Oleh: Thamrin B. Bachri
Tulisan ini merupakan kumpulan catatan perjalanan yang melahirkan ide dan pemikiran selama perjalanan dalam rangka mengikuti DRR (Diskusi Rabuan Roadashow TAG Mei 2026) dan menginap di Kayu Aro.
Kayu Aro adalah sebuah kecamatan dan kawasan dataran tinggi di Kabupaten Kerinci, Jambi yang mahsyur sebagai salah satu penghasil teh paling tua dan tertinggi di dunia.
Teh Kayu Aro sudah melegenda dan sering menjadi “positioning theme” dalam memasarkan Kayu Aro sebagai destinasi wisata. Kayu Aro terletak di kaki gunung Kerinci pada ketinggian 1.600 MDPL dan kawasan ini memiliki udara sangat sejuk dan pemandangan alam yang memukau.
Di samping udara sejuk dan bentang alam yang sangat indah Kayu Aro memiliki kebun yang bernilai sejarah yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1925, kebun ini memiliki luas lebih kurang 2.500 hektar. Teh yang dihasilkan di sini terkenal dengan kualitas premium dan di ekspor ke banyak negara.
Selain itu, Kayu Aro juga menjadi jalur utama khususnya para pendaki gunung (Mountaineer) atau para hiker (trekker ringan) terutama pendaki gunung yang ingin menaklukan puncak gunung Kerinci (gunung berapi tertinggi di Nusantara).
Selanjutnya, sebagai supporting product dari destinasi wisata Kayu Aro, selain hamparan teh, juga terdapat destinasi wisata di sekitarnya yaitu seperti Air Terjun Telun Berasap, Aroma Pecco, dan berbagai tempat atau spot swafoto seperti Puncak Rindu Kayu.
Kawasan Kayu Aro juga sudah memiliki sejumlah pilihan penginapan (homestay atau B&B), rumah makan dan camping ground (lokasi berkemah).
Potensi Atraksi Wisata
Atraksi wisata merupakan dasar bagi pengembangan pariwisata. Jenis pariwisata apa yang akan dikembangkan serta pangsa pasar yang mungkin diraih, ditentukan oleh potensi atraksi yang tersedia (Niko K. Legoh, 1983).
Sebagai modal dasar, atraksi wista harus mudah dicapai dan dipelihara dengan baik, hal lain yang harus diperhatikan adalah pengaturan keseimbangan antara daya dukung lingkungan atraksi trhadap jumlah wisatawan yang dapat ditampung.
Perencanaan dan pengawasan yang kurang terarah dapat menyebabkan citra atraksi wisata tersebut menurun.
Sehubungan dengan potensi atraksi wisata Kayu Aro yang menonjol adalah keindahan alam yang didukung oleh udara yang segar. Pemandangan alam yang indah dan banyak ditemukan disepanjang jalan berupa hamparan perkebunan teh, dan didukung oleh keindahan alam di sekitarnya dalam bentuk pegunungan, lembah dan hutan.
Daerah di sepanjang dan di sekitar jalan akan menjadi atraksi utama hamparan kebuh teh dengan keindahan alam di sekitarnya disertai udara pegunungan segar menjadikan Kayu Aro memiliki ciri dan citra tersendiri sebagai atraksi wisata.
Di samping atraksi alam, atraksi wisata dalam bentuk tourist activities masih perlu dikembangkan. Melihat potensi yang dimiliki tersediannya fasilitas kegiatan rekreasi mutlak tersedia terutama rekreasi darat.
Atraksi wisata budaya pada umum masih kurang menonjol sehingga hanya dapat dikategorikan sebagai atraksi wisata sekunder. Dalam rangka penyusunan ragam produk wisata perlu dipikirkan kemungkinan disediakan pertunjukan-pertunjukan kesenian tradisional.
Penyelenggaraannya di tempat terbuka atau pada fasilitas akomodasi atau restoran. Mengingat kedatangan wisatawan umumnya pada hari akhir pekan atau hari libur lainnya, penyelenggaraan kesenian tersebut hendaknya diatur sesuai dengan kecenderungan tersebut.
Tampat pentas, waktu dan jenis pertunjukan perlu dilandaskan pada perencanaan yang baik. Khusus mengenai jenis kesenian sebaiknya yang ditampilkan adalah kesenian Kerinci.
Potensi Pasar Segmen Pasar dan Pola Kunjungan
Pasar utama untuk destinasi wisata Kayu Aro adalah wisatawan domestik (pasar primernya Padang dan Jambi, khusus kunjungan menginap) termasuk penduduk asing maupun wisatawan asing yang pada umum adalah mountaineer baik yang berkunjung dalam rangka multi-destination (Belanda, Perancis, dll) atau single destination seperti Singapura, Malaysia, dan lainnya.
Sehubungan dengan waktu kunjungan. Sebagaimana umumnya ditemukan pada kawasan wisata di sekitarnya sebagian besar pada akhir pekan dan hari libur lainnya kecuali wisatawan minat khusus.
Data dari kawasan wisata di Jawa Barat, Sumatera Utara, maupun Sumatera Barat menunjukan 80,0% - 90,0% dari jumlah kunjungan berlangsung pada waktu tersebut di atas.
Dalam hal pola kunjungan wisatawan, dibedakan atas kunjungan sehari, kunjungan singgah, dan kunjungan menginap.
Kunjungan Sehari
Segmen pasar ini meliputi masyarakat umum dari berbagai tingkat sosial ekonomi, dari yang tinggi sampai rendah dan kelompok umur.
Kecenderuangan ini perlu didukung oleh tersedianya pelayanan wisatawan yang beragam jenis dan tingkatan sesuai dengan permintaan dan kemampuan daya beli pengunjung, keragaman penyediaan fasilitas wisata perlu diberikan perhatian khusus.
Salah satu tujuan wisata adalah memberikan kemungkinan rekreasi dalam lingkungan yang menarik dan sehat kepada masyarakat.
Walaupun dalam pengembangan pariwisata pertimbangan komersial tidak dapat diabaikan, namun untuk kasus-kasus tertentu keuntungan sosial (Social Benefit) perlu diberikan prioritas.
Dalam kasus seperti ini, keterlibatan pemerintah dalam penyiapan fisik atau subsidi pengelolaan mutlak diperlukan.
Kunjungan Singgah
Konsep pariwisata pada dewasa ini tidak hanya mencakup kegiatan rekreasi murni. Perjalanan dengan berbagai latar belakang dan maksud kunjungan telah digolongkan dalam kegiatan pariwisata.
Permintaan fasilitas tertentu misalnya, restoran, tempat persinggahan untuk istirahat dan sholat sera sekaligus berfungsi sebagai creative hub dan sebagainya sama seperti wisatawan berlibur (holiday maker).
Segmen pasar ini sangat memperhatikan faktr lokasi dan waktu. Atraksi dan fasilitas wisata harus terletak pada jalur utama yang akan dilalui atau bila terletak di luar jalur utama, harus dapat ditempuh dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Lama singgah umumnya berkisar antara 1 – 2 Jam. Arus lalu lintas harian yang tinggi pada jalur Kerinci – Padang merupakan pasar yang potensial untuk dikembangkan bagi kunjungan singgah.
Untuk meraih kunjungan singgah ini, perlu disiapkan prasarana dan saran serta promosi secara luas. Segmen pasar ini diperlukan untuk mengisi kekosongan kunjungan pada hari kerja (weekdays).
Pasar Menginap
Segmen pasar ini umumnya berasak dari lapisan masyarakat dengan status sosial-ekonomi menengah dan atas.
Waktu kunjungan umumnya akhir pekan dan hari libur lainnya, karena itu, promosi harus dilakukan berdasar pendekatan kalender (calendar approach type of promotion).
Pola perjalanan. Jarak tempuh dan waktu serta citra akan merupakan faktorfaktor penentu bagi destinasi wisata Kayu Aro dalam meraih wisatawan dari pasar utama, termasuk meraih kunjungan ulang.
Sehubungan dengan penyiapan fasilitas wisata, tidak dapat dihindari adanya kelebihan suplai (over supply). Hal ini mengingat untuk menyiapkan fasilitas wisata tertentu harus disiapkan sekaligus.
Analisis pasar yang dikemukakan ini tentu saja masih sangat dangkal karena hanya berdasar “pengamatan Gejala”, studi pasar yang rinci dan komprehensif dengan data yang akurat masih harus dilakukan.
Peluang Kayu Aro Menjadi Destinasi Wisata Grade “A”
Melihat potensi atraksi, potensi pasar, aksesibilitas (walaupun segmen pasar Jambi masih ada friksi jarak) serta kemungkinan dilakukannya berbagai kegiatan rekreasi di Kayu Aro, kegiatan pariwisata dengan segala keuntungan yang terbawa olehnya layak untuk diwujudkan.
Sebagai penutup dari tulisan ini, dikemukakan beberapa saran sebagai berikut:
• Pemanfaatan sumber daya alam di Kayu Aro secara optimal bagi kepentingan pariwisata hendaknya berdasar pada prinsip konservasi dan berkelanjutan.
• Sejalan dengan tujuan pengembangan destinasi wisata Kayu Aro, maka dalam proses pelaksanaan tekanan harus diberikan pada usaha perluasan keuntungan ekonomi masyarakat setempat (community first philosophy), usaha tersebut meliputi keuntungan yang diperoleh secara langsung melalui hasil pembangunan fasilitas penunjang.
• Sehubungan dengan pengembangan pariwisata Kayu Aro, tanggung jawab perencanaan dan pelaksanaan hendaknya berdasarkan pendekatan antar sektor. Di samping pengembangan fisik, program pendidikan masyarakat dan pengadaan tenaga terdidik serta terlatih perlu dirumuskan dilaksanakan sejalan dengan tahaptahap pengembangan.
Khusus tujuan pendidikan masyarakat tujuan program adalagh mempersiapkan masyarakat di sekitar obyek wisata Kayu Aro agar menyadari dampak pariwisata baik positif maupun negatif serta mengetahui dan memanfaatkan kesempatan usaha yang terbuka dengan dikembangkannya pariwisata di Kayu Aro.
Akhirnya, perlu ditekankan bahwa pengembangan pariwisata di Kayu Aro hendaknya dilakukan secara bertahap dan tahap-tahap pengembangan tersebut harus dilihat sebagai proses berkesinambungan.
Pada akhirnya setiap tahap pengembangan dilakukan penilaian menyeluruh terhadap kegiatan dan hasil yang dicapai. Hasil penilaian tersebut sebagai umpan balik guna menyusun program tahap selanjutnya dan apabila diperlukan harus dilakukan penysuaian / pembahasan perencanaan.
Semoga Kayu Aro dapat menjadi destinasi wisata Grade “A”.
Every Beginning Must Be Difficult.