Bungo - Lawatan Ketua Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi Hj Ernawati, S.Ag., M.Pd. di Kabupaten Bungo berlanjut ke dunia kampus.
Setelah pagi hari mengunjungi sekolah alam yang dikelola Yayasan Ya Bunayya Bungo, Ernawati melanjutkan perjalanan ke Universitas Islam Yasni (UI Yasni) Bungo, Sabtu (29/8/2026).
Kedatangannya disambut mahasiswa, jajaran rektorat dan para dosen.
Suasananya hangat.
Ernawati tak langsung masuk ke ruang pertemuan. Ia terlebih dahulu diajak berkeliling melihat lingkungan dan sejumlah fasilitas kampus. Dari satu titik ke titik lain, ia berdialog dengan pimpinan universitas sembari mendapat penjelasan mengenai perkembangan UI Yasni Bungo.
Kampus ini memang sedang memasuki fase baru. UI Yasni Bungo baru bertransformasi dari Institut Agama Islam Yasni Bungo menjadi universitas pada 2026. Rektor saat ini adalah Dr. Muhammad Solihin, M.Pd.I., yang resmi memimpin UI Yasni Bungo periode 2026-2030.
Setelah berkeliling, rombongan bergerak ke aula.
Di sinilah agenda berubah menjadi lebih serius.
Mahasiswa duduk bersama. Dosen dan pimpinan universitas ikut bergabung.
Sebuah dialog interaktif digelar dengan tema “Penguatan Kapasitas Kewirausahaan dalam Membangun Bisnis yang Inovatif dan Berkelanjutan.”
Ernawati tampil sebagai salah satu pembicara.
Ia tidak datang membawa teori bisnis dari buku.
Yang dibawa justru perjalanan hidup.
Pengalaman jatuh-bangun.
Keberanian mengambil keputusan.
Dan bagaimana sebuah usaha dibangun perlahan hingga berkembang.
Idham: Dulu Saya Bos Hj Ernawati, Sekarang Saya Anak Buah Beliau
Ada momen yang membuat suasana aula mencair.
Ketua yayasan, Idham Khalid, yang ikut mendampingi Ernawati sejak agenda sebelumnya, mengambil kesempatan untuk memperkenalkan tamunya kepada mahasiswa.
Ia membuka dengan kalimat yang mengundang perhatian.
"Dulu saya bos Hj Ernawati. Sekarang saya anak buah beliau."
Mahasiswa langsung menyimak.
Kalimat itu bukan sekadar seloroh.
Idham kemudian bercerita mengenai perjalanan Ernawati yang kini dikenal sebagai pengusaha sekaligus Ketua ISMI Provinsi Jambi.
Di hadapan mahasiswa, Idham memperkenalkan Ernawati sebagai figur yang membangun usaha hingga memiliki aktivitas bisnis di Arab Saudi.
Ia menyebut Ernawati memiliki pengalaman dalam manajemen hotel di Makkah, usaha katering dan sejumlah bidang bisnis lainnya.
Cerita itu sengaja disampaikan bukan untuk memamerkan capaian.
Idham menjadikannya sebagai pintu masuk untuk menunjukkan kepada mahasiswa bahwa perjalanan seseorang dapat berubah.
Orang yang dahulu berada dalam satu posisi bisa bertumbuh dan suatu hari justru memimpin.
Yang menentukan, kata dia, adalah proses.
Ernawati: Saya Juga Memulai dari Proses
Ketika mendapat giliran berbicara, Ernawati memilih tidak terlalu lama menjelaskan definisi kewirausahaan.
Ia langsung berbicara mengenai pengalaman.
Menurutnya, kesalahan terbesar anak muda ketika melihat seorang pengusaha yang telah berhasil adalah hanya melihat posisi akhirnya.
Mobilnya.
Usahanya.
Jaringannya.
Atau omzetnya.
Mereka tidak melihat tahun-tahun panjang sebelum itu.
"Saya ingin adik-adik mahasiswa jangan melihat seseorang hanya ketika dia sudah berada pada posisi hari ini. Semua orang punya proses. Ada masa kita memulai, ada masa kita susah, ada masa gagal, ada masa harus mengambil keputusan yang sangat berat. Justru proses itulah yang membentuk kita," kata Ernawati.
[Kutipan Ernawati dirumuskan dari substansi materi yang Anda berikan dan perlu dikonfirmasi sebelum dipasang sebagai kutipan verbatim.]
Ia meminta mahasiswa membuang pemikiran bahwa untuk menjadi pengusaha harus menunggu mempunyai modal besar.
Modal, menurut Ernawati, memang penting.
Namun modal bukan segalanya.
Ada sesuatu yang menurutnya lebih dahulu harus dimiliki.
Keberanian memulai.
"Lima puluh juta rupiah tidak akan menjadi bisnis kalau hanya disimpan. Tetapi ide kecil yang dikerjakan serius bisa berkembang. Jadi jangan terlalu lama menunggu semuanya sempurna. Mulai dari kemampuan yang kita punya, dari lingkungan kita dan dari persoalan yang bisa kita selesaikan," ujarnya.
Bisnis Harus Menjawab Masalah
Ernawati kemudian membedah cara sederhana membaca peluang bisnis.
Menurutnya, entrepreneur bukan sekadar orang yang pandai menjual barang.
Pengusaha harus mampu melihat masalah sebagai peluang menciptakan solusi.
Ketika orang membutuhkan makanan, lahirlah bisnis kuliner.
Ketika orang membutuhkan tempat menginap, ada industri perhotelan.
Ketika jemaah membutuhkan pelayanan selama berada di Tanah Suci, terbuka pula berbagai peluang bisnis jasa.
Pola pikir seperti itulah yang diminta Ernawati dibangun mahasiswa.
"Jangan setiap melihat masalah kita ikut mengeluh. Coba ubah cara berpikir. Tanyakan, apa solusi yang bisa kita buat dari masalah ini? Banyak bisnis besar justru lahir karena seseorang menemukan persoalan kemudian menyediakan solusinya," katanya.
Bagi mahasiswa, laboratorium bisnis sebenarnya sangat dekat.
Kampus.
Teman.
Lingkungan tempat tinggal.
Media sosial.
UMKM.
Semuanya bisa menjadi tempat membaca kebutuhan pasar.
Cerita Membangun Bisnis di Makkah
Pembicaraan kemudian masuk ke pengalaman Ernawati menjalankan usaha di Arab Saudi.
Ia menceritakan bagaimana bisnis di lingkungan yang berbeda menuntut kemampuan beradaptasi.
Bahasanya berbeda.
Kebiasaan konsumennya berbeda.
Regulasinya berbeda.
Cara berkomunikasi juga tidak selalu sama.
Karena itu, menurut Ernawati, menjalankan bisnis di luar negeri mengajarkan satu hal penting: seorang pengusaha tidak boleh berhenti belajar.
"Kalau kita masuk ke tempat baru dengan merasa paling tahu, kita akan sulit berkembang. Kita harus belajar pasar, belajar budaya, belajar bagaimana konsumen berpikir dan belajar membangun kepercayaan," kata Ernawati.
Ia menyebut pengalaman mengelola bisnis yang berkaitan dengan hotel dan katering di Makkah membuatnya semakin memahami arti pelayanan.
Dalam bisnis jasa, pelanggan tidak hanya membeli produk.
Mereka membeli pengalaman.
Mereka mengingat bagaimana diperlakukan.
"Kita bisa punya produk bagus, tetapi kalau pelayanan buruk, orang tidak kembali. Bisnis itu bukan sekadar transaksi. Kita sedang membangun kepercayaan," ujarnya.
Jangan Takut Mulai Kecil
Di depan mahasiswa, Ernawati juga menyinggung fenomena anak muda yang ingin langsung memiliki usaha besar.
Ia meminta mahasiswa tidak terjebak dengan tampilan kesuksesan di media sosial.
Sebab, menurutnya, yang terlihat di layar sering kali hanya hasil akhirnya.
"Jangan malu kalau hari ini usahanya masih kecil. Jangan malu jualan. Jangan malu memulai dari rumah. Semua yang besar pernah kecil," katanya.
Ia kemudian meminta mahasiswa fokus memperbesar kapasitas diri.
Belajar komunikasi.
Belajar membaca laporan keuangan.
Belajar pemasaran digital.
Belajar membangun jaringan.
Dan yang paling penting: belajar disiplin.
Sebab ide yang bagus tanpa eksekusi, menurutnya, hanya akan tinggal sebagai wacana.
Bisnis Jangan Mati Ketika Pemiliknya Tidak Ada
Tema diskusi hari itu tidak hanya bicara memulai bisnis.
Ada satu kata penting lainnya:
berkelanjutan.
Ernawati mengatakan banyak usaha mampu lahir, tetapi tidak semuanya mampu bertahan.
Penyebabnya beragam.
Salah satunya karena bisnis terlalu bergantung kepada pemilik.
Semua keputusan ditangani satu orang.
Keuangan tidak tercatat.
Tidak ada standar kerja.
Tidak ada kaderisasi.
Tidak ada sistem.
Ketika pemilik tidak berada di tempat, usaha ikut berhenti.
"Kalau kita ingin bisnis bertahan, bangun sistem. Jangan semua bergantung kepada kita. Bisnis yang baik itu tetap berjalan karena ada manajemen, ada orang yang dipercaya, ada standar kerja dan ada kontrol," kata Ernawati.
Pernyataan itu relevan dengan pengalaman yang diperkenalkan Idham sebelumnya mengenai bisnis Ernawati.
Ketika usaha berkembang pada beberapa bidang, kemampuan membangun manajemen menjadi semakin menentukan.
Mahasiswa Harus Mulai Sebelum Wisuda
Ernawati kemudian melempar tantangan kepada mahasiswa.
Jangan tunggu toga.
Jangan menunggu ijazah berada di tangan.
Masa kuliah justru waktu yang baik untuk mulai mencoba.
Risikonya relatif masih bisa dikelola.
Lingkungan pertemanannya luas.
Mahasiswa juga memiliki akses terhadap dosen dan berbagai pengetahuan.
"Saya berharap ada mahasiswa UI Yasni yang sebelum wisuda sudah punya usaha. Tidak harus besar. Mulai saja. Kalau gagal sekali, belajar. Gagal dua kali, evaluasi. Jangan baru satu kali jatuh kemudian mengatakan dunia bisnis bukan untuk saya," ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar kewirausahaan tidak dipahami sebagai jalan cepat menjadi kaya.
Bisnis membutuhkan ketekunan.
Ada masa untung.
Ada masa rugi.
Ada konsumen yang puas.
Ada komplain yang harus dihadapi.
Ada keputusan yang salah.
Semua merupakan bagian dari pembelajaran.
Ernawati: Integritas Modal yang Tak Bisa Dibeli
Ada satu hal yang berulang kali ditekankan Ernawati.
Kepercayaan.
Menurutnya, uang dapat dicari.
Keahlian dapat dipelajari.
Tetapi ketika reputasi rusak, membangunnya kembali jauh lebih sulit.
Karena itu mahasiswa yang ingin menjadi pengusaha diminta sejak dini menjaga integritas.
"Jangan bohong kepada pelanggan. Jangan mengambil sesuatu yang bukan hak kita. Kalau salah, akui. Kalau janji, usahakan tepati. Bisnis bisa bertahan panjang karena orang percaya kepada kita," katanya.
Sebagai pimpinan organisasi sarjana, Ernawati juga mengaitkannya dengan kualitas sumber daya manusia.
Sarjana, menurut dia, tidak cukup hanya cerdas.
Harus ada karakter.
Ia ingin kampus menghasilkan generasi yang mampu menciptakan pekerjaan, bukan semata-mata berlomba mencari pekerjaan.
Solihin: Mahasiswa Harus Adaptif dan Berani Menciptakan Peluang
Rektor UI Yasni Bungo Dr. Muhammad Solihin, M.Pd.I. menyambut positif dialog tersebut.
Menurut Solihin, materi kewirausahaan menjadi relevan dengan kebutuhan mahasiswa menghadapi perubahan dunia kerja.
UI Yasni Bungo sendiri sedang mendorong kampus agar semakin adaptif, inovatif dan membangun koneksi dengan dunia usaha serta industri. Pada Agustus 2026, universitas ini juga menandatangani kerja sama dengan FIFGROUP untuk memperluas pengembangan kompetensi dan peluang karier mahasiswa.
"Kami sangat mengapresiasi kehadiran Ibu Hj Ernawati. Mahasiswa bisa mendengar langsung pengalaman seorang pelaku usaha. Ini berbeda dengan hanya membaca teori, karena mereka mendapatkan gambaran mengenai proses, tantangan, keberanian mengambil risiko dan bagaimana membangun bisnis sampai bisa bertahan," kata Solihin.
Solihin berharap pertemuan tersebut mampu mengubah cara pandang mahasiswa.
Lulusan perguruan tinggi, katanya, tidak boleh hanya memiliki satu orientasi: mendapatkan pekerjaan.
Mereka juga harus mampu menciptakan peluang.
"Kita ingin mahasiswa mempunyai mindset yang adaptif. Kalau peluang kerja tersedia, mereka harus kompeten untuk masuk. Tetapi pada saat yang sama mereka juga harus mempunyai keberanian menciptakan usaha dan membuka lapangan kerja bagi orang lain," ujarnya.
Menurut Solihin, kemampuan kewirausahaan semakin relevan di tengah perubahan teknologi.
Sebuah bisnis kini bahkan dapat lahir hanya dengan telepon genggam.
Pasarnya tidak lagi dibatasi wilayah administratif.
Produk dari Bungo bisa dipasarkan ke Jambi.
Ke Jakarta.
Bahkan ke luar negeri.
Namun kesempatan itu membutuhkan kreativitas dan kemampuan membaca pasar.
Rektor: Ini Pembelajaran yang Tidak Selalu Ada di Buku
Solihin menilai pengalaman hidup pelaku usaha mempunyai nilai tersendiri untuk mahasiswa.
Di ruang kelas mereka mempelajari konsep.
Tetapi ketika berhadapan dengan praktisi, mahasiswa bisa mengetahui bagaimana teori menghadapi realitas.
"Pengalaman itu mahal. Karena itu ketika ada pelaku usaha yang bersedia berbagi perjalanan hidupnya, mahasiswa harus mengambil sebanyak mungkin pelajaran. Tidak semua hal yang terjadi di dunia usaha bisa ditemukan secara utuh dalam buku teks," kata Solihin.
Ia berharap dialog dengan Ernawati bukan menjadi pertemuan terakhir.
Kolaborasi antara kampus, dunia usaha dan organisasi profesi perlu diperkuat.
Kampus dan ISMI Bertemu di Satu Titik
Pertemuan di UI Yasni juga mempertemukan dua dunia.
Kampus memiliki pengetahuan akademik.
Dunia usaha mempunyai pengalaman praktik.
ISMI memiliki jaringan sarjana dengan disiplin ilmu yang beragam.
Ketiganya dapat bertemu dalam satu ekosistem.
Ernawati mengatakan ISMI Provinsi Jambi ingin mendorong semakin banyak kolaborasi dengan perguruan tinggi.
Menurutnya, organisasi sarjana mempunyai kewajiban mendekati kampus dan generasi muda.
"ISMI tidak boleh hanya menjadi tempat berkumpul orang yang sudah menjadi sarjana. Kita juga harus dekat dengan calon-calon sarjana. Mahasiswa inilah yang nanti meneruskan pembangunan," katanya.
Dari Sekolah Alam ke Kampus
Lawatan Ernawati di Bungo Sabtu pagi itu akhirnya memperlihatkan benang merah yang menarik.
Pagi hari ia berada di Sekolah Alam Ya Bunayya, bertemu anak-anak yang sebagian masih duduk di bangku sekolah dasar.
Beberapa waktu kemudian, ia sudah berada di UI Yasni Bungo.
Kali ini yang duduk di depannya adalah mahasiswa.
Jenjangnya berbeda.
Pesannya pun berbeda.
Kepada anak-anak, bicara mengenai belajar dan cita-cita.
Kepada mahasiswa, pembicaraan bergerak lebih jauh: keberanian membangun masa depan.
Di aula UI Yasni, pengalaman bisnis Ernawati akhirnya menjadi bahan kuliah pagi itu.
Bukan mengenai rumus.
Bukan pula sekadar teori.
Melainkan satu pesan yang berulang kali ia tekankan kepada mahasiswa:
Jangan hanya menunggu kesempatan. Belajarlah menciptakannya.
Dan di situlah dialog kewirausahaan hari itu menemukan intinya.
Bukan tentang seberapa besar bisnis Ernawati sekarang.
Tetapi tentang bagaimana mahasiswa UI Yasni Bungo berani memulai perjalanan mereka sendiri.(*)