Dedy Putra-Hj Ernawati Gagas Penerbangan Bungo-Batam, Kursi Siap Diserap Jemaah Umrah

WIB
ist

Bungo - Pertemuan Bupati Bungo H Dedy Putra, SH, M.Kn dengan Ketua Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi Hj Ernawati di sela pelantikan pengurus ISMI Kabupaten Bungo, Sabtu (29/8/2026), tak berhenti pada seremoni.

Ada satu gagasan strategis yang ikut dibicarakan. Yakni membuka penerbangan langsung Bungo-Batam.

Gagasan tersebut muncul dalam pembicaraan Dedy Putra dan Ernawati selama lawatan Ketua ISMI Jambi di Bungo. Dedy melihat Bandara Muara Bungo membutuhkan tambahan konektivitas untuk memperkuat posisinya sebagai pintu udara wilayah barat Provinsi Jambi.

Ernawati langsung menyambut.

Bahkan dukungannya tak sekadar pernyataan.

Owner PT Bintang Global Grup itu menyatakan siap membantu membentuk pasar rute tersebut melalui jaringan travel dan jemaah umrah yang bekerja sama dengannya. Skema yang ditawarkan cukup berani, hingga separuh kapasitas kursi penerbangan siap diserap melalui jaringan Bintang Global.

Artinya, jika kerja sama komersial dengan maskapai nantinya terealisasi, Ernawati siap membangun skema pemesanan separuh kursi sebagai jaminan pasar.

"Kalau memang rute Bungo-Batam ini dibuka, saya siap support. Kita punya jaringan travel dan jemaah umrah yang cukup besar. Separuh kursinya insyaallah bisa kita support. Jadi jangan hanya bicara membuka rute, kita juga ikut memikirkan siapa yang akan mengisi pesawatnya," kata Ernawati.

Dedy Putra: Bu Ernawati, Bantu Kami Buka Bungo-Batam

Pembicaraan itu bermula ketika Dedy melihat peluang memperluas jaringan penerbangan dari Bandara Muara Bungo.

Bandara tersebut sedang berada dalam momentum positif.

Sejak 15 Juni 2026, Batik Air telah mengoperasikan penerbangan langsung Jakarta-Muara Bungo setiap hari menggunakan Airbus A320. Pembukaan rute tersebut bahkan didukung Kerinci dan Sungai Penuh karena Bandara Muara Bungo dipandang strategis melayani kawasan Jambi bagian barat dan wilayah tetangga.

Kini, menurut Dedy, pintu berikutnya bisa diarahkan ke Batam.

Batam bukan hanya pusat industri dan perdagangan.

Bandara Hang Nadim juga mempunyai posisi strategis sebagai hub penerbangan, termasuk keberangkatan langsung menuju Jeddah untuk jemaah umrah.

Karena itu Dedy secara khusus mengajak Ernawati masuk dalam upaya membuka pasar.

"Saya sampaikan kepada Ibu Ernawati, kami ingin akses Bungo ini semakin terbuka. Salah satu yang sangat potensial adalah Bungo-Batam. Ibu punya jaringan yang luas, khususnya jemaah umrah dan travel. Kami berharap Ibu bisa membantu, mensupport dan berkolaborasi agar rute ini bisa kita perjuangkan bersama," kata Dedy.

Menurut Dedy, membuka rute baru tidak cukup hanya dengan keinginan pemerintah daerah.

Maskapai akan melihat pasar.

Berapa penumpangnya.

Siapa pengguna rutinnya.

Seberapa kuat load factor-nya.

Dan apakah rute tersebut secara bisnis dapat dipertahankan.

Di sinilah jejaring Ernawati dianggap menarik.

"Kalau pemerintah membangun akses kemudian ada pelaku usaha yang siap membantu membentuk pasarnya, ini tentu menjadi kekuatan. Kita ingin penerbangan itu kalau nanti dibuka bukan hanya terbang beberapa kali lalu berhenti. Harus kita jaga keberlanjutannya," ujar Dedy.

Ernawati Jawab: Separuh Kursi Saya Support

Tawaran Dedy langsung mendapat respons Ernawati.

Ia mengatakan siap masuk lebih jauh daripada sekadar membantu promosi.

Ernawati menawarkan dukungan pasar dari ekosistem bisnis umrah Bintang Global Grup.

"Pak Bupati bilang, 'Bu, bantu kami untuk Bungo-Batam.' Saya bilang siap. Kalau ini serius kita dorong dan maskapainya siap, saya juga serius untuk membantu pasarnya," kata Ernawati.

Menurutnya, salah satu persoalan pembukaan rute baru memang terletak pada kepastian jumlah penumpang.

Karena itu ia menawarkan skema dukungan untuk menyerap sekitar 50 persen kapasitas kursi melalui jemaah dan jaringan travel.

"Kalau separuh kursi pesawat itu menjadi persoalan, insyaallah separuhnya kita support. Travel yang bekerja sama dengan kita, jemaah-jemaah kita, bisa kita arahkan berangkat melalui Bungo menuju Batam. Kalau memang dalam skema kerja samanya ada kursi yang menjadi komitmen kita, itu menjadi tanggung jawab kita," ujarnya.

Dalam pengertian komersial, tawaran tersebut berarti Bintang Global siap membangun skema blok kursi atau pemesanan kapasitas tertentu. Detail akhirnya tentu masih bergantung pada kesepakatan dengan maskapai, jadwal, jenis pesawat, tarif dan perizinan rute.

Bukan Pasar Kosong, Ada Jemaah Umrah

Mengapa Ernawati berani bicara soal separuh kursi?

Jawabannya berada pada bisnis yang sekarang ia tekuni.

Bintang Global Grup membangun ekosistem layanan haji dan umrah. Layanan perusahaan mencakup tiket penerbangan, hotel Makkah dan Madinah, katering, visa, transportasi, handling jemaah hingga land arrangement di Arab Saudi. Perusahaan juga melayani tiket direct maupun charter untuk grup jemaah.

Di Makkah, bisnis katering grup tersebut juga telah berkembang dalam skala besar. Pada Agustus 2026, fasilitas katering Bintang Global disebut memproduksi sekitar 9.000 porsi sehari untuk sekitar 3.000 jemaah umrah.

Artinya, pasar yang dibicarakan Ernawati bukan sekadar penumpang umum.

Ada ekosistem jemaah.

Ada travel mitra.

Ada tiket.

Ada hotel.

Ada katering.

Ada handling di Tanah Suci.

Dan yang menjadi kunci bagi gagasan Bungo-Batam adalah satu fakta lain, Batam kini mempunyai penerbangan langsung ke Jeddah.

Batam-Jeddah Sudah Terbang Langsung

Lion Air sejak 25 Juni 2026 kembali melayani penerbangan umrah langsung Batam-Jeddah dengan nomor penerbangan JT-082.

Pesawat yang digunakan Airbus A330 dengan kapasitas hingga 436 kursi ekonomi. Lion Air secara khusus menyebut layanan tersebut juga ditujukan untuk mengakomodasi jemaah asal Provinsi Jambi, selain Kepulauan Riau, Riau dan Bangka Belitung.

Bagi Ernawati, di sinilah mata rantai Bungo-Batam menjadi menarik.

Jemaah dari Bungo dan kawasan sekitarnya tidak harus lebih dulu bergerak jauh ke bandara lain sebelum mencapai Batam.

Mereka cukup masuk melalui Bandara Muara Bungo.

Terbang ke Batam.

Kemudian melanjutkan penerbangan menuju Jeddah.

"Batam itu bukan tujuan akhirnya. Batam bisa menjadi pintu menuju Jeddah. Jadi ketika kita bicara Bungo-Batam, jangan hanya menghitung penumpang yang mau pergi ke Batam. Kita harus hitung juga jemaah umrah yang akan lanjut ke Saudi," kata Ernawati.

Bidik Pasar Jambi Barat

Pasar yang dibidik pun tidak hanya masyarakat Kabupaten Bungo.

Bandara Muara Bungo memiliki posisi geografis yang bisa menjangkau kawasan cukup luas.

Ada Bungo.

Tebo.

Merangin.

Sebagian wilayah Jambi barat.

Kemudian ada daerah tetangga di luar Provinsi Jambi.

Salah satunya Dharmasraya, Sumatera Barat, maupun Riau.

Bahkan ketika penerbangan perdana Batik Air Jakarta-Muara Bungo dibuka Juni lalu, Wakil Bupati Dharmasraya ikut hadir bersama kepala daerah dari Tebo dan Merangin. Kehadiran mereka memperlihatkan fungsi Bandara Muara Bungo sebagai bandara kawasan, bukan semata-mata milik pasar Bungo.

Ernawati juga melihat potensi jemaah dari kawasan Lubuklinggau dan sekitarnya di Sumatera Selatan, sepanjang akses darat menuju Bungo dinilai kompetitif dibandingkan pilihan bandara lainnya.

"Pasarnya jangan dibaca hanya penduduk Bungo. Ada Tebo, Merangin, Dharmasraya dan daerah-daerah yang aksesnya memungkinkan menuju Bungo. Termasuk jemaah dari kawasan lain di barat Jambi dan perbatasan Sumatera Selatan," katanya.

Dari Rumah ke Jeddah Bisa Lebih Sederhana

Untuk bisnis umrah, persoalan akses feeder mempunyai pengaruh besar.

Sebelum naik pesawat menuju Arab Saudi, jemaah dari daerah masih harus bergerak menuju embarkasi atau bandara keberangkatan internasional.

Perjalanan darat yang terlalu panjang menambah kelelahan.

Apalagi sebagian peserta umrah merupakan warga lanjut usia.

Dengan adanya Bungo-Batam, pola perjalanan yang dibayangkan menjadi, Bungo → Batam → Jeddah.

Jika jadwal feeder dan penerbangan internasional dapat disinkronkan, waktu tunggu juga bisa ditekan.

"Jemaah kita banyak orang tua. Kalau bisa naik pesawat dari dekat rumah, sampai Batam kemudian lanjut Jeddah, tentu jauh lebih nyaman. Travel juga lebih mudah mengatur grupnya," ujar Ernawati.

Menurutnya, Bintang Global bisa mengarahkan mitra travel yang mempunyai basis jemaah di wilayah tersebut menggunakan Bungo sebagai titik keberangkatan.

"Ini yang saya maksud pasar riil. Travel tidak perlu membawa jemaah jauh-jauh kalau dari Bungo sudah ada akses ke Batam," katanya.

Efeknya Tak Hanya untuk Umrah

Dedy Putra melihat manfaat Bungo-Batam jauh lebih luas.

Umrah bisa menjadi anchor market atau pasar dasar.

Namun ketika rute sudah hidup, penumpangnya bisa berasal dari banyak segmen.

Pebisnis.

Pekerja.

Mahasiswa.

Wisatawan.

Pegawai pemerintah.

Pedagang.

Hingga masyarakat yang memiliki urusan keluarga di Kepulauan Riau.

Batam merupakan salah satu pusat industri dan perdagangan terbesar di wilayah barat Indonesia.

Karena itu konektivitas langsung berpotensi membuka arus dua arah.

Orang Bungo lebih mudah menuju Batam.

Sebaliknya, masyarakat dan pelaku usaha dari Batam semakin mudah menjangkau wilayah barat Jambi.

"Kita bicara efek ekonominya. Penerbangan itu bukan hanya memindahkan orang. Ketika akses terbuka, perdagangan bergerak, investasi lebih mudah masuk, pariwisata bisa tumbuh dan hubungan antardaerah semakin kuat," kata Dedy.

Pengalaman rute Jakarta-Bungo memperlihatkan logika serupa. Pemkab Bungo menyebut penerbangan tersebut membuka konektivitas ke lebih dari 30 kota melalui jaringan penerbangan lanjutan, sementara pemerintah daerah melihat dampaknya pada perdagangan, perkebunan, investasi dan pariwisata.

Batam Juga Sudah Terhubung dengan Kota Jambi

Potensi konektivitas Batam-Jambi juga bukan sesuatu yang baru dibangun dari nol.

Pada Januari 2026, Bandara Hang Nadim membuka rute Batam-Jambi-Batam untuk memperkuat konektivitas bisnis, pariwisata dan perjalanan masyarakat.

Bagi Dedy dan Ernawati, Bungo dapat menjadi simpul berikutnya.

Jika Kota Jambi memiliki jalurnya sendiri ke Batam, Jambi bagian barat dapat dilayani melalui Muara Bungo.

Maka peta konektivitas Provinsi Jambi menjadi lebih lebar.

Di timur ada Bandara Sultan Thaha.

Di barat ada Bandara Muara Bungo.

Di kawasan Kerinci ada Bandara Depati Parbo.

Ernawati justru ingin ketiganya saling menguatkan, bukan saling berebut penumpang.

Ernawati Juga Siap Support Kerinci

Gagasan serupa sebelumnya sudah dibicarakan Ernawati saat bertemu Bupati Kerinci Monadi.

Ketika melantik pengurus ISMI Kerinci dan Sungai Penuh, ia menyatakan kesiapannya membantu penguatan penerbangan melalui Bandara Depati Parbo.

Ernawati mendukung jika penerbangan Kerinci-Jambi diperkuat atau ditambah.

Bahkan bila secara teknis dan komersial memungkinkan muncul penerbangan Kerinci-Batam, ia juga siap membantu membentuk pasarnya.

Alternatif lainnya adalah membangun jaringan, Kerinci-Bungo-Batam.

"Kerinci juga saya sampaikan hal yang sama. Kalau pemerintah daerah ingin membuka akses penerbangan, kita bantu pasarnya. Kerinci-Jambi kita support. Kalau memungkinkan Kerinci-Batam, kita support. Kalau modelnya Kerinci-Bungo kemudian Batam juga bisa kita kaji bersama," kata Ernawati.

Kerinci, Bungo dan Sungai Penuh sendiri sudah mempunyai jejak kolaborasi penerbangan. Pada Mei 2026, ketiga pemerintah daerah menandatangani komitmen bersama mendukung operasional penerbangan Batik Air dari Bandara Muara Bungo. Bupati Kerinci Monadi ketika itu menilai konektivitas udara dapat menggerakkan pariwisata, UMKM, investasi dan ekonomi masyarakat.

"Kalau Separuh Kursinya Kosong, Kita Tanggung"

Ernawati kemudian memperjelas bentuk dukungannya.

Menurut dia, jika sebuah maskapai membutuhkan kepastian pasar dalam tahap awal rute dan skema kerja samanya disepakati, Bintang Global bersedia mengambil komitmen terhadap separuh kapasitas.

"Bahasa sederhananya begini, kalau kita sudah sepakat separuh kursi menjadi bagian yang saya support, maka bagian itu tanggung jawab saya. Kalau terisi oleh jemaah kita, alhamdulillah. Kalau dalam komitmen itu ada yang kosong, ya kita yang tanggung sesuai perjanjiannya," kata Ernawati.

Namun skema tersebut, menurutnya, harus dihitung secara profesional.

Berapa frekuensi penerbangan.

Hari apa.

Jam berapa tiba di Batam.

Apakah terkoneksi dengan Batam-Jeddah.

Jenis pesawat.

Berapa kapasitas.

Harga tiket.

Dan berapa jumlah travel yang siap ikut mengisi.

"Jangan hanya semangat membuka rute. Jadwalnya harus benar. Kalau targetnya jemaah umrah, feeder Bungo-Batam harus cocok dengan jadwal keberangkatan Batam-Jeddah. Kalau penumpang harus menginap terlalu lama di Batam, biaya travel bertambah," ujarnya.

Inilah bagian yang membuat gagasan tersebut masuk ke ranah bisnis, bukan hanya wacana.

ISMI Bisa Jadi Jembatan

Posisi Ernawati dalam pembicaraan tersebut juga unik.

Ia hadir di Bungo sebagai Ketua ISMI Provinsi Jambi.

Tetapi pada saat yang sama ia merupakan pelaku bisnis yang mempunyai kepentingan riil pada konektivitas penerbangan umrah.

Menurut Ernawati, keduanya tidak perlu dipertentangkan selama orientasinya jelas dan kerja sama dilakukan secara transparan.

ISMI dapat menjadi jembatan gagasan dan jaringan.

Dunia usaha membawa pasar.

Pemerintah daerah membuka komunikasi dan dukungan kebijakan.

Maskapai kemudian menghitung kelayakan komersialnya.

"ISMI jangan hanya seminar. Kalau jaringan yang dimiliki anggota bisa membantu membuka akses daerah, memperkuat ekonomi dan mempermudah masyarakat, ya kita hubungkan," katanya.

Dedy menyambut pendekatan tersebut.

Menurutnya, pemerintah justru membutuhkan kolaborator yang tidak hanya membawa ide, tetapi ikut membawa solusi.

"Kalau Ibu Ernawati mengatakan siap ikut mengisi pasar, ini menarik. Tinggal nanti kita dudukkan lebih teknis bersama pihak terkait dan maskapai. Pemerintah akan mendorong sepanjang memenuhi aturan dan secara bisnis memungkinkan," kata Dedy.(*)

BeritaSatu Network