Belum Dilantik Sudah Bergerak, ISMI Bungo Bedah Nasib Adat Melayu di Tengah Globalisasi

WIB
ist

Bungo - Pengurus Daerah Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Kabupaten Bungo belum resmi dilantik. Namun mesin organisasi sudah lebih dulu bergerak.

Sebelum prosesi pelantikan digelar Sabtu siang ini, 29 Agustus 2026, PD ISMI Kabupaten Bungo mengawali hari dengan forum intelektual.

Sabtu pagi, mulai pukul 09.00 WIB, ISMI Bungo menggelar webinar bertajuk “Eksistensi Adat Melayu Bungo di Tengah Arus Globalisasi: Identitas, Tantangan, dan Masa Depan.”

Tema yang dipilih bukan sembarangan.

Di tengah teknologi yang berkembang cepat, pola hidup berubah dan generasi muda semakin terbuka terhadap budaya global, ISMI Bungo justru mengajak publik kembali membicarakan satu persoalan mendasar:

Bagaimana Adat Melayu Bungo tetap dipahami, dijalankan dan diwariskan?

Ketua PD ISMI Kabupaten Bungo M. Mahili HM, S.H., M.H. mengatakan forum tersebut sengaja ditempatkan sebagai bagian dari rangkaian pelantikan pengurus ISMI Bungo masa bakti 2026-2031.

Menurut Mahili, langkah tersebut sekaligus ingin memperlihatkan bahwa pelantikan bukan semata-mata pergantian atau pengukuhan struktur.

Organisasi harus melahirkan gagasan.

“Bagi kami, ISMI tidak boleh menunggu selesai dilantik baru mulai berpikir dan bekerja. Karena itu sebelum pelantikan, kita awali dengan forum keilmuan. Kita membicarakan salah satu hal yang sangat dekat dengan identitas masyarakat Bungo, yakni adat Melayu dan bagaimana masa depannya di tengah perubahan zaman,” kata Mahili.

Pertanyaan Besarnya: Apakah Adat Bertahan?

Webinar tersebut berangkat dari realitas bahwa zaman terus berubah.

Internet membuat batas antardaerah bahkan antarnegara menjadi semakin tipis.

Budaya dari berbagai penjuru dunia dapat masuk ke ruang keluarga hanya melalui telepon genggam.

Cara masyarakat berkomunikasi berubah.

Cara generasi muda mendapatkan informasi berubah.

Pola pergaulan berubah.

Bahkan cara masyarakat memandang nilai, otoritas dan tradisi ikut mengalami pergeseran.

Di tengah perubahan itulah pertanyaan mengenai keberadaan adat menjadi penting.

Bukan hanya apakah pakaian atau seremoni adat masih dipertahankan.

Persoalannya jauh lebih dalam.

Apakah nilai-nilai Melayu masih hadir dalam keluarga?

Apakah masih menjadi dasar musyawarah?

Apakah nilai adat masih menjadi pedoman dalam kepemimpinan?

Bagaimana adat digunakan untuk menyelesaikan persoalan bersama?

Dan yang paling penting, apakah generasi berikutnya memahami mengapa nilai-nilai tersebut perlu diwariskan?

Menurut Mahili, adat tidak boleh hanya muncul ketika ada seremoni.

“Kalau adat hanya kita keluarkan ketika ada acara tertentu, sementara nilai-nilainya tidak lagi hidup dalam keluarga dan kehidupan masyarakat, tentu kita harus melakukan evaluasi. Yang harus diwariskan kepada generasi muda bukan hanya simbol, tetapi juga nilai dan filosofinya,” ujarnya.

[Draf kutipan untuk dikonfirmasi.]

Tiga Narasumber Bedah Adat Melayu Bungo

ISMI Bungo menghadirkan tiga narasumber dengan sudut pandang berbeda.

Narasumber pertama adalah Drs. H. Rifai Abtes, M.Sy.

Ia dijadwalkan membedah nilai dasar Adat Melayu Bungo, tantangan globalisasi serta strategi pelestariannya.

Pembahasan ini menjadi fondasi webinar.

Sebab sebelum berbicara mengenai cara mempertahankan adat, masyarakat terlebih dahulu perlu memahami nilai apa yang sebenarnya ingin dipertahankan.

Narasumber kedua adalah Dr. Feerlie Moonthana, S.Pd., M.M., M.Pd.

Ia membawa perspektif mengenai revitalisasi Adat Melayu Bungo melalui sinergi intelektual sarjana dan pengurus ISMI dalam preservasi serta pengembangan budaya.

Posisi kaum intelektual menjadi penting.

Sarjana tidak cukup hanya menjadi penonton ketika budaya mengalami perubahan.

Ilmu yang dimiliki harus digunakan untuk mendokumentasikan, mengkaji, mengembangkan hingga menemukan cara baru agar nilai adat tetap relevan tanpa kehilangan akar.

Narasumber ketiga, Sopriyanto, S.Sy., M.H., mengambil sudut pandang generasi muda.

Ia membahas pandangan dan peran generasi muda dalam memahami, melestarikan dan meneruskan nilai Adat Melayu Bungo.

Pembahasan ini menjadi krusial.

Sebab pada akhirnya, keberlanjutan adat tidak ditentukan hanya oleh seberapa kuat generasi hari ini mempertahankannya.

Tetapi apakah generasi berikutnya mau meneruskannya.

Mahili Jadi Keynote Speaker

Ketua PD ISMI Kabupaten Bungo M. Mahili HM juga dijadwalkan memberikan keynote speech dalam webinar tersebut.

Sementara jalannya diskusi dimoderatori Dr. M. Roken Fadly, MK, S.H., M.H.

Mahili mengatakan globalisasi tidak semestinya dilihat semata-mata sebagai ancaman bagi adat Melayu.

Perkembangan zaman juga dapat menjadi peluang.

Teknologi, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk mendokumentasikan sejarah, bahasa, petatah-petitih, hukum adat hingga berbagai pengetahuan lokal yang selama ini lebih banyak diwariskan secara lisan.

“Globalisasi tidak mungkin kita hentikan. Teknologi juga tidak mungkin kita tolak. Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana masyarakat Melayu mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitasnya,” kata Mahili.

Menurutnya, generasi muda Bungo harus mampu berdiri di dua dunia sekaligus.

Modern dan terbuka terhadap perkembangan global.

Tetapi tetap mengetahui akar budaya tempat mereka berasal.

“Anak muda boleh menguasai teknologi, belajar ke mana pun dan menjadi warga dunia. Tetapi dia juga harus tahu siapa dirinya, dari mana dia berasal dan nilai apa yang diwariskan oleh orang-orang terdahulu,” ujarnya.

Adat Jangan Sekadar Jadi Pajangan

Webinar juga diarahkan untuk melihat adat bukan sebagai benda mati.

Bukan sebatas pakaian tradisional.

Bukan sekadar tarian.

Dan bukan hanya dekorasi ketika upacara berlangsung.

Adat mempunyai dimensi nilai.

Di dalamnya ada tata hubungan manusia.

Ada penghormatan kepada orang tua.

Ada musyawarah.

Ada kepemimpinan.

Ada etika berbicara.

Ada cara menyelesaikan perselisihan.

Ada hubungan antara agama dan kehidupan masyarakat Melayu.

Karena itu ISMI Bungo ingin diskusi tersebut bergerak dari pertanyaan “apa yang harus dijaga” menuju persoalan yang lebih praktis: bagaimana menjaganya.

Apakah melalui pendidikan?

Dokumentasi?

Penguatan lembaga adat?

Peran keluarga?

Pemanfaatan media sosial?

Atau memasukkan pengetahuan lokal ke berbagai ruang pendidikan dan aktivitas generasi muda?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang dibuka dalam webinar.

Sarjana Melayu Punya Tanggung Jawab

Ada alasan lain mengapa ISMI mengambil tema adat.

Nama organisasi tersebut sendiri membawa dua kata penting: sarjana dan Melayu.

Mahili menilai keduanya mengandung tanggung jawab.

Sarjana membawa tanggung jawab intelektual.

Melayu membawa tanggung jawab identitas dan kebudayaan.

“Kalau kita membawa nama Ikatan Sarjana Melayu Indonesia, maka ada tanggung jawab intelektual untuk ikut memikirkan masa depan Melayu. Kita tidak cukup hanya merasa bangga menjadi Melayu. Kita harus mengkaji, menjaga dan mengembangkan nilai-nilainya agar tetap hidup,” katanya.

Karena itu, ia tidak ingin ISMI Bungo setelah dilantik nanti hanya menjadi organisasi yang sibuk dengan agenda internal.

ISMI diharapkan menjadi ruang bertemunya akademisi, profesional, tokoh adat, ulama, generasi muda, pemerintah dan masyarakat.

Salah satu pintu masuknya adalah diskusi.

Dari Webinar Langsung ke Pelantikan

Webinar ini menjadi menarik karena berlangsung hanya beberapa jam sebelum kepengurusan ISMI Kabupaten Bungo resmi dilantik.

Pagi hari, para sarjana Melayu membedah persoalan adat.

Siang harinya, mereka dijadwalkan berdiri bersama dalam prosesi pelantikan dan mengucapkan ikrar sebagai pengurus.

Ketua Wilayah ISMI Provinsi Jambi Hj Ernawati dijadwalkan memimpin langsung prosesi pelantikan.

Sekretaris Wilayah ISMI Provinsi Jambi Dr. Fahmi Rasyid, S.E., M.AP. akan membacakan Surat Keputusan kepengurusan.

Setelah pengambilan ikrar, akan dilakukan penandatanganan berita acara serta penyerahan bendera pataka ISMI dari Ketua Wilayah ISMI Provinsi Jambi kepada Mahili.

Artinya, webinar pagi ini seperti menjadi pembuka sebelum amanah organisasi secara resmi diserahkan.

Mahili menyebut pola seperti itu memang ingin dibangun.

Pelantikan harus mempunyai jejak pemikiran.

“Kalau pagi kita berbicara tentang gagasan dan siangnya menerima amanah organisasi, maka pesan yang ingin kita bangun jelas. Setelah dilantik, pengurus harus bekerja. Ada persoalan masyarakat yang harus dipikirkan dan ada kontribusi yang harus diberikan,” katanya.

Fahmi Rasyid: Ini Tradisi Baik

Sekretaris ISMI Provinsi Jambi Dr Fahmi Rasyid mengapresiasi langkah ISMI Bungo yang memulai rangkaian pelantikan dengan kegiatan ilmiah.

Menurutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan karakter ISMI sebagai organisasi kaum sarjana.

“Ini tradisi yang baik. Sebelum pengurus dilantik, ISMI Bungo sudah membuka ruang diskusi mengenai persoalan yang sangat strategis bagi daerahnya. Karena identitas kita adalah organisasi sarjana, tentu tradisi intelektual seperti ini harus hidup,” kata Fahmi.

Fahmi berharap kegiatan semacam itu tidak berhenti pada webinar perdana.

Diskusi harus berlanjut.

Tema juga bisa diperluas.

Mulai dari budaya, pendidikan, ekonomi, sumber daya manusia, sosial-keagamaan hingga persoalan pembangunan daerah.

“ISMI harus menjadi ruang produksi gagasan. Kita punya banyak sarjana dari berbagai disiplin ilmu. Kalau seluruh kemampuan itu dihimpun dan diarahkan untuk membaca persoalan daerah, manfaatnya akan sangat besar,” ujarnya.

Dibuka untuk Umum, Peserta Dapat Sertifikat

Webinar “Eksistensi Adat Melayu Bungo di Tengah Arus Globalisasi: Identitas, Tantangan, dan Masa Depan” diselenggarakan secara daring dan dibuka untuk masyarakat umum.

Peserta juga mendapatkan sertifikat gratis.

Masyarakat dapat mengikuti diskusi melalui Zoom maupun kanal YouTube resmi ISMI Bungo Official.

Panitia mengajak peserta tidak hanya menjadi pendengar.

Mereka dipersilakan membawa pertanyaan, pengalaman hingga pandangan mengenai kondisi Adat Melayu Bungo saat ini.

Dengan demikian, diskusi tidak berjalan satu arah.

Masyarakat ikut terlibat menentukan persoalan apa yang penting dibicarakan dan langkah apa yang bisa dilakukan.

Jangan Sampai Generasi Berikutnya Hanya Mengenal Nama

Pada akhirnya, persoalan adat memang bukan sekadar bagaimana menjaga masa lalu.

Persoalan utamanya adalah masa depan.

Sebab sebuah kebudayaan tidak akan bertahan hanya karena generasi tua masih mengingatnya.

Ia bertahan ketika generasi berikutnya memahami.

Menjalankan.

Kemudian merasa perlu meneruskannya.

Mahili berharap diskusi tersebut menghasilkan kesadaran baru bahwa mempertahankan Adat Melayu tidak berarti menolak kemajuan.

Justru tantangannya adalah membuat nilai itu mampu berjalan di tengah kemajuan.

“Kita tidak ingin suatu hari nanti anak cucu kita hanya mengenal istilah Adat Melayu Bungo tetapi tidak lagi memahami nilai yang ada di dalamnya. Karena itu proses pewarisan harus dimulai sekarang, dengan cara yang bisa diterima generasi mereka,” kata Mahili.

Sabtu ini, ISMI Bungo memang baru akan dilantik.

Pataka organisasi belum diserahkan.

Ikrar pengurus juga belum dibacakan.

Namun sebelum semua seremoni itu berlangsung, mereka memilih membuka satu meja diskusi terlebih dahulu.

Yang dibicarakan bukan soal jabatan.

Tetapi soal sesuatu yang jauh lebih panjang umurnya:

masa depan Adat Melayu Bungo.(*)

BeritaSatu Network