JAMBI – Komitmen PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo dalam menerapkan tata kelola perkebunan kelapa sawit berkelanjutan kembali mendapat pengakuan dari lembaga internasional. Hal ini tercermin dari kunjungan studi lapangan yang dilakukan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) bersama akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB) ke Kebun dan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Cikasungka, Jawa Barat.
Kunjungan yang berlangsung pada Kamis, 12 Februari 2026 tersebut menjadi momentum penting untuk melihat secara langsung implementasi prinsip keberlanjutan dalam praktik operasional perusahaan, mulai dari proses budidaya hingga pengelolaan lingkungan dan sosial.
Delegasi RSPO dipimpin langsung oleh Aryo Gustomo selaku Director Assurance RSPO serta Farah Damia Mohd Zainal, Assistant Manager Talent Acquisition RSPO.
Sementara dari kalangan akademisi hadir tim dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang dipimpin Prof. Dr. Ir. Herdhata Agusta, didampingi Prof. Hariyadi, Ibu Anggi, Bapak Erik, serta puluhan mahasiswa program magister (S2).
Kunjungan tersebut tidak hanya menjadi agenda observasi, tetapi juga berfungsi sebagai bentuk validasi akademik dan profesional atas implementasi praktik keberlanjutan yang diterapkan oleh PTPN IV PalmCo di lapangan.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo menyambut baik kunjungan tersebut dan menegaskan bahwa standar keberlanjutan bukan sekadar kewajiban administratif bagi perusahaan.
Menurutnya, penerapan prinsip RSPO telah menjadi bagian integral dari strategi bisnis perusahaan.
“Bagi PalmCo, penerapan standar RSPO bukan sekadar pemenuhan sertifikasi, melainkan menjadi fondasi dalam setiap proses bisnis kami, mulai dari hulu hingga hilir,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa prinsip keberlanjutan telah diintegrasikan dalam berbagai aspek operasional perusahaan, mulai dari tata kelola manajemen, praktik perkebunan, hingga pengelolaan dampak sosial dan lingkungan.
Dengan pendekatan tersebut, PalmCo menempatkan keberlanjutan sebagai strategi jangka panjang perusahaan, bukan sekadar kepatuhan formal terhadap standar global.
Dari sisi akademisi, Prof. Herdhata Agusta menilai PTPN IV PalmCo merupakan lokasi yang ideal untuk dijadikan tempat pembelajaran langsung bagi mahasiswa.
Ia bahkan menyebut area operasional perusahaan sebagai “laboratorium hidup” bagi sivitas akademika IPB.
Menurut Herdhata, kunjungan ini merupakan yang kedua kalinya bagi dirinya bersama mahasiswa IPB ke lokasi yang sama.
Sebelumnya ia pernah membawa mahasiswa dalam mata kuliah Limbah Pertanian untuk mempelajari langsung sistem pengolahan limbah di kawasan perkebunan tersebut.
“Ini adalah pengalaman baru tentang bagaimana mengelola kelapa sawit berkelanjutan yang dipandu oleh sistem RSPO. Mahasiswa dapat belajar dan mengamati langsung di lapangan sebagai bekal pengalaman mereka di masa depan,” ungkapnya.
Melalui kunjungan lapangan seperti ini, mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana praktik keberlanjutan diterapkan dalam skala industri.
Apresiasi juga datang dari pihak RSPO.
Director Assurance RSPO Aryo Gustomo menilai PTPN IV PalmCo sebagai salah satu anggota RSPO yang memiliki komitmen kuat dalam penerapan standar keberlanjutan.
Ia menyebut perusahaan pelat merah tersebut telah memiliki 69 sertifikat RSPO dari lebih dari 100 Unit of Certification yang dimiliki perusahaan.
“PTPN adalah salah satu member kita yang sangat baik. PTPN sudah banyak mendapatkan sertifikat RSPO,” jelas Aryo.
Menurutnya, implementasi standar keberlanjutan di PalmCo tidak hanya terjadi di tingkat operasional unit kebun, tetapi juga sudah menjadi bagian dari kebijakan perusahaan secara menyeluruh.
“Komitmen PTPN bukan hanya di tingkat operasional unit, tetapi telah diimplementasikan secara holistik dari pimpinan puncak perusahaan,” tambahnya.
Aryo juga menekankan bahwa kelapa sawit memiliki keunggulan produktivitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan komoditas minyak nabati lainnya.
“Kalau dikomparasikan per hektare, produktivitas kelapa sawit sangat tinggi. Kedelai pun per hektarenya tidak sampai 4 ton. Artinya kita bisa mengelola area yang lebih kecil tapi dengan produksi yang tinggi,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, RSPO juga mengingatkan pentingnya menjaga konsistensi kepatuhan terhadap standar keberlanjutan yang terus berkembang.
Aryo menyampaikan bahwa standar RSPO terbaru yang dirilis pada tahun 2024 akan mulai diberlakukan secara wajib pada Mei mendatang.
Artinya, seluruh proses audit yang dilakukan setelah Mei harus mengacu pada standar baru tersebut.
“Standar baru tahun 2024 akan diterapkan secara wajib pada bulan Mei mendatang. Audit setelah bulan Mei harus menggunakan standar baru, termasuk memastikan status Independent Smallholder,” jelasnya.
Hal ini menjadi pengingat bagi seluruh anggota RSPO, termasuk PalmCo, agar terus meningkatkan sistem pengelolaan dan kepatuhan terhadap standar global yang terus diperbarui.
Pengakuan dari RSPO dan kalangan akademisi ini juga sejalan dengan kinerja bisnis PalmCo yang terus menunjukkan tren positif.
General Manager Distrik Jawa Barat–Banten PTPN IV Regional 1, Ardiansyah, memaparkan bahwa restrukturisasi perusahaan melalui pembentukan Sub Holding PalmCo dan skema Kerja Sama Operasi (KSO) sejak 2022 telah membawa perubahan signifikan dalam kinerja operasional perusahaan.
Saat ini Distrik Jawa Barat–Banten mengelola wilayah kerja lebih dari 20 ribu hektare, yang tersebar di 7 kebun serta 2 pabrik kelapa sawit (PKS).
Dua PKS tersebut adalah:
- PKS Kertajaya dengan kapasitas 60 ton per jam
- PKS Cikasungka dengan kapasitas 30 ton per jam
Operasional perkebunan ini didukung oleh lebih dari 2.000 tenaga kerja yang merupakan kolaborasi dari entitas PTPN I dan PTPN IV.
Transformasi manajemen tersebut juga berdampak langsung pada peningkatan produktivitas kebun.
Ardiansyah menjelaskan bahwa sebelum skema KSO diberlakukan, produktivitas kebun pada 2021 hanya mencapai 12,8 ton per hektare.
Namun angka tersebut terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
- 2024: 15,2 ton per hektare
- 2025: 16,7 ton per hektare
“Rata-rata kenaikan kita mencapai 1 hingga 2 ton per hektare dalam setahun,” paparnya.
Peningkatan produktivitas ini menjadi indikator penting bahwa transformasi manajemen yang dilakukan perusahaan berjalan efektif.
Perbaikan operasional hulu hingga hilir tersebut juga berujung pada peningkatan kinerja keuangan perusahaan.
Ardiansyah menyebut bahwa setelah restrukturisasi dan efisiensi operasional dijalankan, laba perusahaan mengalami lonjakan signifikan.
Pada tahun 2024, PalmCo mencatat laba sebesar Rp422,1 miliar.
Setahun kemudian, pada 2025, perusahaan kembali mencetak rekor laba tertinggi dalam satu dekade terakhir dengan capaian Rp543 miliar.
Kinerja ini menunjukkan bahwa pendekatan keberlanjutan tidak hanya memberikan manfaat lingkungan dan sosial, tetapi juga mampu menciptakan nilai ekonomi yang kuat bagi perusahaan.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo menegaskan bahwa perusahaan akan terus memperkuat praktik bisnis berkelanjutan sesuai standar RSPO.
Menurutnya, kepatuhan terhadap prinsip keberlanjutan bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga terbukti mampu meningkatkan nilai perusahaan.
“PalmCo akan terus berkomitmen menjalankan praktik bisnis yang mematuhi standar keberlanjutan yang ditetapkan oleh RSPO,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keberlanjutan telah terbukti memberikan dampak positif, baik bagi lingkungan maupun bagi kinerja finansial perusahaan.
“Kami meyakini bahwa kepatuhan terhadap prinsip-prinsip keberlanjutan bukan hanya menjadi tanggung jawab moral dan tata kelola, tetapi juga terbukti mampu menciptakan nilai tambah serta memberikan dampak finansial yang luar biasa dan berkelanjutan bagi perusahaan,” tutupnya. (*)