TANJAB TIMUR – Gagasan besar sering lahir dari ruang akademik, lalu bergerak menjadi agenda pembangunan. Di Tanjung Jabung Timur, langkah itu mulai terlihat. Pertemuan strategis yang membahas hilirisasi kelapa melalui pengembangan cocopeat digagas oleh akademisi Universitas Jambi, Ridwansyah, yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Tenaga Ahli Gubernur (TAG) Jambi.
Inisiatif ini menjadi titik awal menghubungkan potensi lokal dengan peluang industri mengubah limbah sabut kelapa menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi.
Dalam pertemuan tersebut, cocopeat diperkenalkan sebagai solusi konkret hilirisasi kelapa. Selama ini, sabut kelapa hanya dianggap limbah. Padahal, jika diolah, ia menjadi media tanam organik dengan nilai jual tinggi.
Cocopeat memiliki sejumlah keunggulan:
- Mampu menyerap air hingga 8–10 kali beratnya
- Tekstur halus dan ringan
- Memiliki aerasi baik untuk akar tanaman
- pH relatif netral (5,5–6,8)
- Ramah lingkungan dan mudah terurai
Dengan karakteristik tersebut, cocopeat banyak digunakan dalam pembibitan, hidroponik, hingga urban farming.
Gagasan ini mendapat respons positif dari pemerintah daerah. Bupati menegaskan bahwa pengembangan cocopeat sejalan dengan program peningkatan UMKM dan ekonomi lokal.
“Kegiatan ini sangat mendukung UMKM naik kelas, ini bagian dari program kami,” tegasnya.
Ia juga memastikan pemerintah daerah siap membuka ruang bagi investor yang ingin mengembangkan industri ini.
“Kami pastikan mempermudah investor untuk berinvestasi di daerah kami,” ujarnya, termasuk membuka peluang bagi investor seperti Philip Wallat.
Dengan luas kebun kelapa mencapai sekitar 95 ribu hektare, Tanjung Jabung Timur memiliki potensi besar yang selama ini belum dimaksimalkan.
Selama ini, kelapa diekspor dalam bentuk mentah. Sementara sabutnya menjadi limbah.
“Selama ini kami mengekspor kelapa bulat. Sabutnya jadi sampah. Dengan adanya ini, kami sangat terbantu,” ungkap Bupati.
Hilirisasi melalui cocopeat menjadi jawaban untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.
Pemerintah daerah juga menyiapkan langkah lanjutan. Bonus demografi dimanfaatkan dengan menyiapkan tenaga kerja lokal yang siap masuk ke sektor industri.
“Kami siap menyiapkan SDM terbaik untuk menjadi tenaga kerja di sektor ini,” tegasnya.
Selain itu, pengembangan industri kelapa juga diarahkan untuk mencegah alih fungsi lahan ke kelapa sawit.
“Kami ingin lahan tetap fokus pada kelapa dalam,” tambahnya.
Inisiatif yang digagas Ridwansyah menunjukkan pentingnya peran akademisi dalam mendorong kebijakan berbasis riset dan potensi daerah.
Pertemuan ini juga mendapat dukungan dari pemerintah provinsi melalui perwakilan Bappeda, Fahmi Rasid, serta dihadiri tenaga ahli lainnya seperti Johanes.
Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa hilirisasi tidak bisa berjalan sendiri—ia membutuhkan sinergi antara kampus, pemerintah, dan dunia usaha.
Apa yang dimulai dari sebuah gagasan akademik, kini mulai bergerak menuju realisasi industri.
Cocopeat bukan sekadar produk. Ia adalah simbol perubahan arah pembangunan dari menjual bahan mentah, menuju mengolah, memberi nilai, dan menciptakan lapangan kerja.
Dan di Tanjab Timur, langkah itu sudah dimulai. Dari ruang diskusi, menuju gerak ekonomi nyata. (*)