Oleh:
Thamrin B. Bachri **
Property Operation, Maintenance and Energy Cost (POMEC) merupakan biaya yang cukup besar dalam suatu hotel (5% - 15% dari total revenue). Bangunan hotel merupakan bangunan yang paling boros energi di dunia (Sustainable Hospitality Alliance). Bagi sebagian besar hotel bintang dan hotel non-bintang di Jambi yang berjumlah 36 hotel bintang dan sekitar 90% berpusat di Kota Jambi (30 hotel) dan tersebar di Kabupaten/Kota lainnya seperti Sarolangun, Tanjung Jabung Barat, Muara Bungo, dan Sungai Penuh (6 hotel). Data spesifik jumlah hotel non-bintang di Jambi tahun 2026 belum dirilis secara final oleh Biro Pusat Statistik (BPS) namun data BPS tahun 2021 jumlah hotel non-bintang yang tersebar di seluruh provinsi ada 197 hotel non-bintang. Jumlah hotel non-bintang terus meningkat dari 196 hotel tahun 2019 dan 197 hotel tahun 2020. Dari jumlah tersebut Kota Jambi memiliki konsentrasi hotel non-bintang tertinggi (70 hotel) diikuti seperti oleh Merangin (27 hotel), dan Kerinci (12 hotel).
POMEC biasanya membentuk bagian yang signifikan dari total biaya operational (total cost) sebuah hotel. Faktor kategori hotel dan usia gedung sangat mempengaruhi besaran dari POMEC, seperti hotel bintang 4 atau 5 dengan fasilitas lengkap (kolam renang, pusat kebugaran, HVAC – heating, ventilation, and air conditioning atau sering disebut tata udara atau AC sentral (terutama di gedung besar). Sederhananya, HVAC adalah sistem yang mengatur suhu, kelembaban, dan kebersihan udara agar orang di dalamnya merasa nyaman. Dalam biaya POMEC, HVAC biasanya jadi penyumbang penggunaan listrik yang terbesar bisa sampai 50% dari total tagihan listrik hotel. Karena itu, penghematan pada biaya POMEC dapat meningkatkan revenue hotel.
Dengan melonjaknya harga energi di seluruh dunia sebagai akibat gejolak geopolitik di Timur Tengah, sesuai pula arahan Bapak Gubernur Provinsi Jambi Al Haris untuk menghemat energi dan tekanan yang semakin besar di sektor ini untuk menangani krisis iklim, maka seyogyanya hotel-hotel di Provinsi Jambi mencari cara untuk mengurangi penggunaan energi tanpa harus mengurangi kualitas pelayanan/kenyamanan tamu hotel.
Tips Melakukan Penghematan Biaya Energi di Hotel
Tentu banyak hal yang dapat dilakukan hotel guna mereduksi penggunaan energi. Beberapa tindakan yang direkomendasikan adalah dengan biaya rendah dan waktu pengembalian modal yang relatif singkat, seperti mengganti bola lampu dengan LED, yang dapat mengurangi penggunaan energi hingga 75% dan dapat bertahan 25x lebih lama dibandingkan menggunakan bola lampu biasa. Hotel juga harus melakukan servis secara berkala pada boilernya agar dapat ditemukenali kerusakan sebelum reparasi yang lebih besar dan mahal.
Tindakan lain yang kiranya memerlukan biaya awal yang lebih besar (waktu pengembalian modal yang lebih lama), tetapi dapat menghemat lebih banyak dalam jangka panjang, misalnya mengganti peralatan dengan model yang lebih hemat energi atau memasang sistem manajemen gedung untuk mengontrol pemanasan, pendingin, dan ventilasi.
Merujuk pada World Sustainable Hospitality Alliance.org ada beberapa cara sederhana dan hemat biaya untuk menghemat energi di hotel, antara lain sebagai berikut:
- Tidak mengoperasikan sistem pemanas dan pendingin secara bersamaan. Misalnya, atur pemanas untuk mati pada suhu 21 derajat celsius dan pendingin udara untuk menyala pada suhu 23-24 derajat celcius sehingga tidak terjadi tumpang tindih.
- Hindari suhu yang terlalu panas di kamar tamu dan koridor (19 s.d 24 celcius adalah suhu yang nyaman). Menurunkan thermostat hanya sebesar 1 derajat celcius dapat mengurangi tagihan pemanas tahunan hotel sebesar 10%.
- Pasang saklar pengatur waktu dan thermostat pada radiatornya untuk memastikan kendali yang baik atas sistem pemanas dan tidak memanaskan secara berlebihan.
- Pasang sensor hunian atau sensor cahaya siang hari agar lampu hanya menyala saat dibutuhkan.
- Tidak memanaskan air telalu tinggi (suhu 60 derajat celcius adalah suhu ideal).
- Cairkan es di lemari es secara teratur dan pastikan segel pada pintu lemari es dan ruang pendingin terpasang dengan aman.
- Tata ulang dapur sehingga peralatan pemanas (seperti oven atau kompor) tidak berada di sebelah peralatan pendingin (misalnya, lemari es atau freezer).
- Gunakan penutup kolam renang saat kolam renang tidak digunakan.
- Carilah opsi energi terbarukan karena ini bisa lebih murah (dan sustainable) dari pada penyedia tradisional yang menggunakan minyak dan gas.
- Audit energi dengan menggunakan smart meter atau meteran air untuk memantau penggunaan energi secara real time dan mengidentifikasi area pemborosan.
- Libatkan para karyawan hotel agar mereka memahami apa yang dapat dilakukan mereka dan bagaimana mereka dapat mendukung program efisiensi (misalnya, mematikan lampu saat tidak digunakan). Hal ini mendorong mereka untuk berperilaku sustainable.
Akhirnya, dengan menerapkan cara sederhana tersebut diatas secara konsisten, hotel dapat berpartisipasi dalam mengurangi emisi karbon, menyelamatkan bumi dari pemanasan global, serta yang paling penting bagi hotel bahwa dengan menghemat energi dalam operasional mereka terlebih di masa seperti sekarang ini, maka menghemat energi akan memberikan prestasi langsung terhadap peningkatan pendapatan (total revenue) hotel. Hotel is Home Away From Home.
** Penulis:
THAMRIN B. BACHRI
Senior Advisor, Indonesia Tourism Supporter
Mantan Deputi Peningkatan Kapasitas & Kerjasama Luar Negeri Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata periode 2001-2003, Dirjen Pemasaran Pariwisata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata periode 2003-2008 dan alumni Lemhannas KSAX 2002, yang menempuh pendidikan di Department of Habitational Resources, Hospitality and Tourism, University of Wisconsin-Stout, USA (1990) ini mendedikasikan sebagian hidupnya di Bidang Pariwisata. Staf pengajar di Pasca Sarjana Pariwisata STP Bandung dan penggagas buku Responsible Tourism Marketing ini sangat peduli dan banyak memberikan pandangan dan pemikiran yang terkait dengan pembangunan pariwisata yang bertanggungjawab berkelanjutan (Sustainable Tourism Development). Ia berpendapat bahwa kombinasi yang akan memajukan pariwisata adalah MATERIALISM plus SHORT-TERMISM. Saat ini berdomisili di Jambi dan menjadi Tenaga Ahli Gubernur (TAG) Jambi Bidang Pariwisata.