Jambi - Ada momen berbagi karya saat Gita Wirjawan mengisi kuliah umum di Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Jumat (30/10/2026) siang. Mantan Menteri Perdagangan itu menerima buku dari Rektor IAIN Kerinci Prof Jafar Ahmad. Gita juga menyerahkan buku yang ditulisnya sendiri.
Jafar memberikan buku tentang sejarah konflik politik Indonesia. Karya tersebut diterima langsung oleh Gita di sela kegiatan kuliah umum yang membahas pendidikan, peran guru, hingga pentingnya menumbuhkan ambisi pada anak.
Sementara itu, buku yang diserahkan Gita berjudul What It Takes: Asia Tenggara, Dari Tepi Menuju Inti Kesadaran Global. Judul lengkap dan nama penulisnya tercantum dalam katalog resmi Gramedia.
Dua karya itu membawa pembahasan yang berbeda. Jafar menulis tentang perjalanan konflik politik Indonesia. Gita mengajak pembaca melihat tantangan dan peluang Asia Tenggara untuk mengambil peran lebih besar di dunia.
Dalam repositori resmi IAIN Kerinci, Jafar tercatat menulis Sejarah Konflik Politik Indonesia bersama Awin Sutan Mudo. Buku yang terbit pada Juli 2021 itu membahas dinamika kekuasaan sejak Orde Lama hingga Reformasi.
Isinya menelusuri bagaimana kekuasaan diperebutkan, dipertahankan, hingga dijatuhkan. Pembahasannya juga menyentuh akar polarisasi keagamaan dalam politik serta perkembangan demokrasi Indonesia.
Adapun What It Takes mengulas posisi Asia Tenggara dalam perubahan dunia. Gita membahas sejumlah tantangan kawasan, mulai dari kesenjangan pendidikan, pendapatan per kapita, hingga keberlanjutan pembangunan.
Buku tersebut lahir dari dialog dengan cendekiawan, praktisi, dan berbagai tokoh dunia. Melalui karya itu, Gita mengajak pembaca memikirkan langkah yang diperlukan agar potensi Asia Tenggara dapat berkembang lebih jauh.
Pendidikan menjadi salah satu perhatian dalam buku tersebut. Dalam ulasan resmi Gramedia, penguatan kualitas sumber daya manusia ditempatkan sebagai fondasi jangka panjang bagi daya saing kawasan.
Tema itu sejalan dengan pembahasan Gita dalam kuliah umum di Jambi. Ia berbicara tentang posisi Indonesia dalam pendidikan dunia, pentingnya guru, serta bagaimana anak dapat memiliki ambisi dan membangun keberuntungan cerdas.
Gita sebelumnya juga menyampaikan gagasan serupa dalam sejumlah forum. Guru, dalam pandangannya, memiliki peran besar untuk membuka imajinasi anak tentang masa depan.
Saat memberikan kuliah umum di Gita menekankan pentingnya keteladanan pendidik.
“Ambisi dan imajinasi hanya bisa tumbuh jika ada guru yang berperan sebagai teladan. Maka investasi terbesar kita seharusnya ada pada guru,” kata Gita.
Dalam kesempatan tersebut, ia menghubungkan masa depan Indonesia dengan kemauan masyarakat untuk terus belajar dan menyerap pengetahuan. Pemerataan akses pendidikan juga menjadi bagian dari perhatian yang disampaikannya.
Sebagai gambaran pembanding mengenai pendidikan Indonesia, data Programme for International Student Assessment atau PISA 2025 yang dimuat OECD menunjukkan capaian pelajar Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara anggotanya.
Skor sains Indonesia tercatat 389, dibandingkan rata-rata OECD sebesar 482. Pada matematika, skor Indonesia mencapai 364, sedangkan rata-rata OECD 463. Sementara itu, skor membaca Indonesia sebesar 365, dibandingkan rata-rata OECD 461. Data tersebut menggambarkan kemampuan peserta didik berusia 15 tahun dalam bidang yang diuji.
Namun, ada modal yang menarik. Dalam data yang sama, sebanyak 84,6 persen pelajar Indonesia menyatakan menyukai belajar hal baru di sekolah. Proporsinya lebih tinggi dibandingkan rata-rata OECD sebesar 68,8 persen.
Lalu, apa yang dimaksud dengan keberuntungan cerdas?
Gita pernah menjelaskan gagasan tersebut ketika berbicara di Institut Teknologi dan Bisnis Asia Malang pada 11 September 2026. Ia menggunakan istilah smart serendipity, yakni peluang yang dibangun melalui ikhtiar dan tindakan yang tepat.
“Doa saja tidak cukup. Kita juga membutuhkan ikhtiar. Smart serendipity adalah ketika kita berdoa, tetapi kemudian melakukan ikhtiar yang benar,” ujar Gita.
Dalam forum itu, Gita mengaitkan kesiapan menghadapi persaingan global dengan ambisi, imajinasi, dan keberanian mengambil peluang. Guru dan institusi pendidikan, menurutnya, mempunyai peran penting untuk menumbuhkan kemampuan tersebut pada generasi muda.(*)