Jakarta – Pemerintah melalui Perum Bulog menyiapkan langkah baru untuk menjaga stabilitas harga pangan nasional. Tahun ini, Bulog akan menyalurkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebesar 1,5 juta ton secara konsisten sepanjang tahun, tanpa jeda seperti tahun-tahun sebelumnya.
Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, strategi penyaluran SPHP kini diubah agar lebih efektif dan tepat sasaran. Jika sebelumnya penyaluran dilakukan secara terputus-putus, ke depan distribusi akan berjalan dari Januari hingga Desember.
“Penyaluran beras SPHP 1,5 juta ton ke depan akan kami laksanakan strateginya sepanjang tahun. Jadi tidak seperti yang lalu, terpotong-potong,” ujar Rizal kepada wartawan di Jakarta Selatan, Minggu (11/1/2026).
Rizal tak menampik bahwa realisasi penyaluran SPHP pada 2025 belum sesuai harapan. Dari target 1,5 juta ton, Bulog hanya mampu menyalurkan sekitar 802.939 ton beras SPHP.
Menurutnya, kegagalan mencapai target itu bukan semata persoalan stok, melainkan pola distribusi yang tidak berkesinambungan.
“Januari sampai Maret penjualan jalan, lalu awal April berhenti. Baru muncul lagi Agustus. Pola seperti ini bikin target sulit tercapai,” jelasnya.
Karena itu, Bulog kini mengusung pendekatan baru: distribusi tanpa henti sepanjang tahun. Dengan skema ini, Bulog berharap distribusi lebih cepat, daya serap lebih tinggi, dan dampak stabilisasi harga di pasar bisa lebih terasa.
“Nanti harapan kami, dari Januari sampai Desember penjualan SPHP jalan terus. Tidak ada yang terputus,” tegas Rizal.
Tak hanya soal pola distribusi, Bulog juga mengusulkan perubahan pada aturan pembelian beras SPHP di tingkat konsumen. Selama ini, masyarakat dibatasi maksimal membeli dua kemasan beras SPHP per orang.
Rizal menilai, pembatasan tersebut bisa dikaji ulang agar perputaran stok (turnover) lebih cepat, terutama di daerah dengan permintaan tinggi.
“Kalau dulu satu orang hanya boleh beli dua pack. Ke depan mungkin bisa ditambah. Tapi ini tentu harus kami ajukan dulu ke Badan Pangan Nasional,” katanya.
Menurut Rizal, pelonggaran aturan pembelian berpotensi mempercepat penyaluran, selama tetap diawasi agar tepat sasaran dan tidak dimanfaatkan oleh spekulan.
Penyaluran beras SPHP merupakan salah satu instrumen utama pemerintah untuk menahan lonjakan harga beras di pasar, terutama saat terjadi tekanan akibat faktor cuaca, distribusi, atau fluktuasi produksi.
Dengan strategi distribusi sepanjang tahun dan evaluasi kebijakan pembelian, Bulog berharap program SPHP bisa benar-benar menjadi bantalan harga bagi masyarakat sekaligus menjaga stabilitas pasokan nasional.(*)