Oleh: Ir. H. Sepdinal, M.E.
Fungsional Perencana Ahli Madya Bappeda Provinsi Jambi
Perkembangan kecerdasan buatan, otomatisasi, ekonomi digital, transisi energi, ekonomi hijau, dan perubahan dunia kerja telah melahirkan kebutuhan kompetensi baru.
Kondisi ini menuntut perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menyiapkan manusia yang adaptif, kreatif, menguasai teknologi, mampu memecahkan masalah, bekerja lintas disiplin, serta tetap memiliki karakter dan integritas.
Karena itu, penataan program studi tidak cukup dimaknai sebagai membuka program studi baru atau menutup program studi yang kurang diminati.
Yang lebih penting adalah memastikan kurikulum dan kompetensi lulusan terus bergerak sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, kebutuhan dunia kerja, serta arah pembangunan nasional maupun daerah.
Orientasi pendidikan tinggi juga perlu bergeser dari pertanyaan “program studi apa yang tersedia?” menuju “kompetensi apa yang akan dibutuhkan lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun mendatang?”
Kompetensi digital, analisis data, kecerdasan buatan, kewirausahaan, komunikasi, kepemimpinan, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah perlu diintegrasikan ke berbagai bidang keilmuan.
Dalam perspektif pembangunan, tracer study perlu diperkuat dengan human capital planning.
Jika tracer study melihat ke mana lulusan bekerja, maka human capital planning melihat ke depan: sumber daya manusia dan kompetensi apa yang dibutuhkan pembangunan.
Di daerah, Bappeda bersama perguruan tinggi, dunia usaha, perangkat daerah, asosiasi profesi, dan masyarakat dapat membangun Peta Kebutuhan SDM Daerah sebagai rujukan pengembangan pendidikan dan kompetensi.
Bagi Provinsi Jambi, pendekatan ini sangat relevan.
Struktur ekonomi yang masih kuat pada pertanian, perkebunan, kehutanan, dan sektor informal perlu dijawab dengan kompetensi baru seperti smart farming, teknologi pangan, hilirisasi, Internet of Things atau IoT, sistem informasi geografis, perdagangan digital, kewirausahaan, ekonomi karbon, pembiayaan hijau, hingga pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.
Potensi budaya dan pariwisata Jambi juga dapat dikembangkan melalui ekonomi kreatif, pemasaran digital, industri konten, kuliner, dan manajemen destinasi.
Penataan tersebut tidak selalu membutuhkan program studi baru.
Program studi yang ada dapat ditransformasikan melalui pembaruan kurikulum, konsentrasi baru, mata kuliah lintas disiplin, microcredential, sertifikasi kompetensi, magang, pembelajaran berbasis proyek, riset terapan, dan keterlibatan praktisi.
Kuncinya adalah membangun kolaborasi nyata antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha dan industri, serta masyarakat.
Kerja sama tidak boleh berhenti pada seminar dan penandatanganan nota kesepahaman.
Kerja sama harus menghasilkan kurikulum bersama, magang berkualitas, penelitian terapan, inovasi, inkubasi bisnis, sertifikasi kompetensi, dan solusi terhadap persoalan pembangunan daerah.
Kampus pada akhirnya tidak boleh hanya mengikuti perubahan, tetapi harus mampu membaca dan mengantisipasi perubahan sebelum terjadi.
Pemerintah perlu menghubungkan agenda pembangunan dengan kebutuhan SDM. Dunia usaha perlu terlibat sejak awal. Sementara itu, perguruan tinggi tetap harus menjaga independensi akademiknya agar tidak hanya melahirkan tenaga kerja, tetapi manusia terdidik yang kritis, inovatif, berkarakter, berjiwa kewirausahaan, dan mampu memberi solusi bagi masyarakat.
Menjelang Indonesia Emas 2045, menata program studi bukan sekadar urusan administrasi pendidikan.
Ia merupakan bagian dari strategi pembangunan.
Menata program studi berarti menata kualitas manusia, dan menata kualitas manusia berarti menata masa depan Indonesia.