Seblat dan Berbak di Tanjung Jabung untuk kegiatan wisata alam yang berbasis konservasi. Sementara ikon wisata di pusat kota wajib diketahui dan dikunjungi, misalnya: Jembatan Pedestrian gentala Arasy, rekrasi air Danau Sipin, maupun Agrowisata Nanas Tangkit. Tentu saja selain keindahan alamnya, pariwisata Jambi sangat dikenal dengan kekayaan budaya dan kuliner. Untuk menjadi destinasi yang berkualitas dan dikenal oleh wisatawan domestik maupun asing tentu masih banyak ruang-ruang untuk perbaikan maupun pengembangan, karena itu, adanya efisiensi anggaran pemerintah kita tidak boleh berhenti melaksanakan pengembangan terutama yang berdampak langsung kepada masyarakat.
Isu strategis efisiensi Anggaran Dinas Pariwisata Daerah (DISPARDA) berpusat pada upaya memaksimakan target Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan kinera pariwisata di tengah keterbatasan alokasi dana. Hal ini menuntut strategi yang lebih terarah agar operasional tetap berjalan optimal.
Pada masa efisiensi anggaran, DISPARDA (Dinas Pariwisata Daerah) dapat melakukan restrukturisasi program dengan mengalihkan anggaran pada sektor prioritas, memperbaiki tata kelola destinasi, serta mengoptimalkan operasional kantor guna menjaga sektor pariwisata Jambi. Berikut beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan:
o Melakukan Optimalisasi dan Fokus Anggaran adalah hal yang krusial, seperti mengurangi alokasi untuk kegiatan seremonial atau promosi yang kurang berdampak, dan mengalihkannya untuk pembenahan fasilitas atau daya tarik pariwisata daerah. Selanjutnya, mengevaluasi program dengan menghentikan atau menunda program dengan dampak berganda yang rendah, dan memprioritas kegiatan yang mendatangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara langsung. Lakukan pula digitalisasi pelayanan dengan kampanye digital, pemasaran media sosial serta aplikasi informasi wisata mendorong pelaku usaha dan masyarakat melakukan promosi antar komunitas (community to community marketing) misalnya pemandu wisata di Candi Muaro Jambi dengan operator di Sumatera Utara dan lainnya, Hotel di Jambi dengan operator Sumatera Barat, atau pemandu wisata di Kerinci dengan klub pendaki gunung di Singapura, Malaysia dan lainnya, hal ini akan mengurangi biaya promosi pemerintah. Selanjutnya, anggaran tidak disebarkan merata ke semua destinasi. DISPARDA fokus mengembangkan fasilitas dan amenitas pada destinasi unggulan yang sudah terbukti menyumbang retribusi secara maksimal, perawatan fasilitas publik juga di fokuskan pada titik-titik vital destinasi untuk menekan biaya pemeliharaan rutin yang membebani APBD.
o Melakukan Penguatan Kolaborasi – kemitraan swasta dapat mengurangi beban APBD dengan menggandeng pihak swasta (hotel, agen perjalanan, maskapai) untuk melakukan Co-branding atau pendanaan bersama dalam kegiatan promosi (pariwisata kolaboratif). Diikuti pula pemberdayaan desa wisata yang tersebar di hampir seluruh kabupaten di Jambi dengan mengembangkan dan mempromosikan wisata berbasis masyarakat (desa wisata) yang lebih hemat biaya namun langsung dampak ekonominya ke akar rumput. Perlu dicatat bahwa resolusi Perserikatan Bangsa Bangsa tahun 2027 adalah Tourism Sustainability and Resilience dan resiliensi itu ada di akar rumput yaitu desa wisata karena itu desa wisata akan menjadi fokus pengembangan pariwisata dimana kolaborasi sangat dibutuhkan antara DISPARDA dengan Politeknik Pariwisata misalnya, Poltekpar Palembang, UNJA, UIN dan lainnya untuk pendampinan di desa-desa wisata, tata kelola, maupun pelatihan SDMnya. Efisiensi tidak berarti stagnasi. DISPARDA dapat menyiasatinya melalui kolaborasi dengan akademisi di Jambi bekerjasama dalam riset dan pengembangan destinasi (R&D) atau pelatihan SDM, kolaborasi dengan komunitas mengoptimalkan peran masyarakat dan kelompok sadar wisata, dan berkolaborasi dengan swasta / bisnis untuk mencari alternatif pendanaan kreatif seperti Corporate Social Responsibility (CSR) atau KPBU (Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha). Penting untuk dicatat dan diketahui bahwa aktivitas community to community marketing yang dilakukan Riel Gontai and the Gang bersama TVRI Jambi perlu diberi acungan jempol, inilah yang disebut kolaborasi yang efisien (biayanya hemat/tepat sasaran). Cara-cara seperti inilah yang harus didorong lebih banyak lagi sehingga dapat memangkas biaya promosi. Semoga ini menjadi afirmasi positif bagi Riel Gontai and the Gang dan TVRI Jambi dalam mempromosikan Jambi sebagai destinasi wisata pilihan.
o Memberikan penghargaan kepada pelaku usaha, hotel, home stay, restoran, café, agen perjalanan, destinasi wisata, pemandu wisata termasuk tokoh pariwisata daerah dan lainnya seperti toko cinderamata dalam bentuk sertifikat penghargaan. Bulan penghargaan ini misalnya dilaksanakan menjelang hari pariwisata dunia yaitu setiap tanggal 27 September. Penghargaan ini adalah cara efisien untuk memotivasi mereka agar terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada para pengunjung / tamu dan sekaligus meningkatkan destination brand dari Provinsi Jambi.
o Melakukan Efisiensi Internal – Disiplin perjalanan Dinas merupakan upaya membatasi frekuensi perjalanan dinas keluar daerah atau keluar negeri serta mengoptimalkan rapat dan koordinasi secara daring (online) untuk memangkas pengeluaran operasional rutin. Selanjutnya, perlu ada manajemen fasiltas dengan mengatur penggunaan listrik, air, dan peralatan kantor secara bijak di lingkungan dinas. Hal ini sekaligus melatih kita berperilaku Sustainable (Sustainable Living and Behaviour).
Akhirnya sebagai penutup seyogyanya kita berterimakasih atas latar belakang pemikiran Adam Smith yang hidup pada masa revolusi industri yang mengemukakan bahwa “kemakmuran suatu bangsa” tidak hanya ditentukan oleh emas atau perak tetapi oleh “kemampuan menghasilkan barang dan jasa secara EFISIEN”. Anggaran pemerintah yang ideal harus efisien (biayanya hemat/tepat) dan efektif (programnya benar-benar membawa manfat bagi rakyat).
BERSIH, TERATUR, DAN JUJUR (CLEAN, ORDER, AND HONEST) ITULAH KEBERLAJUNTAN, SEMOGA.
** Penulis:
THAMRIN B. BACHRI
Senior Advisor, Indonesia Tourism Support
Mantan Deputi Peningkatan Kapasitas & Kerjasama Luar Negeri Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata periode 2001-2003, Dirjen Pemasaran Pariwisata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata periode 2003-2008 dan alumni Lemhannas KSA-X 2002, yang mengeyam pendidikan di Department of Habitational Resources, Hospitality and Tourism, University of Wisconsin-Stout, USA (1990) ini mendedikasikan sebagian hidupnya di Bidang Pariwisata. Staf pengajar di Pasca Sarjana Pariwisata STP Bandung dan penggagas buku Responsible Tourism Marketing ini sangat peduli dan banyak memberikan pandangan dan pemikiran yang terkait dengan pembangunan dan pariwisata yang bertanggungjawab dan berkelanjutan (Sustainable TourismDevelopment). Ia berpendapat bahwa kombinasi yang akan menghancurkan pariwisata adalah MATERIALISM plus SHORT-TERMISM. Saat ini berdomisili di Jambi dan menjadi Tenaga Ahli Gubernur (TAG) Jambi Bidang Pariwisata.