PELUANG PENINGKATAN PAD DAERAH LEWAT HILIRISASI PARIWISATA

WIB
IST


DI TENGAH EFISIENSI ANGGARAN DI TANJUNG JABUNG TIMUR DAN BARA

Oleh:
Thamrin B. Bachri **

APA ITU HILIRISASI PARIWISATA?

Teori Kuda dan Burung Pipit (Horse and Sparrow Theory) yang pertama kali muncul pada akhir abad ke-19, sekitar tahun 1890-an di Amerika Serikat, istiah ini dietuskan untuk menggambarkan gagasan trickle down economics atau supply-side economics. Selanjutnya, istilah ini pula yang awalnya digunakan oleh para pengkritik ekonomi pasar bebas (laissez-faire). Ekonom politik AS, Henry George, disebut sebagai salah satu tokoh awal yang mempopulerkan metafora ini untuk menyindir bahwa memakmurkan orang kaya akan otomatis memakmurkan rakyat. Secara sederhana teori ini adalah jika kita memberi makan banyak gandum kepada kuda maka kotorannya yang tercecer akan dimakan burung pipit. Dalam istilah ekonomi, ini diartikan sebagai kebijakan meberikan pemotongan pajak atau keuntungan finansial kepada kelompok kelas atas, orang kaya atau korporasi, dengan harapan kekayaan tersebut pada akhirnya akan “mengalir ke bawah” kepada masyarakat kelas bawah. Para ekonom sering mengkritik bahwa prktknya kotoran atau remah-remah makanan dari kuda tidak selalu sampai atau cukup untuk burung pipit, oleh karena itu HILIRISASI hadir sebagai solusi untuk memastikan masyarakat bawah tidak hanya mengandalkan “sisa” melainkan turut serta memproduksi dan menikmati nilai ekonomi dari sumber daya secara langsung. Kuda (kelompok orang kaya atau kelas atas/korporasi) menyerahkan pemerataan ekonomi kepada mekanisme pasar yang mengalir dari atas ke bawah (trickle down economics) sementara hilirisasi adalah intervensi langsung negara melalui regulasi untuk menciptakan langsung nilai tambah (value added) langsung di akar rumput. Sektor yang menjadi target utama hilirisasi saat ini seperti Minerba, Pertanian, termasuk Pariwisata.

Hilirisasi pariwisata berfokus pada peningkatan nilai tambah (value added) pengalaman dan jasa seperti mengembangkan wisata minat khusus atau fasilitas terpadu, mengembangkan layanan dan destinasi wisata agar wisatawan tinggal lebih lama, dan belanja lebih banyak. Contoh paket budaya terpadu, desa wisata, atau wisata olah raga (Sport tourism), penyediaan fasilitas MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) berskala lokal, nasional maupun internasional, serta event-event lainnya seperti lomba perahu, dan lain-lain. Jadi output hilirisasi pariwisata adalah pengalaman, jasa, dan kenyamanan. Sementara hilirisasi Minerba, Pertaniasn atau outputnya adalah fisik seperti barang setengah jadi atau jadi atau energi alternatif. Jadi sifat kegiatan ekonomi hilirisasi misalnya Batubara adalah padat modal dan berbasis teknologi pengolahan skala besar (pabrik/kilang) dan terkait erat dengan pengelolaan emisi karbon dan tantangan transisi menuju energi yang lebih bersih sedangkan hilirisasi pariwisata sifat kegiatan ekonominya padat karya dan berbasis pelayanan (hospitality), seperti UMKM Kuliner, Kerajinan Tangan, dan akomodasi serta berfokus pada kelestarian alam, ekowisata, dan pemberdauaan ekonomi masyarakat lokal (Sustainable and Resilience).

HILIRISASI PARIWISATA DI TANJUNG JABUNG TIMUR DAN BARAT DI TENGAH EFISIENSI ANGGARAN

Efisiensi anggaran adalah kebijakan pemerintah untuk menggunakan secara hemat dan tepat sasaran, dan tanpa pemborosan untuk menghasilkan manfaat atau keluaran yang maksimal. Tujuan utamanya bukan sekedar memangkas biaya, melainkan mengalihkan atau memfokuskan kembali anggaran dari kegiatan yang kurang produktif (seperti perjalanan dinas atau rapat seremonial) ke program prioritas yang berdampak langsung kepada masyarakat. Dalam menghadapi efisiensi anggaran tentu kita tidak boleh stagnasi, kita dapat melaksanakan hal-hal sebagai berikut:

o Hilirisasi pariwisata terjadi ketika destinasi wisata beralih dari sekedar menjual keindahan alam menjadi penyediaan pengalaman bernilai tambah tinggi yang mengintegrasikan edukasi, alam, budaya, dan produk ekonomi kreatif lokal. Proses ini mengubah wisatawan dari sekedar “pengunjung” menjadi konsumen yang menghabiskan lebih banyak uang untuk pengalaman oleh-oleh otentik. Disparda (Dinas Pariwisata Daerah) Kabupaten Tanjab Barat maupun Timur harus melakukan transformasi produk wisata dasar menjadi barang dan jasa bernilai lebih tinggi (hilirisasi) melalui diversifikasi paket wisata tematik, pemberdayaan UMKM lokal untuk souvenir dan kuliner, serta pengembangan ekosistem pariwisata digital. Hilirisasi pariwisata memang bertujuan memperpanjang lama tinggal wisatawan dan meningkatkan pengeluaran mereka di daerah. Langkah operasional yang harus dilakukan adalah mendorong wisatawan yang berkunjung tidak hanya datang dan berfoto tapi membeli pengalaman langsung seperti lokakarya tentang mangrove atau membatik, kelas memasak kuliner khas daerah atau tur ekowisata. Mengkurasi dan membina UMKM lokal agar menghasilkan produk yang bernilai jual tinggi, kemasan menarik dan sesuai selera pasar. Menghubungkan destinasi utama dengan desa wisata, sentra kerajinan, dan pusat kuliner melalui rute transportasi yang efisien. Ini akan mendorong pemerataan ekonomi masyarakat. Lebih lanjur melalui hilirisasi pariwisata kita dapat melakukan transformasi komoditas menjadi produk turunan, contoh hasil bumi yang ada di Tanjab Timur maupun Barat seperti kopi dan kelapa tidak hanya dijual sebagai biji mentah tapi di olah dan dikemas secara premium. Wisatawan diajak untuk ikut dalam proses pembuatan (wisata edukasi) hingga membeli produk turunan tersebut.

o Destinasi wisata di Tanjab Timur maupun Barat dapat mengembangkan rantai pasok dengan melibatkan sektor lain secara langsung. Desa wisata memproduksi makanan khas atau kerajinan tangan yang dijual eksklusif di tempat wisata. Pendapatan ini memberikan dampak langsung kepada pengrajin dan petani lokal. Lebih lanjut, atraksi alam dilengkapi dengan cerita budaya atau legenda daerah yang dikemah dalam bentuk drama tari atau pertunjukan (Experiental Tourism) di destinasi wisata bahari baik di Tanjab Barat maupun Timur di destinasi wisata baharinya, hilirisasi terjadi ketika wisatawan tidak hanya menyewa perahu, tetapi membayar untuk ikut transpalasi terumbu karang atau belajar menangkap ikan, udang atau kerang dengan nelayan tradisional.

o Khusus hilirisasi wisata di Tanjung Jabung Barat diwujudkan dalam bentuk transformasi pesisir dan perkebunan (seperti kelapa dalam) menjadi produk ekowisata dan agrowisata, wisata edukasi dan pemberdayaan ekonomi kreatif masyarakat. Pengembangan destinasi seperti Wisata Mangrove Pangkal Babu tidak hanya sekedar menjual keindahan alam tetapi juga mengintegrasikan konservasi dengan edukasi lingkungan bagi wisatawan. Optimalisasi kawasan Water Front City (WFC) Kuala Tungkal sebagai pusat rekreasi keluarga yang menggerakan sektor kuliner dan ekonomi kreatif masyarakat setempat, termasuk Wisata Susur Sungai dan Religi. Kemudian dalam integrasi wisata dan hilirisasi kelapa agar Pemkab Tanjung Jabung Barat mendorong hilirisasi komoditas kelapa dalam yang melibatkan petani lokal. Hasil olahan kelapa dikemas dan dipasarkan sebagai souvenir khas daerah, menciptakan wisata belanja berbasis produk unggulan daerah.

o Hilirisasi parwisata di Tanjung Jabung Timur difokuskan pada kampung wisata. Dalam hal ini Disparbudpora hendaknya menjalankan program pengembangan ekosistem pariwisata yang dirancang untuk memperkuat fondasi desa wisata dan mengintegrasikan potensi lokal ke dalam rantai nilai kreatif. Pengembangan desa wisata dapat pula di dukung oleh Kemenpar RI dengan melakukan pendampingan oleh mereka yang desa wisatanya sudah berhasil seperti Desa Penglipuran di Bali. Pembenahan difokuskan pula pada destinasi wisata unggulan seperti Kampung Laut, Pemandian Air Panas Geragai, Hutan Lindung Gambut Sungai Buluh. Hilirisasi kelapa, seperti diketahui Kabupaten Tanjung Jabung Timur memiliki kurang lebih 51.000 hektar perkebunan kelapa dan pariwisata dapat disinergikan dengan hilirisasi produk turunan seperti kuliner khas, santan kemasan, hingga kerajinan tangan dari sabut maupun tempurung dan dengan dapat pula kembangan paket wisata edukasi dan agrowisata kebun kelapa.

Selanjutnya, pemberdayaan SDM yang melibatkan secara aktif generasi muda danb kelompok masyarakat sadar wisata (Pokdarwis) untuk mengelola layanan wisata dan UMKM secara profesional harus dilakukan secara kontinyu. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan berkolaborasi dengan pihak-pihak terkait termasuk perguruan tinggi yang ada di Jambi atau pelatihan-pelatihan yang dilaksanakan oleh Kemenpar RI atau lainnya. Demikian halnya dengan penguatan branding dan pemasaran kreatif dengan melakukan kampanye pemasaran digital, memanfaatkan influencer, dan mendorong pemasaran antar komunitas (community to community marketing) yang dapat memangkas biaya promosi.

Akhirnya, melalui penerapan hilirisasi pariwisata, industri wisata akan menjadi lebih tangguh dan berkelanjutan (Resolusi PBB 2027) dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Dampak yang paling utama adalah meningkatnya lama tinggalnya wisatawan (length of stay) dan rata-rata pengeluaran wisatawan (average spending), yang berujung pada perputaran ekonomi yang lebih besar di tingkat akar rumput. Lupakan “Horse and Sparrow Theory” mulailah dengan HILIRISASI PARIWISATA.

Clean, Order, and Honest are Basic Element of Tourism

** Penulis:

THAMRIN B. BACHRI
Senior Advisor, Indonesia Tourism Support

Mantan Deputi Peningkatan Kapasitas & Kerjasama Luar Negeri Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata periode 2001-2003, Dirjen Pemasaran Pariwisata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata periode 2003-2008 dan alumni Lemhannas KSA-X 2002, yang mengeyam pendidikan di Department of Habitational Resources, Hospitality and Tourism, University of Wisconsin-Stout, USA (1990) ini mendedikasikan sebagian hidupnya di Bidang Pariwisata. Staf pengajar di Pasca Sarjana Pariwisata STP Bandung dan penggagas buku Responsible Tourism Marketing ini sangat peduli dan banyak memberikan pandangan dan pemikiran yang terkait dengan pembangunan dan pariwisata yang bertanggungjawab dan berkelanjutan (Sustainable Tourism Development).

Ia berpendapat bahwa kombinasi yang akan menghancurkan pariwisata adalah MATERIALISM plus SHORT-TERMISM.
Saat ini berdomisili di Jambi dan menjadi Tenaga Ahli Gubernur (TAG) Jambi Bidang Pariwisata.

BeritaSatu Network