Oleh: Johannes, Made Deviani Duaja, Elis Kartika
Ringkasan
Kematian pohon duku seperti kiamat saja, petani pasrah karena tiba-tiba kebun dukunya meranggas, mati, dan tak menghasilkan buah lagi. Bahkan pohon yang masih kecil, yang sedang tumbuh ikut mengering. Secara akademis dilaporkan bahwa kerusakan disebut sebagai kanker batang dan akar jamur putih bahkan karena perubahan iklim mikro yang mengalami kemerosotan. Sampai sekarang belum ada akademisi yang menyampaikan bagaimana cara menanam pohon duku lagi. Parahnya lagi petani pasrah, segala bentuk penyakit yang mereka hadapi disebut sebagai serangan COVIC 19, diserang Corona. Artikel ini didasarkan kepada pengalaman revitalisasi yang masih berjalan di desa, Studi ini dimaksudkan menggambarkan terobosan dari Tim Universitas Jambi yang bekerja sama dengan Bapperida Muaro Jambi di Desa Sumber Jaya dengan kelompok Tani Talang Baru.
1. Latar belakang
Pandangan menakjubkan ketika pohon duku berbuah yang menutup semua batang, dahan dan ranting tinggal kenangan di Kumpeh Ulu. Bencana duku tak berbuah sangat erat kaitannya dengan anomali iklim, panas yang berkepanjangan, kebakaran hingga kepada ekspansi kebun sawit. Akan tetapi bencana pohon mati, meranggas di awal tahun 2024, bersamaan dengan berakhirnya serangan COVIC 19 sehingga penduduk mengatakan bahwa pohon duku mereka diserang COVIC.
Duku Kumpeh tak sekedar nama, akan tetapi telah menjadi branding yang mengakar bagi Provinsi Jambi. Bentuknya yang melonjong, kulitnya tipis sehingga mudah dikupas, rasa manisnya yang lekat membuatnya berbeda dengan duku lain. Di jaman keemasannya, para pengijon dari Sumatera Selatan membeli duku yang sedang berbuah dengan cara mengijon, membayar duku sejak berputik. Untuk mempercepat proses matang, para pengijon melukai pohon bagian bawah menaruh belerang, sehingga proses buahnya merata dan cepat.
Dari berbagai laporan tentang kematiannya, sulit menjelaskan penyebab tunggal kematiannya. Anonim (2025), melaporkan pengobatan batang duku yang terserang oleh kanker batang. Pengobatannya dengan mengoleskan bubur “bordo” yang diyakini dapat menghentikan penyakit kanker batang, ini dinilai sebagai satu solusi. Handoko, (2014) melaporkan hal yang lebih luas karena perubahan cuaca, suhu tanah dan udara, serta kelembapan dapat meningkatkan laju infeksi penyakit kanker. Kondisi ini berperilaku berbeda dalam musim hujan dan musim kering, akan tepati belum merekomendasikan cara mengatasi penyakit duku, tapi menunjukkan bahwa kematiannya dikarenakan hal yang lebih luas.
Selanjutnya HAYATI et al., (2019) melaporkan bahwa penggunaan pupuk organik terhadap tanaman duku dapat mengurangi serangan kanker batang. Kemudian dilaporkannya juga didapat sejumlah varietas duku yang tahan terhadap serangan kanker batang.
2. Menemukan solusi
Secara akademis belum ditemukan cara mengatasi kematian duku yang terjadi tidak hanya di Jambi, tapi sampai ke Sumatera Selatan. Walau HAYATI et al., (2019) mengidentifikasi bibit yang bertahan terhadap serangan kanker batang akan tetapi rekomendasi tentang solusi kematian masih pohon duku belum ditemukan. Dari hasil diskusi dengan pemangku kepentingan, para penyuluh di duku, sepakat tentang satu hal: daripada mengobati pohon yang kena kanker batang, atau kena jamur akar putih, lebih baik menghasilkan benih sehat yang siap tanam. Bibit terseleksi yang sejak dari awal, mendapat pemupukan baik organik maupun kimia. Selanjutnya, ketersediaan bibi sehat juga ditentukan oleh cara memperlakukan lingkungan tanaman duku itu sendiri yang membutuhkan perlakuan, resistan terhadap serangan akar jamur putih, dan memberikan asupan yang lebih pasti. Artinya intervensi penyiapan bibit yang sehat harus dilakukan sejak tanaman berada dalam pot yang belum pernah dilakukan petani.
Untuk itu tim peneliti LPPM Universitas Jambi memperkenalkan teknologi penyiapan benih dan penanaman yang lebih baik: 1) menambahkan micoriza terhadap media tanah, 2) mempersiapkan decantercake sebagai media tanaman, dan 3) melakukan pemupukan. Cara ini dinilai dapat melindungi tanaman sejak dini, mengatasi serangan akar jamur putih dan mempercepat pertumbuhan bibit.
Teknik revitalisasi yang diterapkan didukung oleh kedua hasil peneliti terdahulu yang menggarisbawahi perlunya meningkatkan kualitas tanaman yang lebih baik, penggunaan bahan pupuk organik, ditambah dengan decantercake dan meningkatkan kualitas dengan pemberian pupuk. Tentang micoriza dan decantercake yang digunakan merupakan perlakuan pembeda dan patut diapresiasi karena telah mendapat hak paten sebagai karya akademis.
3. Kendala di tingkat petani
Di tingkat petani, praktik penanaman duku dilakukan seadanya. Bibit menggunakan biji yang tumbuh di sekitar kebun, dengan cara membiarkan bibit yang tumbuh dari biji seadanya. Atau memilih bibit duku yang tampak baik dan memindahkan ke tempat yang dinilai baik. Praktik ini di Jambi dikenal dengan penggunaan bibit sapuan, yang juga diterapkan kepada tanaman karet.
Praktik ini tidak membantu daya tahan tanaman terhadap serangan ke dua penyakit yang sedang tumbuh. Selanjutnya, petani belum terbiasa mengenali bibit yang direkomendasikan, kalau pun ada penangkar di Sungai Arang misalnya di Kumpe, keinginan petani belum terlihat untuk mengambil bibit di sana. Terlebih dengan masifnya penanaman kelapa sawit membuat petani terilusi untuk menggantikan kebun dengan sawit. Walau secara sosiologis petani meyakini dengan memiliki kebun duku, mereka mendapat pasokan setiap tahun di musim buah. Petani dalam hal ini belum mempraktikkan penggunaan pupuk apalagi pupuk organik yang sebenarnya bisa dihasilkan dari sekitar mereka.
Dalam keadaan seperti itu, revitalisasi duku tidak akan terjadi dengan mengandalkan kekuatan petani sendiri, dibutuhkan intervensi yang sesuai. Pemberdayaan yang menggunakan sumber daya dan kompetensi yang ada bersama masyarakat (M. D. Duaja et al., 2020). Intervensi ini bagaimanapun harus selaras dengan praktik budidaya lokal, misalnya mereka meyakini bahwa tanaman duku harus ditanam secara campur (mixed) dengan tanaman lain seperti kelapa, durian, bambu, pisang. Selain itu, petani juga meyakini bahwa membawa bibit dari tempat lain harus diaklimatisasi. Petani menyebutnya “diambukan” yang maknanya agar bibit dapat menyesuaikan dengan lingkungan setempat.
4. Memperkenalkan technopreneur
Peralihan tanaman duku menjadi tanaman monokultur, khususnya kelapa sawit menciptakan biaya implisit, biaya lingkungan. Kebun duku yang awalnya adalah kebun campuran, beralih ke kebun sawit menjadi disadvantage, khususnya bila dikaitkan dengan SDG, poin ke 15. (Clough et al., 2016) melaporkan kondisi di Jambi kondisi yang tak menguntungkan itu yang berdampak terhadap kualitas air, hutan, dan daya tahan lingkungan terhadap perubahan iklim.
Technopreneur adalah sikap petani yang terbuka kepada penggunaan teknologi. Pemberian micoriza, decantercake, pemupukan adalah bentuk intervensi teknologi yang harus tumbuh bersamaan dengan sikap pembelajar petani dalam satu lingkungan teknologi yang tersedia. Sikap ini setidaknya lahir dari praktik meniru apa yang telah dilakukan petani yang dinilai berhasil. Revitalisasi tahun ini dimulai di desa Sumber Jaya Kumpeh Ulu. Sebagian kecil telah memasuki tahun ke tiga, terlihat bahwa pohon yang menggunakan teknologi demikian tumbuh baik. Tinggal menunggu masa berbuah lima tahun ke depan (M. Duaja et al., 2019; Siregar et al., 2023). Secara akademis, teknologi ini telah memperoleh paten dari DIKTI sebagai bagian dari pengakuan akademis. Praktik ini bisa disebut dengan cara menyiapkan Denplot, lingkungan belajar petani sehingga mereka bisa meniru yang berhasil. Walau ini tidak serta merta efektif karena petani demikian terdorong menanam sawit yang oleh petani
Praktisi dan peneliti duku menyebut bahwa usia duku berbuah tak bisa ditentukan oleh usia saja, akan tetapi oleh lingkar batang. Lingkar batang yang dinilai dapat berbuah mencapai 20 cm pohon duku akan siap berbuah. Artinya usia duku berbuah tidak bisa ditentukan oleh usia saja akan tetapi juga ditentukan oleh besaran pohon, sehingga pemberian pupuk tak terhindarkan. Sehingga, pemupukan di usia dini, menjelang lima tahun pemupukan harus dilakukan dengan baik agar lingkar batang bisa maksimal.
Dalam keadaan seperti ini maka petani harus belajar, tak dapat menggunakan pengalamannya saja dalam berkebun duku secara konvensional. Bawaan entrepreneur bagaimanapun harus berbarengan dengan pengenalan teknologi budidaya dan pemeliharaan yang seharusnya ada bersamaan dengan mereka. Di tingkat petani didapat penyuluh yang dapat berfungsi demikian, akan tetapi sumber pengetahuan kalangan akademisi adalah bagian penting. Tidak hanya itu, para politisi lokal yang dapat menentukan arah pengembangan komoditi duku menjadi penting. Misalnya dengan menentukan kawasan yang harus dipelihara sehingga tidak terjadi perubahan penggunaannya secara masif. Duku dan tanaman yang berada di lingkungannya seperti pisang, aren, kelapa, bambu, durian mengisyaratkan bahwa duku tidak seperti tanaman plantation seperti sawit tapi harus bercampur dengan tanaman lain. Bagian ini juga menjadi atribut technopreneur lokal yang dapat dikedepankan bahwa duku adalah kawasan yang dapat memitigasi perubahan iklim yang baik bila luasannya memadai.
5. Kesimpulan
Secara akademis, belum ditemukan satu pola bagaimana menanam duku yang tahan terhadap dua jenis penyakit, kanker batang dan akar jamur putih. Akan tetapi, praktik revitalisasi didasarkan kepada argumen yang kuat. Revitalisasi dimulai dari penyiapan bibit yang sehat, dari penangkar yang baik, sementara penanaman dilakukan dengan mencampurkan media tanam, pupuk organik dengan micoriza dan decantercake. Walau keberhasilannya akan terlihat secara rule of thumb, artinya dinilai berhasil bila pada usia tanaman dewasa sudah dapat berbuah dan tidak mengalami kematian oleh karena penyakit yang sama.
DAFTAR BACAAN
Anonim. (2025). Brida dan BRMP Sosialisasikan Pengendalian Kanker Batang Duku Kumpeh (p. 1). Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Jambi.
https://jambi.brmp.pertanian.go.id/berita/brida-dan-brmp-sosialisasikan-pengendalian-kanker-batang-duku-kumpeh
Clough, Y., Krishna, V. V., Corre, M. D., Darras, K., Denmead, L. H., Meijide, A., Moser, S., Musshoff, O., Steinebach, S., Veldkamp, E., Allen, K., Barnes, A. D., Breidenbach, N., Brose, U., Buchori, D., Daniel, R., Finkeldey, R., Harahap, I., Hertel, D., … Scheu, S. (2016). Land-use choices follow profitability at the expense of ecological functions in Indonesian smallholder landscapes. Nature Communications, 7(1), 13137. https://doi.org/10.1038/ncomms13137
Duaja, M. D., Kartika, E., & Johannes. (2020). Are aids enough to empower: case of peatland liberica coffee farmer in Indonesia. Jurnal Perspektif Pembiayaan Dan Pembangunan Daerah, 8(4), 331–340. https://doi.org/10.22437/ppd.v8i4.10831
Duaja, M., Kartika, E., & Lizawati, L. (2019). Application of Indigenous AMF from ex-coal Mining Soil Combined with Phosphorus Fertilizers to Improved Oil Palm Seedling Growth (Elaeis guineensis Jacq.). Biogenesis: Jurnal Ilmiah Biologi, 7(1). https://doi.org/10.24252/bio.v7i1.5990
Handoko, S. (2014). Kajian Epidemi Penyakit Kanker Batang Duku di Provinsi Jambi. UGM.
https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/74339?utm_source=chatgpt.com
HAYATI, I., WIYONO, S., WIDODO, W., & SOBIR, S. (2019). Variability of agronomic characters related to resistance to stem canker (Phytophthora palmivora) on duku (Lansium domesticum) along Batanghari River, Sumatra, Indonesia. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 20(4), 1127–1132. https://doi.org/10.13057/biodiv/d200426
Siregar, V. M. R., Soekarno Mismana Putra, Muhammad Abdul Aziz, Hana Fadila, Poppy Arisandy, Sri Wahyuni, Priyono, Insyiah Meida Luktyansyah, Sulastri, Rizky Nugraha, Mira Maulidina, & Siswanto. (2023). Application of humic acid supplemented with micronutrient increase rice production. Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy), 51(3), 366–377. https://doi.org/10.24831/jai.v51i3.46904
[1] Kegiatan ini adalah kerjasama antara tim LPPM Universitas Jambi dengan Bappreida Muaro Jambi dalam mencari terobosan, mervitalisasi duku kumpeh yang telah pasarah terhadap penyakit masif.
[2] Tim Ahli iGubernur dan Tim Revitalisasi Duku di Kumpe Ulu, tahun 2026