Arahan Al Haris: Kiat Pariwisata Jambi Di Tengah Eskalasi Konflik Timur Tengah

WIB
ist

Oleh:
Thamrin B. Bachri

Pariwisata dunia termasuk Indonesia tengah menghadapi tantangan akibat gejolak konflik, terutama di daerah Timur Tengah yang menyebabkan menurunnya kunjungan wisman asal Eropa dan naiknya biaya perjalanan (traveling cost) yang berakibat turunnya kecenderungan untuk melakukan perjalanan (propensity to travel). Pemerintah Indonesia merespon dengan strategis dinamis yakni menggeser pasar sasaran ke Asia – Australia, mendorong wisata domestik dan menjamin keamanan, serta meningkatkan citra destinasi sebagai destinasi yang aman, nyaman, dan menarik untuk dikunjungi.

Perkiraan Dampak Konflik Timur Tengah Terhadap Pariwisata

Dampak konflik Timur Tengah ini tersebut bukan hanya menyebabkan penurunan wisatawan asal Eropa yang biasanya transit di Hub Timur Tengah seperti, Dubai atau Doha mulai menunda dan bahkan membatalkan perjalanannya ke destinasi-destinasi wisata seperti Bali dan Lombok. Pembatalan penerbangan dan kunjungan tercatat sekitar 377 penerbangan dari Timur Tengah yang menyebabkan perkiraan potensi kehilangan hingga 50.000 wisatawan.

Konflik ini juga memicu gangguan operasional dan kenaikan biaya yang mulai dirasakan oleh pelaku industri. Lonjakan harga minyak (avtur) diikuti oleh perubahan rute penerbangan yang lebih menjauh untuk menghindari zona konflik yang berkepanjangan dan menyebabkan lonjakan harga tiket yang sangat tajam. Pariwisata memang merupakan industri yang “safety and security sensitive” artinya permintaan akan perjalanan itu sangat peka terhadap keselamatan dan keamanan, kalau terjadi gangguan keamanan maka kecenderungan melakukan perjalanan (propensity to travel) akan mengalami penurunan. Bila konflik ini berlanjut, tentu akan menyebabkan resiko ekonomi yang serius terutama bagi negara yang bergantung pada sektor pariwisata. Seterusnya bila harga minyak semakin tinggi maka yang akan terjadi adalah Cost Push Inflation (inflasi yang terdorong oleh naiknya harga minyak) dan seterusnya, ad infinitum.

Bagaimana dengan Pariwisata di Jambi?

Bila menyimak Tingkat Penghunian Kamar (TPK) selama tahun lalu, TPK tertinggi adalah gabungan hotel bintang 4 (empat) dan 5 (lima) tahun 2025 sebesar 76,61%, sedangkan terendah hotel bintang 1 (satu) adalah 25,52% persen. Bulan Januari 2026, TPK hotel bintang 4 dan 5 di Jambi sebesar 60,94% dan terendah pada hotel bintang 1 yaitu sebesar 28,10 persen. Terjadi penurunan TPK hotel bintang pada Januari 2026 dibandingkan 2025.

Kaitan dengan terjadinya konflik di Timur Tengah dampaknya saat ini masih belum terlalu dirasakan oleh para pelaku usaha akomodasi, hanya dari hasil pembicaraan telepon dengan salah seorang General Manager Bintang 4 (empat) Kota Jambi dilaporkan bahwa bahan-bahan yang diimpor untuk keperluan F&B dan lainnya sudah banyak yang merayap naik harganya sehingga food costnya menjad naik, salah satu strategi untuk mempertahankan pelanggannya yaitu dengan mengurangi sedikit porsinya agar kualitas dan harga tetap bersahabat. Di beberapa hotel bahkan ada yang sudah mulai mengurangi single fixed cost seperti souvenir dan sejenisnya tapi lebih memperkuat in house atau in room promotionnya dan melakukan community to community marketingnya serta menggandeng para operator di berbagai pasar.

Strategi Mitigasi dan Arahan Pemerintah Daerah Terhadap Sektor Pariwisata

Menghadapi situasi ini Pariwisata Jambi disarankan menerapkan strategi “dinamis” untuk menjaga stabilitas sektor pariwisata, antara lain sebagai berikut:

  • Melakukan pergeseran Pasar (shifting the market) dari target atau pasar sasaran yang jauh ke pasar yang lebih dekat dan stabil di kawasan Jawa (60% sumber wisatawan domestik Indonesia berada di Jawa), kawasan Sumatera, termasuk komunitas orang asing di Indonesia yang gandrung wisata budaya (Jepang, Korea, China, Perancis, Jerman dan lainnya) dan menargetkan wisatawan “beyond Bali” untuk datang ke Jambi lewat pemasaran niche dengan menawarkan destinasi-destinasi minat khusus yang tersebar di Jambi;
  • Pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Pariwisata Provinsi maupun Kabupaten Kota, menurut Al Haris Gubernur Jambi dalam arahannya Pemerintah hendaknya melakukan optimalisasi wisatawan nusantara dengan mendorong pergerakan antar provinsi maupun antar kabupaten dan kota sebagai tulang punggung baru, karena itu perlu disiapkan berbagai event unggulan daerah, baik yang berbasis budaya, alam, maupun buatan sebagai daya tarik wisata, lebih lanjut, Al Haris mengatakan bahwa dalam optimalisasi wisatawan domestik dengan mengandalkan wisatawan lokal, terutama melalui momentum libur (pendekatan kalender) dan kebijakan Work From Anywhere (WFA).
  • Thamrin menambahkan bahwa adaptasi micro tourism diperlukan untuk mendorong paket wisata jarak dekat yang lebih intim dan autentik. Lebih jauh dia menyarankan agar Jambi menerapkan strategi “Safe Haven” dengan menggaungkan Jambi sebagai destinasi aman, nyaman, dan menarik untuk dikunjungi.

Penutup

Akhirnya, strategi jangka pendek, menengah dan jangka panjang perlu disiapkan untuk menjaga Pariwisata Jambi tetap kompetitif, bahkan berpeluang untuk memposisikannya sebagai destinasi premium (Candi Muaro Jambi, Geopark Merangin, Pegunungan di Kerinci, taman-taman nasional, batik maupun gastronominya serta budaya dan hospitality nya) yang berharga kompetitif bagi pasar yang tetap melakukan perjalanan.

Penulis

THAMRIN B. BACHRI
Senior Advisor, Indonesia Tourism Support

Mantan Deputi Peningkatan Kapasitas & Kerjasama Luar Negeri Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata periode 2001–2003, Dirjen Pemasaran Pariwisata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata periode 2003–2008 dan alumni Lemhannas KSA-X 2002, yang mengeyam pendidikan di Department of Habitational Resources, Hospitality and Tourism, University of Wisconsin-Stout, USA (1990) ini mendedikasikan sebagian hidupnya di Bidang Pariwisata. Staf pengajar di Pasca Sarjana Pariwisata STP Bandung dan penggagas buku Responsible Tourism Marketing ini sangat peduli dan banyak memberikan pandangan dan pemikiran yang terkait dengan pembangunan dan pariwisata yang bertanggungjawab dan berkelanjutan (Sustainable Tourism Development).

Ia berpendapat bahwa kombinasi yang akan menghancurkan pariwisata adalah MATERIALISM plus SHORT-TERMISM. Saat ini berdomisili di Jambi dan menjadi Tenaga Ahli Gubernur (TAG) Jambi Bidang Pariwisata.

BeritaSatu Network