Badan Karantina Indonesia (Barantin) bersama Pemerintah Provinsi Jambi dan sejumlah pemangku kepentingan mengembangkan Kampung Pangan Terpadu di Kelurahan Buluran Kenali, Kota Jambi, Rabu (7/10).
Pengembangan kawasan tersebut ditandai dengan pencanangan agrowisata tanaman kacang koro serta penyerahan 50 kilogram benih kacang koro, 30.000 ekor benih ikan nila, dan 360 bibit pohon.
Program tersebut diarahkan untuk mengembangkan potensi pangan lokal sekaligus membuka peluang peningkatan ekonomi masyarakat.
Sekretaris Utama Badan Karantina Indonesia Shahandra Hanitiyo mengatakan, Kampung Pangan Terpadu tidak hanya ditujukan sebagai kawasan produksi, tetapi juga sebagai ruang edukasi dan pengembangan inovasi pangan.
“Hari ini kita tidak hanya mencanangkan sebuah kawasan, tetapi juga mencanangkan sebuah harapan untuk memperkuat ketahanan pangan, mengembangkan potensi daerah, dan meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujar Shahandra.
Benih ikan nila dalam kegiatan tersebut diperoleh melalui kerja sama dengan Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam. Sementara bibit pohon didukung Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Batanghari.
Seluruh bantuan telah melalui pemeriksaan dan pengujian laboratorium karantina serta dinyatakan bebas dari hama dan penyakit ikan maupun tumbuhan sehingga dapat dikembangkan di kawasan tersebut.
Shahandra mengatakan, konsep Kampung Pangan Terpadu menggabungkan berbagai unsur dalam satu kawasan, mulai dari tanaman, ikan, ternak, lingkungan, hingga keterlibatan masyarakat.
“Kami berharap kawasan ini dapat menjadi ruang produksi sekaligus edukasi dan inovasi pangan bagi masyarakat dan generasi muda,” katanya.
Pengembangan kacang koro menjadi salah satu bagian dari upaya memperkuat pemanfaatan komoditas pangan lokal.
Barantin juga menggandeng Pemerintah Provinsi Jambi, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), PAPTAKI, kelompok tani, serta sejumlah pihak lain untuk mengembangkan kawasan tersebut secara berkelanjutan.
Gubernur Jambi Al Haris mengapresiasi kolaborasi lintas sektor tersebut dan berharap kawasan pangan terpadu dapat mengoptimalkan potensi lokal sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Dukungan serupa disampaikan HKTI Jambi dan PAPTAKI, terutama dalam mendorong pengembangan kacang koro sebagai salah satu alternatif komoditas pangan lokal.
Pencanangan kawasan tersebut ditutup dengan penanaman bersama sebagai simbol komitmen untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian menuju Hari Karantina Indonesia ke-149 dan HUT ke-3 Badan Karantina Indonesia.
Melalui kolaborasi tersebut, Barantin mendorong agar fungsi perlindungan sumber daya hayati berjalan beriringan dengan pengembangan potensi ekonomi daerah.
Kampung Pangan Terpadu diharapkan tidak hanya menghasilkan komoditas pangan, tetapi juga berkembang menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat dan generasi muda mengenai produksi pangan, budidaya, lingkungan, serta pemanfaatan komoditas lokal secara berkelanjutan. (*)