BATANG HARI – Denyut nadi perekonomian masyarakat di Kabupaten Batang Hari, Jambi, kembali berdetak kencang pada pekan pertama Januari 2026. Setelah sempat mengalami fluktuasi di awal pergantian tahun, harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit kini menunjukkan tren positif yang menggembirakan.
Dalam dua hari terakhir hingga Selasa (6/1/2026), grafik harga emas hijau ini bergerak naik signifikan, memberikan harapan baru bagi ribuan petani yang menggantungkan hidup pada sektor perkebunan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, harga beli di tingkat Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di wilayah Batang Hari kini bertengger di kisaran Rp 3.160 hingga Rp 3.400 per kilogram. Angka ini mencatatkan kenaikan yang cukup tajam dibandingkan posisi sebelumnya yang sempat tertahan di level Rp 3.100 per kilogram.
Raden Jufri, pemilik Loading Ramp (RAM) Vino—salah satu pusat pengepul sawit di Batang Hari—mengonfirmasi pergerakan harga tersebut. Menurutnya, perubahan harga ini terjadi cukup dinamis dalam kurun waktu 48 jam terakhir.
"Saat ini harga TBS di angka Rp 3.160 sampai Rp 3.400 per kilogram, tergantung pabrik masing-masing. Ini lonjakan yang lumayan, karena sebelumnya sempat stagnan di angka Rp 3.100," ungkap Jufri saat diwawancarai, Selasa (6/1/2026).
Kenaikan harga TBS di tingkat lokal ini bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Jufri menjelaskan adanya korelasi kuat antara harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di pasar global dengan harga beli buah di tingkat petani.
Ketika permintaan dan harga CPO dunia menguat, efek dominonya langsung dirasakan hingga ke rantai pasok paling bawah di daerah.
"Mekanismenya memang begitu, kalau harga CPO naik, biasanya harga TBS di tingkat pabrik dan pengepul juga otomatis mengikuti," paparnya. Sentimen positif pasar CPO ini menjadi katalis utama yang mendongkrak nilai tukar petani sawit di Jambi awal tahun ini.
Meski harga pabrik menyentuh angka Rp 3.400, harga di tingkat pengepul atau RAM memiliki hitungan tersendiri karena adanya biaya operasional dan transportasi. Jufri membeberkan, mayoritas RAM di Batang Hari saat ini mematok harga beli di kisaran Rp 2.950 per kilogram.
Namun, angka ini tidak bersifat mutlak. Kualitas panen menjadi variabel penentu. Buah dengan tingkat kematangan sempurna dan rendemen tinggi tentu dihargai lebih baik dibandingkan buah yang kondisinya kurang prima.
"Mayoritas harga di RAM sekitar Rp 2.950, tapi itu kembali lagi tergantung kondisi buah yang dibawa petani," jelas Jufri.
Di tengah euforia kenaikan harga ini, terselip harapan akan stabilitas jangka panjang. Bagi para pelaku usaha sawit dan petani, lonjakan harga yang terlalu ekstrem seringkali dikhawatirkan karena berpotensi diikuti oleh kejatuhan harga yang tajam (price crash).
Stabilitas harga di level yang menguntungkan dinilai lebih krusial untuk menjaga keberlanjutan ekonomi petani daripada lonjakan sesaat.
"Kami berharap harga ini bisa stabil. Tidak perlu naik terlalu tinggi asalkan tidak turun terlalu jauh, agar perputaran ekonomi petani dan pengepul tetap terjaga," pungkas Jufri menutup pembicaraan.
Kenaikan ini menjadi sinyal optimisme bagi sektor agrobisnis Jambi di tahun 2026, sekaligus menjadi penyejuk setelah sebelumnya sempat beredar kabar penurunan harga di awal Januari.(*)