JAMBI – Pemerintahan Kota Jambi di bawah kepemimpinan Wali Kota Dr. dr. H. Maulana, M.K.M bersama Wakil Wali Kota Diza Hazra Aljosha, S.E., M.A genap satu tahun masa bakti pada 20 Februari 2026. Sejak dilantik Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025, duet ini membawa visi Kota Jambi Bahagia sebagai arah pembangunan jangka menengah daerah.
Dalam refleksi satu tahun kepemimpinan tersebut, sejumlah indikator ekonomi dan sosial menunjukkan tren yang relatif stabil bahkan membaik, berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jambi.
Pertumbuhan ekonomi Kota Jambi pada 2025 tercatat di angka 4,75 persen. Di tengah dinamika global seperti fluktuasi harga energi dan ketegangan geopolitik, angka ini dinilai sebagai sinyal stabilitas ekonomi daerah.
Inflasi bulanan (m-to-m) sepanjang 2025 berada di kisaran 0,34 persen, menunjukkan daya beli masyarakat tetap terjaga dan distribusi barang kebutuhan relatif terkendali.
Sebagai kota perdagangan dan jasa dengan posisi geostrategis di Provinsi Jambi, stabilitas makro ini menjadi fondasi penting bagi dunia usaha dan iklim investasi.
Stabilitas ekonomi berdampak pada indikator kesejahteraan. Angka kemiskinan Kota Jambi turun dari 7,73 persen pada 2024 menjadi 7,69 persen pada 2025.
Pemerintah Kota menargetkan angka tersebut dapat ditekan hingga 6,70 persen pada 2030.
Dari sisi distribusi pendapatan, Gini Ratio tahun 2025 tercatat 0,339, membaik dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 0,395. Penurunan ini mengindikasikan penyempitan ketimpangan ekonomi antar kelompok masyarakat.
Peningkatan investasi, pemulihan ekonomi kreatif, serta penguatan sektor UMKM disebut menjadi faktor penopang perbaikan tersebut.
Kota Jambi dengan luas wilayah 169,89 km², terdiri dari 11 kecamatan dan 68 kelurahan, serta jumlah penduduk 641.020 jiwa, mencatat peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
IPM naik dari 81,77 menjadi 82,32 pada 2025.
Tingkat Pengangguran Terbuka juga turun dari 7,38 persen pada 2024 menjadi 7,08 persen pada 2025. Penurunan ini dikaitkan dengan program pelatihan tenaga kerja, dukungan pembiayaan UMKM, serta penguatan sektor jasa dan perdagangan.
Dari sisi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (ADHB), tren pertumbuhan juga terlihat jelas.
- 2023: Rp 40.150,78 miliar
- 2024: Rp 43.375,48 miliar
Terdapat kenaikan sebesar Rp 3.224,70 miliar dalam satu tahun.
Kenaikan ini mencerminkan ekspansi aktivitas ekonomi lokal, termasuk sektor budaya dan ekonomi kreatif yang diperkuat melalui program Rumel, pelatihan Balikat, serta akses pembiayaan Banharkat bagi pelaku usaha lokal.
Di tengah pengurangan alokasi transfer pusat ke daerah, Pemerintah Kota Jambi mencatat capaian signifikan pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang mencapai 109 persen dari target.
Strategi efektivitas belanja dan optimalisasi potensi lokal menjadi kunci dalam menjaga kemandirian fiskal daerah. Pemerintah mendorong pertumbuhan sektor perdagangan, jasa, serta pengelolaan potensi lokal untuk mengurangi ketergantungan terhadap dana pusat.
Meski capaian cukup solid, tantangan belum sepenuhnya teratasi. Penciptaan lapangan kerja masih perlu dipercepat agar mampu menyerap angkatan kerja baru secara optimal.
Selain itu, tekanan global, transisi industri hijau, serta kebutuhan transformasi digital menuntut kebijakan yang adaptif dan berkelanjutan.
Pemerintah Kota Jambi menyebut fokus tahun berikutnya akan diarahkan pada:
- Akselerasi investasi produktif
- Penguatan industri hilir
- Peningkatan produktivitas tenaga kerja
- Transformasi digital dan ekonomi hijau
Satu tahun kepemimpinan Maulana–Diza menjadi fase konsolidasi dan peletakan fondasi. Stabilitas inflasi, pertumbuhan ekonomi yang terjaga, penurunan ketimpangan, serta peningkatan PAD menjadi indikator awal arah pembangunan.
Visi Kota Jambi Bahagia tidak hanya dikemas sebagai slogan, tetapi diletakkan dalam indikator terukur yang tercermin dalam data ekonomi dan sosial.
Memasuki tahun kedua, tantangannya bukan lagi membangun fondasi, melainkan menjaga momentum. Pertumbuhan harus konsisten, distribusi manfaat harus merata, dan kesejahteraan harus benar-benar dirasakan masyarakat.
Kota Jambi kini berada di titik transisi: dari stabilitas menuju akselerasi.(*)