JAMBI – Festival Ramadan 1447 H yang digelar Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Orwil Jambi bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jambi kembali menghadirkan ruang pencerahan melalui program Dakwah Digital Ramadan 1447 H, Minggu (22/2/2026).
Kegiatan kajian subuh tersebut menjadi salah satu program unggulan dalam rangkaian Festival Ramadan tahun ini. Mengangkat tema besar “Ramadhan: Membingkai Silaturrahim & Kerukunan Umat”, acara ini tidak hanya menghadirkan tausiyah, tetapi juga membangun ruang dialog reflektif di tengah tantangan sosial era digital.
Didukung oleh Jambi Link sebagai media partner, kegiatan ini disiarkan melalui kanal resmi YouTube ICMI Orwil Jambi serta Zoom Meeting, memungkinkan partisipasi jamaah dari berbagai daerah tanpa batas geografis.
Hadir sebagai narasumber utama, Sekretaris Umum MUI Provinsi Jambi, Prof. Dr. H. Lukman Hakim, M.Pd.I. Diskusi dipandu oleh Dato Nurman Djamal, S.T., M.M., M.Si., yang mengarahkan pembahasan agar tetap kontekstual dan aplikatif.
Dalam paparannya, Prof. Lukman Hakim menegaskan bahwa Ramadan tidak semata-mata menjadi ritual spiritual individual, tetapi juga momentum strategis memperkuat relasi sosial.
“Ramadhan adalah momen untuk menyambung silaturrahim, merawat toleransi, serta menjaga kerukunan umat. Musuh terbesar umat bukan perbedaan, tetapi miskomunikasi dan informasi yang tidak benar,” paparnya di awal tausiyah.
Menurutnya, perbedaan pandangan dalam masyarakat adalah keniscayaan. Namun yang kerap memicu perpecahan justru informasi yang tidak terverifikasi dan komunikasi yang tidak sehat.
Ia menekankan bahwa puasa sejatinya membentuk karakter sabar, empati, dan kemampuan mengendalikan diri—nilai yang sangat relevan dalam menjaga harmoni sosial.
Prof. Lukman memberi perhatian khusus pada dinamika komunikasi di era media sosial. Arus informasi yang cepat, masif, dan tanpa batas sering kali mengaburkan kebenaran.
Dalam paparannya, ia mengutip Surah Al-Hujurat ayat 6 tentang kewajiban melakukan tabayyun (klarifikasi) sebelum menerima dan menyebarkan informasi.
Ayat tersebut, menurutnya, menjadi pedoman moral yang sangat relevan dalam menghadapi derasnya arus konten digital.
“Tabayyun harus menjadi karakter utama umat Islam di era media sosial. Jangan sampai jari kita lebih cepat daripada akal dan hati kita,” ujarnya.
Ia juga menyinggung regulasi nasional seperti Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang melarang penyebaran informasi menyesatkan. Baginya, kepatuhan hukum dan kesadaran moral berjalan beriringan dalam menjaga ruang publik yang sehat.
Menjaga lisan, menjaga etika komunikasi, dan tidak mudah terpancing provokasi adalah bagian dari silaturrahim yang diperluas dalam konteks digital.
Lebih jauh, Prof. Lukman menggarisbawahi bahwa silaturrahim dalam Islam bukan sekadar hubungan sosial biasa. Ia adalah landasan moral yang menjaga kohesi umat.
Silaturrahim menumbuhkan rasa saling menghormati, empati, dan toleransi terhadap perbedaan. Nilai-nilai ini menjadi modal sosial penting bagi bangsa Indonesia yang majemuk, termasuk di Provinsi Jambi yang dikenal dengan keberagaman budaya dan latar belakang masyarakatnya.
Dalam sesi tanya jawab, moderator Dato Nurman Djamal mengarahkan diskusi agar tidak berhenti pada tataran teoritis. Peserta yang mengikuti secara daring aktif menyampaikan pertanyaan terkait tantangan menjaga kerukunan di lingkungan keluarga, tempat kerja, hingga media sosial.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa isu kerukunan dan komunikasi sehat bukan sekadar wacana, tetapi kebutuhan nyata masyarakat.
ICMI Orwil Jambi menilai dakwah digital sebagai bentuk inovasi yang relevan dengan perkembangan zaman. Jika ruang publik kini bergeser ke platform digital, maka dakwah pun harus hadir di ruang tersebut.
“Dakwah harus adaptif. Jika ruang publik hari ini ada di dunia digital, maka di sanalah nilai silaturrahim dan kerukunan harus terus kita gaungkan,” tutup Prof. Lukman.
Melalui Festival Ramadan 1447 H, ICMI–MUI Jambi tidak hanya menghadirkan kajian keagamaan, tetapi juga membangun narasi keumatan yang reflektif dan berbasis keilmuan.
Dakwah digital ini diharapkan mampu menjangkau generasi muda yang aktif di media sosial, sekaligus menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menahan ego, memperbaiki komunikasi, dan merawat persatuan.
Di tengah derasnya arus informasi dan dinamika sosial, pesan tabayyun dan silaturrahim yang digaungkan dalam kajian ini menjadi fondasi penting untuk menjaga kerukunan umat—baik di dunia nyata maupun di ruang digital.(*)