JAMBI – Sosok Jusuf Kalla kembali mendapat sorotan sebagai figur bangsa yang dinilai memiliki kontribusi besar, tidak hanya dalam panggung politik nasional, tetapi juga dalam membangun fondasi sosial, memperkuat kohesi kebangsaan, serta menghadirkan solusi konkret dalam berbagai persoalan konflik di Indonesia. Dalam berbagai fase perjalanan bangsa, Jusuf Kalla dinilai hadir bukan sekadar sebagai pejabat negara, melainkan sebagai problem solver yang mampu menjembatani kepentingan, meredam ketegangan, dan mengedepankan pendekatan dialogis demi terciptanya stabilitas nasional yang berkelanjutan.
Tengku Gilang Pramanda, Mantan Ketua Umum HMI Cabang Jambi periode 2017, menegaskan bahwa Kanda Jusuf Kalla dikenal luas oleh masyarakat Indonesia bukan semata karena popularitas, melainkan karena kapasitas dan kompetensi yang dimilikinya secara fundamental.
“Beliau bukan tokoh yang dikenal karena pencitraan populis. Kanda Jusuf Kalla justru dikenal karena kemampuan individunya yang kuat, baik di jaringan pengusaha, organisasi sosial kemasyarakatan seperti Palang Merah Indonesia (PMI), organisasi keagamaan seperti Dewan Masjid Indonesia (DMI), hingga di kalangan Cipayung Plus, HMI, dan KAHMI,” ujar Gilang.
Menurutnya, Jusuf Kalla juga dikenal sebagai figur pemersatu bangsa yang kerap menjadi juru damai dalam berbagai konflik horizontal, baik antaragama maupun antarkelompok masyarakat di Indonesia. Gilang menambahkan, kepemimpinan Jusuf Kalla telah melahirkan banyak tokoh penting, baik dari kalangan HMI, KAHMI, maupun organisasi kemasyarakatan lainnya.
“Beliau sosok yang tegas, lugas, dan cepat dalam mengambil keputusan. Selain itu, Kanda Jusuf Kalla juga dikenal sangat dermawan terhadap siapa saja yang mengenalnya. Tidak heran jika beliau kerap dipercaya memegang berbagai amanah, baik sebagai pejabat tinggi negara maupun memimpin organisasi intelektual, usaha, dan sosial,” lanjutnya.
Dalam catatan sejarah Indonesia, peran Jusuf Kalla juga sangat signifikan dalam upaya perdamaian nasional. Ia tercatat sebagai tokoh kunci dalam penyelesaian sejumlah konflik besar, seperti konflik Poso melalui Perjanjian Malino I, konflik Maluku melalui Perjanjian Malino II, serta konflik Aceh melalui Perjanjian Helsinki.
Gilang menegaskan, Kanda Jusuf Kalla bukan hanya figur penting dalam lingkup HMI dan KAHMI, tetapi juga merupakan sosok pemikir strategis bangsa yang memiliki visi jauh ke depan dalam melihat arah pembangunan Indonesia. Ia dinilai mampu mengintegrasikan pengalaman di dunia usaha, pemerintahan, dan organisasi sosial menjadi kekuatan dalam merumuskan kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat luas. Tidak hanya itu, pemikiran-pemikirannya kerap menjadi rujukan dalam menjaga stabilitas nasional, memperkuat persatuan, serta mendorong peran aktif masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Beliau adalah negarawan sejati dan layak disebut sebagai salah satu bapak bangsa Indonesia,” tutupnya.