Dakwah Digital Ramadhan 1447 H, ICMI–MUI Jambi Kupas Pesantren dan Boarding School sebagai Ekosistem Skill dan Akhlak

WIB
IST

JAMBI – Festival Ramadhan 1447 H yang digelar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Jambi bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jambi kembali menghadirkan diskusi strategis melalui program Dakwah Digital, Kamis (26/2/2026).

Kajian yang disiarkan secara daring melalui kanal resmi ICMI Orwil Jambi itu mengangkat tema “Pesantren & Sekolah Boarding: Ekosistem Skill dan Akhlak.” Kegiatan ini didukung media partner Jambi Link dan Bungo Pos.

Hadir sebagai narasumber, Dr. Syahrizal, S.Th.I., M.A., Dosen Fakultas Dakwah UIN STS Jambi, dengan moderator Dr. Adiati, M.Pd.I.

Dalam pemaparannya, Dr. Syahrizal membuka diskusi dengan pertanyaan reflektif: “Apakah pendidikan kita masih memisahkan antara kecerdasan dan karakter?”

Menurutnya, pendidikan modern kerap terjebak pada capaian akademik semata, sementara pembentukan moral dan integritas belum berjalan optimal. Di tengah kemajuan teknologi, meningkatnya kenakalan remaja, serta tantangan era disrupsi dan kecerdasan buatan (AI), sistem pendidikan dinilai harus melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas tetapi juga berkarakter kuat.

“Apakah mungkin membangun sistem pendidikan yang simultan membentuk skill dan akhlak? Pesantren dan boarding school menawarkan jawabannya,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam berbasis asrama memiliki sistem pembinaan 24 jam. Lingkungan terkontrol tersebut memungkinkan internalisasi nilai, pembentukan kebiasaan, serta penanaman adab secara konsisten.

Tradisi pesantren di Indonesia, lanjutnya, lahir dari warisan ulama Nusantara yang menekankan sanad keilmuan dan adab sebelum ilmu. Tokoh seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan disebut sebagai contoh bagaimana pesantren mampu melahirkan elite moral bangsa.

“Pesantren terbukti membentuk pemimpin berintegritas melalui kombinasi keilmuan dan pembinaan adab,” katanya.

Dr. Syahrizal memaparkan bahwa boarding school modern merupakan ekosistem pendidikan total yang mengintegrasikan kurikulum formal, pembinaan spiritual, disiplin kolektif, komunitas belajar, hingga mentoring intensif.

Mengacu pada teori Hidden Curriculum, Social Learning Theory dari Albert Bandura, serta pendidikan karakter Thomas Lickona, ia menegaskan pembentukan karakter tidak hanya melalui materi ajar, tetapi melalui kultur, keteladanan, dan pembiasaan.

“Boarding system membangun kontrol internal atau muraqabah, bukan sekadar kontrol eksternal,” jelasnya.

Ia menambahkan pentingnya integrasi skill di pesantren modern, seperti penguatan tahfiz yang dipadukan literasi digital, fikih dengan kewirausahaan, serta pengembangan critical thinking, kolaborasi, dan kepemimpinan.

“Skill tanpa akhlak melahirkan arogansi dan korupsi. Tapi skill dengan akhlak melahirkan amanah dan integritas,” tegasnya.

Dalam kajian komparatif, ia menyinggung model boarding di dunia seperti Al-Azhar University, Harrow School, dan Pondok Modern Darussalam Gontor. Sistem asrama secara global, menurutnya, identik dengan pembentukan elite di bidang agama, sosial, maupun kepemimpinan.

Namun, ia juga mengakui tantangan pesantren dan boarding school di Indonesia, mulai dari stigma tradisionalisme, keterbatasan manajemen modern, minimnya integrasi STEM, hingga kesenjangan transformasi digital.

“Bagaimana menjadikan pesantren sebagai pusat inovasi tanpa kehilangan ruh?” ujarnya.

Dalam konteks nasional, ia menyebut Indonesia tengah menghadapi bonus demografi, ancaman radikalisme dan sekularisme ekstrem, serta kebutuhan mendesak akan pemimpin berintegritas.

Karena itu, pesantren dinilai dapat menjadi strategic moral infrastructure of the nation.

“Jika universitas adalah pusat produksi ilmu, maka pesantren adalah pusat produksi akhlak. Pesantren dan sekolah boarding bukan sekadar alternatif. Ia adalah model masa depan,” pungkasnya.

Kajian Dakwah Digital ini menjadi bagian dari upaya ICMI–MUI Jambi menghadirkan diskursus keislaman yang responsif terhadap tantangan zaman. Festival Ramadhan 1447 H diharapkan menjadi ruang refleksi strategis demi masa depan pendidikan dan peradaban bangsa. (*)

BeritaSatu Network