Efek Domino Perang, Harga Plastik di Indonesia Ikut Meroket

WIB
ist

JAKARTA – Dampak konflik geopolitik di Timur Tengah mulai merembet ke dalam negeri. Harga plastik di Indonesia dilaporkan mengalami kenaikan signifikan, bahkan mencapai hingga 50 persen, seiring terganggunya pasokan bahan baku global.

Kenaikan ini tidak berdiri sendiri. Ia menjadi cerminan dari ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku plastik, yang sebagian besar berasal dari negara-negara produsen luar negeri.

Data Badan Pusat Statistik mencatat, pada Februari 2026 Indonesia mengimpor plastik dan barang dari plastik (HS 39) senilai US$ 873,2 juta atau sekitar Rp 14,78 triliun.

Pasokan terbesar berasal dari:

  • China: US$ 380,1 juta
  • Thailand: US$ 82,7 juta
  • Korea Selatan: US$ 66,7 juta

Selain itu, Indonesia juga mengimpor plastik dari Amerika Serikat senilai US$ 29,9 juta dan dari Arab Saudi sebesar US$ 14,9 juta.

Negara lain seperti Vietnam, Jepang, Singapura, Malaysia, dan Taiwan turut menjadi pemasok.

Ketua Bidang Infokom DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia, Reynaldi Sarijowan, menyebut kenaikan harga plastik sudah terasa sejak awal Ramadan dan kini mencapai puncaknya.

“Kenaikan sudah mencapai 50 persen. Ini sangat signifikan,” ujarnya.

Ia mencontohkan, harga plastik kresek yang sebelumnya Rp10.000 kini naik menjadi Rp15.000 per pack. Sementara jenis lain juga naik dari Rp20.000 menjadi Rp25.000.

Menurutnya, kondisi ini mulai menekan pedagang pasar yang sangat bergantung pada plastik sebagai kemasan utama.

“Pedagang sudah teriak, karena ini akan berdampak ke harga barang di pasar,” katanya.

Kenaikan harga plastik tidak lepas dari lonjakan harga minyak dunia. Plastik merupakan produk turunan minyak bumi, terutama jenis polyethylene (PE) dan polypropylene yang digunakan secara luas.

Ketika harga minyak naik, biaya produksi plastik ikut terdorong.

Masalahnya, Timur Tengah merupakan salah satu pemasok utama bahan baku plastik global. Data S&P Global Energy menunjukkan kawasan ini menyumbang sekitar 25 persen ekspor polyethylene dan polypropylene dunia.

Ketergantungan ini membuat rantai pasok global sangat rentan terhadap konflik.

Gangguan distribusi juga diperparah oleh kondisi di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman energi dunia.

Sekitar 84 persen kapasitas ekspor polyethylene dari Timur Tengah bergantung pada jalur ini.

Ketika jalur tersebut terganggu, distribusi bahan baku langsung terhambat—dan dampaknya menjalar hingga ke negara pengimpor seperti Indonesia.

Kenaikan harga plastik berpotensi memicu efek berantai terhadap harga komoditas di pasar.

Plastik yang selama ini dianggap murah dan sepele, justru menjadi komponen penting dalam rantai distribusi barang.

Ketika biaya kemasan naik, harga jual barang ikut terdorong.

Dan di ujungnya, konsumenlah yang akan merasakan dampaknya.

Di tengah gejolak global, satu hal menjadi semakin nyata: ketergantungan pada impor bukan sekadar soal perdagangan, tetapi soal kerentanan. Ketika pasokan terganggu, dampaknya bisa menjalar hingga ke meja makan masyarakat. (*)

BeritaSatu Network