Jambi - Proyek infrastruktur Pembangunan Pengendalian Banjir Sungai Batang Tebo di Kabupaten Bungo kini tengah memasuki fase krusial. Namun, proses tender di bawah naungan Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) VI Jambi ini diwarnai fenomena janggal yang memantik kecurigaan publik.
Paket dengan pagu anggaran Rp 11.440.000.000,00 (Rp 11,44 miliar) ini resmi memasuki tahap Pembuktian Kualifikasi mulai 6 Februari hingga 2 Maret 2026.
Dari 97 kontraktor yang mendaftar, hanya 9 peserta yang memiliki nyali untuk mengajukan penawaran.
Berdasarkan data yang dihimpun, CV. Endrotama Engineering muncul sebagai kandidat terkuat setelah mengajukan penawaran terendah di angka Rp 8.921.274.240,92. Angka ini turun cukup signifikan, "membuang" sekitar Rp 2,5 miliar dari nilai pagu.
Namun, sorotan tajam justru tertuju pada deretan penawar di bawah CV Endrotama. Terdapat kejanggalan di mana tiga perusahaan (peringkat 2, 3, dan 4) mengajukan harga penawaran yang sama persis hingga ke satuan rupiah, yakni Rp 9.152.000.000,00.
Ketiga perusahaan yang "sehati" tersebut adalah:
- PT. Andina Teknik Konstruksi
- CV. Andalas Jaya Putra
- CV. Galaksi Mitra Abadi
Keanehan tak berhenti di situ. Peserta kelima, yakni Permata Emas Berlian, mengajukan penawaran Rp 9.152.000.005,50. Angka ini hanya memiliki selisih 5 rupiah perak saja dari "geng harga kembar" di atasnya.
Fenomena harga identik dalam tender konstruksi ini memicu dugaan kuat adanya pengondisian, persekongkolan, atau sekadar praktik copy-paste hitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB) antar peserta agar terlihat ramai.
Dengan metode Harga Terendah Sistem Gugur, posisi CV Endrotama Engineering saat ini berada di atas angin. Selisih harga yang jauh lebih murah dibandingkan kelompok "harga kembar" membuat perusahaan ini berpeluang besar ditetapkan sebagai pemenang pada 3 Maret 2026 mendatang.
Namun, syarat utamanya adalah CV Endrotama harus lolos verifikasi administrasi dan teknis yang ketat.
Publik kini menanti ketelitian Kelompok Kerja (Pokja) Pemilihan dalam menyikapi fenomena harga kembar tersebut. Apakah ini kebetulan matematis yang langka, atau tanda-tanda pengaturan tender yang gagal rapi?