PalmCo Dorong Produktivitas Sawit Rakyat untuk Topang Biodiesel B50

WIB
Ist

JAKARTA — PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo mendorong peningkatan produktivitas perkebunan sawit rakyat melalui riset terapan dan penyediaan bibit unggul bersertifikat.

Langkah tersebut dinilai penting untuk memenuhi kebutuhan minyak sawit mentah atau CPO bagi program biodiesel B50 sekaligus menjaga keberlanjutan ekspor Indonesia.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan kebun rakyat menguasai sekitar 42 persen dari total luas perkebunan sawit nasional.

Karena itu, peningkatan produktivitas kebun petani dinilai menjadi salah satu jalan tercepat untuk menambah pasokan CPO tanpa harus terus memperluas lahan.

“Hari ini kita menghadapi sebuah paradoks kelapa sawit nasional. Misi hilir sangat jelas dengan Asta Cita Bapak Presiden Prabowo Subianto, kemandirian energi B50. Di sisi lain, kita juga perlu terus menjalankan ekspor secara berkelanjutan,” kata Jatmiko.

“Sekarang kalau kita tengok realitas hulu kita, produktivitas CPO cenderung stagnan,” lanjutnya.

Jatmiko menyampaikan hal tersebut saat menjadi pembicara utama dalam pembukaan Pekan Riset Sawit Indonesia atau PERISAI 2026 di Jakarta, Senin, 20 Juli 2026.

Jatmiko mengatakan peningkatan produktivitas perkebunan rakyat akan memberikan dampak besar terhadap pasokan CPO nasional.

Menurut perhitungannya, kenaikan produktivitas sebesar satu ton pada kebun rakyat dapat menghasilkan tambahan pasokan sekitar 6 juta ton CPO.

“Seandainya satu ton saja produktivitas masyarakat naik, itu ada tambahan suplai CPO 6.000.000 ton. Kebutuhan biodiesel B50 langsung bisa kita jalankan,” ujarnya.

Angka tersebut merupakan proyeksi yang disampaikan Jatmiko berdasarkan luas perkebunan rakyat. Realisasinya akan dipengaruhi kondisi tanaman, umur kebun, kualitas bibit, pemupukan, cuaca, tata kelola, dan tingkat keberhasilan peremajaan.

Peningkatan produktivitas juga membutuhkan waktu.

Bibit unggul yang ditanam hari ini tidak langsung menghasilkan tandan buah segar esok hari.

Ada masa tanam.

Ada perawatan.

Ada pula waktu tunggu hingga tanaman mulai menghasilkan.

Jatmiko meminta riset kelapa sawit diarahkan pada persoalan nyata yang dihadapi petani dan industri.

Penelitian tidak cukup hanya menghasilkan makalah ilmiah atau publikasi. Hasilnya harus bisa diterapkan di kebun, diadopsi pelaku usaha, dan memberikan kenaikan produktivitas.

“Ini gap yang mesti kita jawab. Kita mesti berpikir bagaimana menciptakan market-driven research, mempertemukan peneliti, pengusaha, dan rakyat. Tidak hanya berhenti di sebuah jurnal,” katanya.

Menurutnya, hubungan antara peneliti dan pengguna hasil penelitian perlu diperkuat sejak awal.

Petani mengetahui masalah di kebun.

Industri mengetahui kebutuhan pasar.

Peneliti mempunyai kemampuan mencari jalan keluarnya.

Ketiganya harus bertemu.

Sebagai bagian dari kontribusi perusahaan, PalmCo berencana memperluas akses bibit unggul bersertifikat bagi pekebun sawit.

Jatmiko mengatakan petani yang membutuhkan bibit tidak harus lebih dahulu menjadi mitra perusahaan.

“Bibit unggul, ini yang mungkin saya perlu ajak teman-teman pengusaha. Ayo kita buka bibit unggul kita. Tidak harus menjadi mitra kita, siapa pun boleh datang dan beli,” ujarnya.

Akses bibit dinilai penting karena produktivitas kebun sawit sangat ditentukan sejak pemilihan bahan tanam.

Bibit yang tidak bersertifikat berisiko menghasilkan tanaman dengan produktivitas rendah. Dampaknya tidak hanya dirasakan satu atau dua musim, tetapi dapat berlangsung selama sebagian besar umur ekonomis tanaman.

Namun, penyediaan bibit saja belum cukup.

Petani juga membutuhkan pendampingan mengenai persiapan lahan, pemupukan, pengendalian hama, panen, dan pengelolaan kebun.

Bibit unggul adalah awal.

Bukan seluruh jawaban.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Heru Tri Widarto menilai kemitraan menjadi bagian penting dalam mempercepat Program Peremajaan Sawit Rakyat atau PSR.

“PSR itu tidak akan maju kalau kita tidak menggandeng semua pihak. Bagaimana supaya ada kemitraan antara perusahaan dengan petani sawit,” kata Heru.

Menurutnya, perusahaan dapat membantu petani sejak proses penumbangan tanaman tua, pencacahan batang atau chipping, hingga penerapan standar pengelolaan kebun.

“Kemitraan itu sebenarnya sangat bagus karena di situ perusahaan hadir membantu tumbang chipping-nya. Standar kebun kita harapkan juga sama dengan kebunnya swasta,” ujarnya.

Peremajaan menjadi penting karena sebagian kebun rakyat telah memasuki usia tua atau menggunakan bahan tanam dengan produktivitas rendah.

Namun, program tersebut juga menghadapi tantangan.

Petani kehilangan pendapatan selama tanaman belum menghasilkan. Karena itu, keberhasilan PSR membutuhkan pembiayaan, kepastian bibit, pendampingan, dan sumber pendapatan alternatif selama masa tunggu.

PalmCo juga mendorong pemanfaatan limbah cair pabrik kelapa sawit atau palm oil mill effluent—POME—sebagai sumber energi baru terbarukan.

Limbah tersebut dapat diolah menjadi biogas dan dimurnikan menjadi biometana.

Pemanfaatan POME diharapkan memberikan dua manfaat sekaligus.

Pertama, mengurangi emisi dari limbah cair pabrik.

Kedua, menghasilkan sumber energi yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan operasional maupun penggunaan lainnya.

Pengembangan biometana menjadi bagian dari upaya perusahaan meningkatkan nilai tambah industri sawit dari hulu hingga hilir.

Sawit tidak hanya menghasilkan minyak.

Limbahnya juga dapat diolah menjadi energi.

Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Eddy Abdurrachman mengatakan keberhasilan penelitian tidak cukup diukur dari jumlah publikasi.

Menurutnya, hasil riset harus mampu diterapkan petani, diadopsi industri, dikembangkan menjadi teknologi, dan dikomersialisasikan.

“Keberhasilan riset tidak cukup diukur dari jumlah publikasi ilmiah. Ukuran keberhasilan adalah sejauh mana hasil riset dapat diterapkan langsung oleh petani, diadopsi oleh industri, dikembangkan menjadi teknologi, serta dikomersialisasikan sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Eddy.

Ia mengatakan BPDP tidak ingin hanya berperan sebagai penyedia dana.

Lembaga tersebut juga akan mendorong kolaborasi antara pemerintah, peneliti, perusahaan, dan pekebun.

Dana dapat membiayai penelitian.

Kolaborasi menentukan apakah hasilnya sampai ke kebun.

Pembukaan PERISAI 2026 turut dirangkaikan dengan penandatanganan komitmen pengembangan sumber daya manusia perkebunan.

Komitmen tersebut melibatkan Kementerian Pertanian, BPDP, dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia.

GAPKI diwakili Ketua Umumnya, Edy Martono.

Pengembangan SDM dibutuhkan agar peningkatan produktivitas tidak hanya bergantung pada teknologi dan bibit.

Petani, mandor, tenaga teknis, serta pengelola kebun juga harus mempunyai kemampuan menerapkan praktik budidaya yang benar.

Mesin dapat dibeli.

Bibit dapat disediakan.

Namun, keduanya tetap membutuhkan manusia yang mampu mengelolanya.

Dorongan meningkatkan produktivitas muncul ketika kebutuhan CPO di dalam negeri semakin besar.

Program biodiesel dengan campuran lebih tinggi akan meningkatkan penyerapan minyak sawit untuk kebutuhan energi.

Pada saat yang sama, ekspor masih menjadi bagian penting dari industri sawit nasional.

Kondisi itu membuat peningkatan produksi menjadi penting.

Namun, penambahan pasokan tidak selalu harus ditempuh melalui ekspansi lahan.

PalmCo memilih mendorong produktivitas kebun yang sudah ada—terutama kebun rakyat.

Tantangannya kini adalah memastikan bibit unggul benar-benar sampai ke petani.

Riset benar-benar diterapkan.

Program peremajaan berjalan.

Dan peningkatan produksi tidak berhenti sebagai angka dalam forum.

Jatmiko telah menyebut potensinya: tambahan 6 juta ton CPO apabila produktivitas sawit rakyat naik satu ton.

Ujian berikutnya ada di kebun.(*)

BeritaSatu Network