Jambi — Kesempatan menunaikan ibadah umrah gratis kembali diberikan Hj Ernawati. Kali ini, giliran sejumlah datuk dari Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Jambi yang diterbangkan ke Tanah Suci.
Program tersebut bukan yang pertama. Sebelumnya, Ernawati telah memberangkatkan sejumlah pengurus lingkungan dari kawasan eks lokalisasi Payo Sigadung, Kota Jambi. Umrah gratis juga diberikan kepada ibu-ibu yang memenangi lomba selawat di Asrama Haji Kota Jambi.
Satu per satu penerima program itu mendapat kesempatan menginjakkan kaki di Makkah. Sebagian dari mereka merupakan tokoh masyarakat dan penggerak kegiatan sosial-keagamaan yang selama ini mengabdi di lingkungannya.
Ketua PW Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi Hj Ernawati mengatakan umrah gratis memang telah masuk dalam program sosial yang dijalankannya. Targetnya tidak kecil, yakni memberangkatkan sekitar 100 orang setiap tahun.
“Program umrah gratis sudah masuk dalam agenda perusahaan. Target kami sekitar 100 orang setiap tahun,” kata Ernawati.
Menurut Ernawati, penerima tidak dibatasi pada satu kelompok. Kesempatan dapat diberikan kepada pegawai syarak, marbot, tokoh adat, pengurus lingkungan, guru mengaji maupun masyarakat yang telah lama mengabdi.
“Penerimanya bisa berasal dari pegawai syarak dan masyarakat yang selama ini mengabdi,” ujarnya.
Datuk LAM Menjadi Tamu Allah
Keberangkatan para datuk LAM Jambi menjadi bagian terbaru program tersebut. Mereka tidak hanya diajak menunaikan rangkaian ibadah umrah, tetapi juga mengikuti ziarah dan perjalanan ke sejumlah tempat bersejarah di Makkah dan sekitarnya.
Keterlibatan tokoh adat memiliki makna tersendiri. Para datuk selama ini berada di garis depan dalam menjaga adat Melayu, mendamaikan persoalan masyarakat serta merawat hubungan antara adat dan agama.
Bagi Ernawati, memberikan kesempatan umrah kepada para tokoh adat merupakan bentuk penghormatan atas pengabdian yang telah mereka lakukan.
Ia menegaskan program itu tidak dimaksudkan untuk kepentingan politik. Menurutnya, pengabdian kepada masyarakat dapat dilakukan melalui kemampuan dan rezeki yang dimiliki, tanpa harus menduduki jabatan pemerintahan.
“Tidak semua bentuk pengabdian harus dilakukan dari kursi pemerintahan. Ketika berada di luar pemerintahan, kita justru lebih bebas membantu menggunakan dana sendiri,” kata Ernawati.
Guru Besar dan tokoh LAM Provinsi Jambi, Prof Bari Azed, menyambut baik kesempatan umrah yang diberikan kepada para datuk. Ia menilai perjalanan tersebut bukan hanya bernilai ibadah secara pribadi, tetapi juga memperkuat hubungan antartokoh adat Jambi.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Hj Ernawati yang telah memberikan kesempatan kepada para datuk LAM Jambi untuk melaksanakan umrah. Bagi kami, perjalanan ini menjadi ruang memperkuat persaudaraan dan membawa nilai-nilai kebaikan kembali ke tengah masyarakat Jambi,” kata Prof Bari Azed.
Menurut Bari, adat Melayu Jambi mempunyai hubungan yang kuat dengan nilai-nilai Islam. Hal itu tercermin dalam falsafah adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah.
Karena itu, perjalanan ke Tanah Suci diharapkan semakin menguatkan peran para datuk dalam merawat adat, membimbing masyarakat dan menjaga kehidupan sosial yang damai.
Pengurus RT Eks Lokalisasi Lebih Dulu Diberangkatkan
Sebelum para datuk LAM Jambi, program serupa telah menyentuh masyarakat di kawasan eks lokalisasi Payo Sigadung, Kota Jambi.
Di kawasan tersebut, Ernawati sebelumnya memberikan bantuan 1.000 sak semen untuk pembangunan masjid. Bantuan tidak berhenti pada material bangunan. Sejumlah warga yang dinilai berjasa dalam pembangunan dan pengembangan masjid juga diberangkatkan umrah secara gratis.
Penerima berjumlah empat orang. Di antara mereka terdapat perempuan yang memberikan tanah, ketua RT dan seorang ustaz yang terlibat dalam pembangunan masjid.
Bagi pengurus RT Payo Sigadung, kesempatan tersebut menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Sebab, perjalanan ke Tanah Suci sebelumnya hanya menjadi keinginan yang belum dapat diwujudkan dengan kemampuan sendiri.
“Kami tidak pernah membayangkan bisa berangkat umrah secara gratis. Selama ini kami hanya berusaha bersama masyarakat membangun dan menghidupkan masjid. Alhamdulillah, Ibu Hj Ernawati memberikan kesempatan kepada kami untuk menjadi tamu Allah,” ujar pengurus RT Payo Sigadung.
Ia berharap program tersebut terus berjalan dan menyentuh pengurus masjid serta masyarakat kecil lain yang telah lama mengabdi, tetapi belum mempunyai biaya untuk menunaikan umrah.
“Terima kasih kepada Ibu Hj Ernawati. Mudah-mudahan beliau dan keluarganya selalu diberi kesehatan, kelapangan rezeki dan kekuatan untuk terus membantu masyarakat,” katanya.
Pemenang Lomba Selawat Juga Dapat Umrah Gratis
Umrah gratis juga diberikan kepada ibu-ibu pemenang lomba selawat yang digelar di Asrama Haji Kota Jambi. Hadiah tersebut menjadi bentuk apresiasi kepada kelompok masyarakat yang ikut menghidupkan syiar Islam melalui selawat.
Program ini memperlihatkan pola penerima yang cukup beragam. Ada tokoh adat, pengurus lingkungan, warga yang berkontribusi dalam pembangunan masjid hingga kelompok perempuan penggerak kegiatan keagamaan.
Ernawati mengatakan bantuan untuk umat berasal dari porsi sosial hasil usaha yang telah dialokasikan secara khusus. Dana tersebut tidak lagi dianggap sebagai uang pribadi, melainkan amanah yang harus disampaikan kepada mereka yang berhak.
“Dana yang telah dialokasikan untuk umat tidak lagi saya anggap sebagai uang pribadi. Saya hanya mempunyai tugas menyalurkannya kepada orang yang berhak,” tuturnya.
Ia berharap penerima umrah gratis benar-benar berasal dari kalangan yang layak, mempunyai rekam pengabdian dan belum mampu berangkat menggunakan biaya sendiri.
Target 100 Orang Setahun
Jika target 100 orang setiap tahun direalisasikan, maka masih terbuka peluang bagi banyak kelompok masyarakat untuk menyusul para datuk LAM, pengurus RT Payo Sigadung dan pemenang lomba selawat.
Namun, pelaksanaan program memerlukan kriteria dan mekanisme seleksi yang jelas. Pendataan penting agar penerimanya tepat sasaran serta tidak hanya berputar pada tokoh atau kelompok tertentu.
Calon penerima dapat diprioritaskan dari kalangan marbot, guru mengaji, pegawai syarak, pengurus jenazah, penjaga makam, pengasuh anak yatim, guru honorer, masyarakat dhuafa dan tokoh sosial.
Ernawati mengatakan kegiatan sosial telah menjadi bagian dari program hidupnya. Ia ingin menggunakan kesempatan dan rezeki yang dimiliki untuk memberikan manfaat sebelum hidup berakhir.
“Selagi masih hidup, gunakan kesempatan untuk berbuat baik. Setelah meninggal, kita tidak lagi mempunyai kesempatan melakukan apa-apa,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa balasan sedekah tidak selalu datang dalam bentuk uang. Balasan dapat berupa kesehatan, keselamatan atau terhindar dari musibah.
“Sedekah tidak harus kembali dalam bentuk uang. Allah dapat membalasnya dengan menjaga kesehatan, menjauhkan musibah atau menghindarkan kita dari pengeluaran besar,” ujarnya.
Kini, para datuk LAM Jambi telah merasakan perjalanan menjadi tamu Allah melalui program tersebut. Pengurus RT Payo Sigadung dan pemenang lomba selawat juga telah memperoleh kesempatan serupa.
Lantas, siapa lagi yang bakal mendapatkan tiket umrah gratis dari Bu Hajjah?
Jawabannya akan bergantung pada proses pendataan dan seleksi berikutnya. Yang pasti, masih banyak marbot, guru mengaji, pegawai syarak dan penggerak sosial di pelosok Jambi yang selama bertahun-tahun mengabdi dalam diam—seraya menyimpan satu doa, suatu hari dapat melihat Ka’bah dengan mata kepala sendiri.(*)