“Ramadan Bukan Tentang Siapa Yang Paling Kuat Menahan Lapar,
Tetapi Siapa Yang Paling Berani Menata Diri” : Wo Bujang
Oleh:
Dr. Fahmi Rasid
Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI)
Perwakilan Provinsi Jambi
Menjelang Ramadan 1447 Hijriah, Generasi Z berada pada sebuah persimpangan yang sunyi namun riuh. Sunyi karena banyak yang memendam lelah, riuh karena dunia di sekitar mereka tak pernah benar-benar berhenti berbunyi. Notifikasi datang tanpa jeda, tuntutan hidup berkejaran, dan standar sosial seolah terus meninggi tanpa memberi ruang bernapas. Dalam situasi seperti ini, Ramadan hadir bukan semata sebagai ritual tahunan, melainkan sebagai kesempatan langka untuk berhenti sejenak.
Dunia hari ini bergerak terlalu cepat. Notifikasi datang tanpa henti, target hidup dipasang terlalu tinggi, dan manusia, terutama generasi muda sering dipaksa tampak kuat di tengah kelelahan yang tidak pernah benar-benar dibicarakan. Generasi Z hidup dalam era paling terkoneksi secara digital, namun ironisnya juga paling rentan secara mental dan emosional.
Di tengah situasi itu, Ramadan hadir bukan sekadar sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai ruang jeda, sebuah momen sakral untuk berhenti sejenak, menata ulang arah hidup, dan kembali menyapa nilai-nilai yang sering terpinggirkan oleh hiruk-pikuk dunia modern.
Puasa, jika dipahami secara lebih dalam, bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan kesadaran, disiplin batin, dan pengendalian diri. Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan puasa bukanlah penderitaan fisik, melainkan pencapaian kesadaran spiritual (takwa). Takwa bukan sekadar simbol kesalehan, tetapi kemampuan mengendalikan diri di tengah godaan, tekanan, dan kecenderungan berlebih.
Ramadan sebagai Jeda Eksistensial
Bagi Generasi Z, Ramadan seharusnya dimaknai sebagai jeda eksistensial, kesempatan untuk berhenti sejenak dari perlombaan yang sering kali tidak jelas garis akhirnya. Jeda ini bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian untuk tidak terus-menerus terjebak dalam arus.
Rasulullah SAW bersabda:
“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini terasa sangat relevan di era media sosial, ketika energi, waktu, dan perhatian sering terkuras untuk hal-hal yang tidak menambah nilai hidup. Ramadan mengajarkan seni memilih: apa yang perlu diteruskan, dan apa yang perlu ditinggalkan.
PUASA DAN PENGENDALIAN DIRI DI ERA DIGITAL
Puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan emosi, ego, dan dorongan impulsif. Dalam konteks Generasi Z, ini berarti belajar mengendalikan reaksi instan—komentar kasar, perbandingan hidup yang melelahkan, serta pencarian validasi yang tak pernah usai.
Nabi Muhammad SAW mengingatkan:
“Puasa adalah perisai. Maka apabila salah seorang di antara kalian berpuasa, janganlah berkata kotor dan jangan bertengkar.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Perisai di sini bukan hanya pelindung dari dosa, tetapi juga pelindung mental. Puasa melatih ketenangan, kesabaran, dan kemampuan merespons dunia dengan lebih jernih.
Ramadan dan Kesehatan Jiwa
Berbagai studi psikologi modern menunjukkan bahwa praktik pengendalian diri, refleksi, dan pembatasan konsumsi berlebihan berdampak positif pada kesehatan mental. Ramadan secara alami menyediakan kerangka itu, jauh sebelum istilah mindfulness dandigital detox populer.
Al-Qur’an mengingatkan:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Di tengah meningkatnya kecemasan, depresi, dan krisis identitas di kalangan generasi muda, Ramadan menawarkan ketenangan yang tidak bergantung pada pencapaian materi atau pengakuan sosial, melainkan pada kedekatan spiritual.
Puasa sebagai Pendidikan Karakter
Ramadan adalah sekolah karakter paling jujur. Tidak ada kamera yang mengawasi seseorang ketika ia sendirian, kecuali kesadaran akan Allah SWT. Dari sinilah integritas lahir.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan keji, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini menegaskan bahwa puasa sejati tidak berhenti pada ritual, tetapi harus tercermin dalam perilaku sosial. Puasa yang berhasil adalah puasa yang melahirkan empati, kejujuran, dan tanggung jawab.
Ramadan dan Empati Sosial
Generasi Z hidup di tengah ketimpangan sosial yang nyata: kemiskinan, konflik, dan ketidakadilan. Ramadan mengajarkan empati bukan sebagai slogan, tetapi sebagai pengalaman langsung, merasakan lapar agar memahami mereka yang kekurangan.
Allah SWT berfirman:
“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.”
(QS. Adz-Dzariyat: 19)
Puasa melatih kepekaan sosial dan mendorong solidaritas. Inilah dimensi Ramadan yang sangat relevan untuk membangun generasi muda yang peduli dan berdaya.
MENJADI MANUSIA, BUKAN MESIN
Ramadan bukan tuntutan kesempurnaan. Ia adalah ajakan untuk menjadi manusia yang lebih sadar. Generasi Z tidak perlu tampil sempurna dalam ibadah, tetapi jujur dalam niat dan konsisten dalam proses.
Rasulullah SAW bersabda:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dikerjakan secara terus-menerus walaupun sedikit.”
(HR. Muslim)
Pesan ini penting agar Ramadan tidak menjadi beban psikologis, melainkan ruang pertumbuhan yang realistis dan berkelanjutan.
Menekan Tombol Jeda
Ramadan 1447 H / 2026 M seharusnya menjadi momentum bagi Generasi Z untuk menekan tombol jeda, berhenti sejenak dari dunia yang terlalu bising, lalu kembali dengan kesadaran baru.
Puasa bukan pelarian dari realitas, tetapi cara paling jujur untuk menata ulang makna hidup. Dari jeda inilah lahir ketenangan, kedewasaan, dan keberanian untuk hidup lebih bermakna.
Sebab pada akhirnya, Ramadan bukan tentang siapa yang paling kuat menahan lapar, tetapi siapa yang paling berani menata dirinya.
Referensi1. Al-Qur’an Al-Karim:o QS. Al-Baqarah: 183o QS. Ar-Ra’d: 28o QS. Adz-Dzariyat: 192. Hadis Nabi Muhammad SAW:o HR. Bukhari dan Muslimo HR. Tirmidzio HR. Muslim3. Al-Ghazali. Ihya’ Ulumuddin – Bab Puasa dan Penyucian Jiwa.4. Viktor E. Frankl. Man’s Search for Meaning. Beacon Press.5. WHO (2023). Mental Health and Well-being in Youth.6. Zygmunt Bauman. Liquid Modernity. Polity Press.