Bungo - Lawatan Ketua Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi Hj Ernawati, S.Ag., M.Pd. di Kabupaten Bungo, Sabtu (29/8/2026), tak hanya diisi agenda organisasi.
Pagi ini, Ernawati menyempatkan diri melihat langsung geliat pendidikan berbasis alam di pelosok Bungo.
Tujuannya Yayasan Ya Bunayya Bungo.
Yayasan tersebut mengelola sekolah alam yang berada di Dusun Buat, Kecamatan Bathin III Ulu, Kabupaten Bungo.
Ernawati datang didampingi Idham Khalid, mantan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi.
Begitu rombongan tiba, suasana sekolah mendadak lebih ramai.
Majelis guru sudah menunggu.
Anak-anak ikut menyambut.
Wajah-wajah siswa terlihat antusias melihat tamu yang datang ke lingkungan sekolah mereka. Ada yang berdiri bersama guru, ada pula yang memperhatikan dari dekat dengan rasa ingin tahu khas anak-anak.
Tidak ada suasana protokoler yang terlalu kaku.
Justru nuansa kekeluargaan terasa kuat.
Di tengah lingkungan sekolah yang mengusung konsep pendidikan berbasis alam itulah Ernawati berkeliling, berbincang dengan pengelola dan guru serta melihat langsung aktivitas pendidikan anak-anak.
Sudah Enam Tahun Berdiri
Sekolah alam yang dikelola Yayasan Ya Bunayya Bungo tersebut bukan baru dirintis.
Lembaga pendidikan itu telah berjalan sekitar enam tahun.
Perlahan tetapi pasti, sekolah tersebut terus berkembang.
Saat ini jenjang pendidikannya sudah mencapai kelas V dengan jumlah siswa sekitar 200 anak.
Angka itu menjadi gambaran bagaimana kepercayaan masyarakat terhadap sekolah tersebut terus tumbuh.
Dari sekolah yang dirintis dengan semangat menghadirkan model pendidikan berbeda, kini ratusan anak belajar di sana.
Hj Ernawati mengaku memberi perhatian khusus terhadap model pendidikan yang mencoba mendekatkan anak dengan lingkungan.
Menurutnya, pendidikan tidak selalu harus berhenti di dalam ruang kelas.
Anak juga perlu diberikan ruang untuk mengenal alam, belajar kemandirian, membangun karakter dan memahami kehidupan dari lingkungan yang ada di sekitarnya.
"Saya senang sekali melihat sekolah seperti ini tumbuh di Bungo. Anak-anak tidak hanya belajar pelajaran akademik, tetapi juga dikenalkan dengan alam, kemandirian, kebersamaan dan pembentukan karakter. Pendidikan seperti ini sangat penting untuk menyiapkan generasi masa depan," kata Ernawati.

Ernawati Berbaur dengan Anak-anak
Dalam kunjungannya, Ernawati tidak hanya melihat sekolah dari kejauhan.
Ia mendekat kepada siswa.
Menyapa mereka.
Berkomunikasi dengan para guru.
Sesekali suasana menjadi cair ketika anak-anak merespons sapaan yang diberikan.
Kehadiran Ketua ISMI Provinsi Jambi itu menjadi pengalaman berbeda bagi para siswa.
Di hadapan anak-anak tersebut, Ernawati membawa pesan sederhana mengenai pentingnya belajar.
Ia meminta mereka berani mempunyai cita-cita.
Rajin membaca.
Menghormati guru.
Menyayangi orang tua.
Dan tidak takut bermimpi besar meskipun sekolah mereka berada jauh dari pusat kota.
"Anak-anak ini boleh sekolah di mana saja, tetapi cita-citanya tidak boleh kecil. Kita ingin mereka tumbuh menjadi generasi yang pintar, berakhlak, percaya diri dan suatu hari mampu memberikan manfaat untuk daerahnya," ujar Ernawati.
Menurutnya, masa depan seorang anak tidak ditentukan semata-mata oleh lokasi sekolah.
Yang jauh lebih menentukan adalah kualitas pendidikan, karakter, lingkungan belajar serta dukungan orang tua dan guru.

Didampingi Mantan Kadis Pendidikan Jambi
Dalam lawatan tersebut, Ernawati didampingi Idham Khalid, yang pernah menjabat Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi.
Kehadiran Idham memberi warna tersendiri karena pembicaraan tidak hanya menyentuh kondisi sekolah, tetapi juga dunia pendidikan secara lebih luas.
Ernawati dan Idham mendapat penjelasan mengenai perjalanan sekolah sejak awal berdiri hingga perkembangannya saat ini.
Enam tahun bukan waktu singkat.
Dari satu generasi ke generasi berikutnya, sekolah terus menambah jumlah peserta didik.
Kini sekitar 200 siswa telah berada di lingkungan pendidikan Ya Bunayya.
Jenjangnya pun sudah sampai kelas V.
Bagi Ernawati, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat mempunyai kebutuhan terhadap model pendidikan yang beragam.
Sekolah konvensional memiliki perannya.
Pesantren mempunyai kekuatan tersendiri.
Begitu juga sekolah alam.
Yang terpenting, katanya, semua mempunyai tujuan sama: membentuk manusia yang berilmu dan berkarakter.
Bukan Sekadar Mengejar Nilai
Ernawati mengatakan tantangan pendidikan anak saat ini semakin kompleks.
Anak-anak lahir di tengah teknologi.
Gawai berada sangat dekat dengan kehidupan mereka.
Informasi dari seluruh dunia dapat diakses hanya dalam hitungan detik.
Kondisi itu menghadirkan peluang besar, sekaligus tantangan.
Karena itu, menurutnya, sekolah tidak cukup hanya menghasilkan anak yang mampu menjawab soal.
Anak juga harus belajar mengenal dirinya.
Mampu bekerja sama.
Berani berkomunikasi.
Mencintai lingkungan.
Dan mempunyai nilai moral sebagai pegangan.
"Kita tentu ingin anak-anak pintar. Tetapi pendidikan tidak boleh hanya mengejar angka di rapor. Kita membutuhkan generasi yang punya karakter, adab, kepedulian dan kemampuan menghadapi kehidupan," kata Ernawati.
Konsep sekolah alam, menurut dia, mempunyai ruang besar untuk membangun berbagai kemampuan tersebut.
Alam dapat menjadi laboratorium.
Lingkungan bisa menjadi ruang belajar.
Dan pengalaman sehari-hari menjadi bagian dari proses pendidikan.
Enam Tahun Menanam Harapan
Perjalanan Yayasan Ya Bunayya selama enam tahun menjadi bagian yang menarik perhatian rombongan.
Sebuah lembaga pendidikan tidak tumbuh dalam satu malam.
Ada proses panjang.
Ada guru yang mengajar.
Ada pengelola yang menjaga keberlangsungan sekolah.
Ada orang tua yang memberikan kepercayaan.
Dan tentu ada anak-anak yang setiap hari datang untuk belajar.
Dari proses itulah kini jumlah siswa telah mencapai sekitar 200 orang.
Bagi Ernawati, angka tersebut bukan sekadar statistik.
Ada 200 masa depan di sana.
Ada 200 cita-cita.
Ada yang mungkin kelak menjadi guru.
Dokter.
Pengusaha.
Ulama.
Akademisi.
Atau pemimpin.
"Tugas kita hari ini adalah memastikan anak-anak mendapatkan kesempatan terbaik untuk tumbuh. Kita mungkin belum tahu mereka nanti akan menjadi apa, tetapi pendidikan yang baik hari ini akan sangat menentukan perjalanan hidup mereka," ujarnya.
ISMI Beri Perhatian pada Pendidikan
Kunjungan tersebut juga sejalan dengan arah gerakan ISMI Provinsi Jambi di bawah kepemimpinan Ernawati.
Dalam berbagai lawatannya ke daerah, sektor pendidikan menjadi salah satu yang mendapat perhatian.
ISMI tak hanya bergerak di ruang diskusi dan organisasi.
Kampus didatangi.
Pesantren dikunjungi.
Rumah tahfiz disambangi.
Mahasiswa diperhatikan.
Dan kali ini, sekolah alam ikut menjadi tempat yang dilihat langsung.
Menurut Ernawati, organisasi sarjana mempunyai tanggung jawab besar terhadap pendidikan.
Sebab kata "sarjana" sendiri tidak dapat dipisahkan dari proses belajar.
"Kalau kita menghimpun para sarjana, maka dunia pendidikan harus menjadi salah satu perhatian kita. Kita perlu melihat apa yang dilakukan sekolah, pesantren dan lembaga pendidikan di daerah. Kalau ada hal baik, kita dukung. Kalau ada yang bisa dikembangkan, kita bangun kolaborasi," kata Ernawati.
Ia berharap ISMI nantinya dapat mempertemukan berbagai kekuatan yang dimiliki anggotanya untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia.
Ada akademisi.
Praktisi pendidikan.
Pengusaha.
Profesional.
Hingga pejabat dan mantan pejabat yang mempunyai pengalaman panjang.
Jejaring seperti itu, menurutnya, harus memberikan manfaat kepada masyarakat.
Dari Sekolah Alam Menuju Agenda ISMI Bungo
Kunjungan ke Ya Bunayya menjadi salah satu bagian dari rangkaian lawatan Ernawati di Kabupaten Bungo, Sabtu ini.
Ketua ISMI Provinsi Jambi tersebut juga memiliki agenda organisasi terkait konsolidasi dan pelantikan Pengurus Daerah ISMI Kabupaten Bungo.
Namun sebelum masuk ke rangkaian seremonial organisasi, Ernawati memilih mampir ke sekolah.
Melihat anak-anak.
Bertemu guru.
Dan mendengarkan cerita sebuah lembaga pendidikan yang telah enam tahun tumbuh di Dusun Buat.
Pagi itu mungkin hanya berlangsung beberapa saat.
Namun bagi sekitar 200 anak yang belajar di sana, ada pengalaman berbeda.
Mereka kedatangan tamu.
Berbicara tentang sekolah.
Tentang mimpi.
Tentang masa depan.
Dan ketika Ernawati meninggalkan Ya Bunayya untuk melanjutkan agenda berikutnya, sekolah alam itu kembali pada kesehariannya.
Guru kembali mengajar.
Anak-anak kembali belajar.
Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk pusat kota itu, enam tahun perjalanan pendidikan terus berlanjut.
Pelan-pelan.
Satu kelas demi satu kelas.
Satu anak demi satu anak.
Menanam harapan dari Dusun Buat, Bathin III Ulu, untuk masa depan Bungo.(*)