PTPN IV PalmCo Geser Panen Kopi Imbas Cuaca, Penjualan Justru Melonjak

WIB
ist

Jakarta – PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo mengambil langkah strategis dengan menyesuaikan ritme panen kopi akibat anomali iklim di awal tahun 2026.

Curah hujan tinggi yang melanda sejumlah wilayah operasional membuat proses pematangan buah kopi terganggu. Meski demikian, perusahaan tetap mencatatkan kinerja positif dengan laba sebelum pajak sebesar Rp3,43 miliar pada triwulan I 2026.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menjelaskan bahwa kondisi cuaca memaksa perusahaan melakukan penyesuaian produksi.

“Tingginya curah hujan menghambat proses fotosintesis dan pematangan buah kopi atau cherry. Akibatnya, perkembangan buah menjadi lebih lambat dari biasanya,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Menurut Jatmiko, meski menghadapi tantangan cuaca, perusahaan tetap berkomitmen menjaga kualitas produk.

“Namun kondisi tersebut tidak menghalangi kinerja keuangan segmen kopi kami untuk tetap mencatatkan hasil positif,” katanya.

Keputusan strategis pun diambil: jadwal panen raya digeser.

Langkah ini dilakukan di berbagai wilayah operasional, termasuk kawasan Java Coffee Estate (JCE) di Jawa Timur dan perkebunan di Jambi.

Panen raya yang semula dijadwalkan lebih awal kini digeser menjadi Mei 2026, menunggu buah kopi matang sempurna secara alami.

Di tengah penyesuaian produksi, kinerja penjualan justru menunjukkan tren positif.

Data perusahaan mencatat:

  • Penjualan bersih triwulan I 2026: Rp21,78 miliar
  • Periode yang sama 2025: Rp10,94 miliar

Artinya, terjadi peningkatan hampir dua kali lipat.

“Penjualan meningkat cukup tinggi. Di saat yang sama, kami tetap menjaga arus kas operasional agar tetap sehat,” ujar Jatmiko.

Lonjakan ini menjadi penopang utama kinerja perusahaan di tengah tekanan iklim yang tidak menentu.

Manajer KSO Java Coffee Estate, Hastudy Yunarko, menegaskan bahwa keputusan menunda panen bukan tanpa alasan.

“Kalau panen dipaksakan saat buah belum matang sempurna, kualitas seduhan kopi akan turun. Itu berisiko terhadap standar mutu produk,” katanya.

Ia menambahkan, perusahaan memilih menunggu kematangan optimal demi menjaga kualitas kopi saat masuk ke pasar.

Langkah adaptif ini menjadi strategi penting bagi PTPN IV PalmCo untuk menjaga daya saing, baik di pasar domestik maupun internasional.

Di tengah anomali iklim yang semakin sulit diprediksi, perusahaan dituntut tidak hanya menjaga produksi, tetapi juga memastikan kualitas tetap terjaga.

Hasilnya mulai terlihat: meski panen ditunda, penjualan melonjak dan kinerja keuangan tetap positif.

Kini, tantangannya adalah menjaga konsistensi strategi ini di tengah dinamika iklim global yang terus berubah.(*)

BeritaSatu Network