Kejar Produksi, PTPN IV Regional IV Jaga Alam Lewat Pemanfaatan Tankos

WIB
IST

Di tengah tuntutan produksi tinggi industri sawit, pendekatan yang mengedepankan keseimbangan alam mulai ditegaskan sebagai strategi jangka panjang. Hal ini terlihat dari langkah PTPN IV Regional IV yang tidak hanya fokus pada peningkatan hasil, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan.

Komitmen itu disampaikan langsung oleh Khayamuddin Panjaitan saat melakukan kunjungan kerja ke Kebun Ophir, Pasaman Barat, Sumatera Barat, Rabu (15/4/2026).

Dalam kunjungan tersebut, ia didampingi Manager Kebun Ophir, Nazarsyah Hutagalung, untuk melihat langsung kondisi lapangan sekaligus memberikan arahan strategis kepada jajaran kebun.

Khayamuddin menegaskan bahwa orientasi produksi tidak boleh mengorbankan keseimbangan ekosistem.

“Kita memang mengejar produksi tinggi, tapi kita juga wajib menjaga keseimbangan alam dan lingkungan,” ujarnya.

Menurutnya, keberlanjutan industri sawit sangat bergantung pada kesehatan tanah sebagai fondasi utama produksi.

Salah satu strategi yang didorong adalah pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit (tankos). Selama ini, tankos sering dianggap limbah. Namun di Kebun Ophir, material tersebut justru dimanfaatkan sebagai bahan organik untuk memperbaiki kualitas tanah.

Penggunaan tankos dilakukan dengan cara dibusukkan dan dikembalikan ke lahan, sehingga mampu:

  • Memperbaiki struktur tanah
  • Menjaga kelembapan
  • Meningkatkan kesuburan alami

“Tankos bukan sekadar limbah, tapi anugerah alam yang harus dimanfaatkan secara bijak,” tegasnya.

Pendekatan ini tidak hanya soal teknis budidaya, tetapi juga perubahan cara pandang terhadap pengelolaan lahan.

Khayamuddin menekankan bahwa pemeliharaan organik adalah bentuk tanggung jawab terhadap sumber kehidupan.

“Jika tanah kita sehat, tanaman akan kuat, dan hasil yang diperoleh akan berkelanjutan,” katanya.

Langkah ini menjadi bagian dari arah baru pengelolaan perkebunan yang tidak hanya mengejar target jangka pendek, tetapi juga memastikan keberlanjutan produksi dalam jangka panjang.

Di tengah tekanan global terhadap isu lingkungan, pendekatan berbasis organik seperti ini menjadi semakin relevan.

Namun, implementasinya membutuhkan konsistensi di lapangan. Sebab, menjaga keseimbangan alam bukan pekerjaan sesaat, melainkan proses yang harus dijaga dari musim ke musim.

Di Kebun Ophir, pesan itu mulai diterjemahkan: bahwa masa depan sawit tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak yang dipanen, tetapi juga seberapa baik tanah itu dijaga. (*)

BeritaSatu Network