2026 Fokus Kebijakan Hilirisasi: Telaah Percepatan Sejahterakan Masyarakat Jambi

WIB
IST

​Oleh: Profesor Mukhtar Latif

​A. Pendahuluan
​Mengapa kebijakan hilirisasi menjadi sangat mendesak untuk segera diakselerasi di Provinsi Jambi pada tahun 2026 ini? Jambi tidak lagi bisa bergantung pada fluktuasi harga komoditas mentah di pasar global yang sering kali tidak berpihak pada kesejahteraan lokal. Selama bertahun-tahun, struktur ekonomi kita didominasi oleh ekspor bahan mentah kelapa sawit, karet, batu bara, Akasia, Bahan Baku kertas, Copy, Emas, dan lain-lain sumber daya alam yang menjadi primadona pendongkrak penghasilan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Jambi. Pola ini menyebabkan Jambi terjebak dalam pertumbuhan ekonomi yang semu; angka PDRB tampak tinggi secara makro, namun distribusi kesejahteraan di tingkat mikro tidak merata karena nilai tambah ekonomi justru diekstraksi ke luar daerah atau dinikmati oleh negara pengimpor "capital flight'. Menyimak realitas ini, Hilirisasi adalah kunci untuk mengubah paradigma "ekonomi ekstraktif" menjadi "ekonomi nilai tambah" (Gereffi, 2023).

​Fokus sektor yang harus dikejar secara simultan adalah industri turunan CPO (Crude Palm Oil), hilirisasi karet menjadi komponen industri manufaktur, dan pengolahan batu bara menjadi sumber energi alternatif, termasuk sumber-sumber daya alam lainnya yang telah dieksploitasi selama ini. Semestinya Hilirisasi bukan sekadar membangun fisik pabrik, melainkan sebuah strategi sistematis untuk memutus rantai kemiskinan yang menjadi dilema dunia pasca-gejolak ekonomi global. Dengan adanya unit pengolahan di daerah, Jambi dapat menciptakan benteng pertahanan ekonomi lokal yang tangguh terhadap guncangan pasar eksternal. Terlebih Jambi sebuah negeri yang kaya raya sumber daya alamnya, hampir semua potenai kebutuhan dunia ada di Jambi. Namun, mewujudkan visi hilirisasi ini bukanlah tanpa hambatan. Tantangan utamanya terletak pada komitmen kepemimpinan bersama para pihak, akuntabilitas birokrasi, dan collaborative will untuk membangun equity (keadilan akses), equality (kesetaraan kesempatan), serta menjunjung tinggi justice (keadilan hukum dan lingkungan) dalam realisasinya. (Mazzucato, 2021).

​B. Beberapa Agenda Strategis Percepatan Hilirisasi Jambi
​Agenda percepatan di tahun 2026 harus dimulai dengan integrasi kawasan industri dengan sentra produksi rakyat. Pemerintah Provinsi Jambi perlu mendorong skema "Hilirisasi inklusif", di mana petani swadaya tidak hanya berperan sebagai penyedia bahan baku, tetapi terlibat aktif dalam ekosistem industri melalui koperasi yang memiliki kepemilikan saham di unit pengolahan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa keuntungan industri tidak hanya terkonsentrasi pada korporasi besar. Digitalisasi rantai pasok menjadi agenda krusial untuk memastikan transparansi harga dan memangkas biaya logistik yang selama ini menjadi beban ekonomi petani (He et al., 2023).

​Selain itu, penguatan regulasi lokal yang sinkron dengan Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2021 sangat diperlukan untuk memberikan kepastian hukum bagi investor global. Jambi harus menawarkan insentif yang kompetitif, namun tetap dengan syarat ketat mengenai penyerapan tenaga kerja lokal dan transfer teknologi. Agenda ini harus dikawal dengan sistem audit yang akuntabel agar modal yang masuk benar-benar berdampak pada perbaikan struktur ekonomi akar rumput. Penataan ruang industri yang terintegrasi dengan akses pelabuhan laut menjadi prioritas agar efisiensi finansial dapat tercapai, sehingga produk Jambi mampu bersaing secara harga di pasar internasional (Piketty, 2020).

​C. Kolaborasi dan Jejaring Global: Posisi Strategis Geografis Jambi
​Jambi memiliki keunggulan geopolitik yang unik di tengah Pulau Sumatera. Dengan pengembangan infrastruktur strategis yang terkoneksi dengan jalur pelayaran internasional Selat Malaka, Jambi berpotensi menjadi pintu gerbang ekspor produk hilir ke kawasan Asia Timur dan Eropa. Kolaborasi global di tahun 2026 tidak boleh lagi bersifat transaksional jangka pendek yang hanya berfokus pada volume perdagangan mentah. Kita perlu membangun jejaring riset dengan institusi internasional untuk memastikan produk hilir Jambi memenuhi standar keberlanjutan global seperti sertifikasi rendah karbon dan standar industri hijau (Sachs, 2021).

​Posisi strategis ini memungkinkan Jambi masuk ke dalam Global Value Chain (GVC) secara lebih bermartabat. Sebagai contoh, karet Jambi tidak lagi dikirim sebagai bahan mentah setengah jadi, tetapi sebagai komponen spesifik yang dibutuhkan oleh industri otomotif elektrik global yang kini berkembang pesat. Kerjasama dengan investor asing harus diarahkan pada skema Joint Venture yang mewajibkan adanya pengembangan kapasitas SDM lokal. Dengan demikian, Jambi tidak hanya menjadi lokasi fisik pabrik, tetapi juga bertransformasi menjadi pusat keahlian industri dan inovasi teknologi di tingkat regional (Baldwin, 2022).

​D. Produk Hilirisasi Jambi untuk Siapa: Faktor Pendukung dan Sasaran
​Pertanyaan fundamental yang harus dijawab adalah: produk hilirisasi ini untuk siapa? Sasaran utamanya adalah pemenuhan kebutuhan pasar domestik yang luas serta penetrasi pasar ekspor premium. Produk turunan kelapa sawit seperti margarin, sabun, dan bahan kimia kosmetik harus mampu mengisi pasar nasional yang selama ini masih banyak disuplai oleh produk luar. Faktor pendukung utama dalam mencapai sasaran ini adalah ketersediaan energi yang murah melalui hilirisasi batu bara serta pembangunan infrastruktur jalan yang mampu menghubungkan sentra industri dengan pelabuhan (OECD, 2023).

​Secara sosiologis, sasaran hilirisasi adalah peningkatan martabat ekonomi petani lokal. Dengan adanya industri pengolahan lokal, harga komoditas di tingkat petani akan memiliki stabilitas yang lebih baik karena tidak lagi 100% bergantung pada harga bursa internasional yang fluktuatif. Dukungan dari regulasi seperti UU No. 3 Tahun 2020 memastikan bahwa setiap kegiatan industri harus memberikan manfaat nyata bagi pengembangan dan pemberdayaan masyarakat sekitar. Hal ini bertujuan untuk menciptakan keseimbangan yang sehat antara profitabilitas industri dan kesejahteraan publik secara berkelanjutan (Stiglitz, 2020).

​E. Analisis Nilai Tambah Produk dan Financial: Multiplier Effect
​Hilirisasi di Jambi pada tahun 2026 memberikan gambaran proyeksi angka yang sangat optimis namun tetap berbasis pada data yang terukur. Analisis nilai tambah menunjukkan bahwa mentransformasi bahan mentah menjadi barang jadi mampu meningkatkan nilai ekonomi komoditas antara 5 hingga 10 kali lipat. Secara finansial, ini bukan hanya soal akumulasi keuntungan perusahaan, tetapi tentang bagaimana sirkulasi uang bertahan lebih lama dan berputar di dalam daerah (multiplier effect).

​Dampak yang paling signifikan adalah proyeksi penyerapan 200.000 tenaga kerja baru yang tercipta langsung dari mata rantai industri pengolahan. Secara sektoral, industri turunan kelapa sawit (oleokimia dan pangan) diproyeksikan menyerap 90.000 tenaga kerja. Fokusnya adalah pengolahan CPO menjadi biodiesel dan bahan kimia industri, mengubah buruh hulu menjadi operator terampil. Sektor manufaktur karet alam diproyeksikan menyerap 50.000 tenaga kerja, berfokus pada produksi ban dan alat kesehatan. Sementara itu, hilirisasi batu bara dan energi bersih menyerap 40.000 tenaga kerja melalui operasional pabrik pengolahan mineral dan energi mulut tambang. Sisanya, sekitar 20.000 tenaga kerja, akan terserap pada sektor jasa logistik industri dan manajemen pergudangan modern (Jomo, 2024; Smith & Hall, 2021).

​Dampak ekonomi selanjutnya adalah peningkatan pendapatan daerah. Dengan tumbuhnya pusat-pusat industri baru, pendapatan daerah perkotaan, terutama di Kota Jambi dan wilayah penyangga industri, diproyeksikan akan meningkat sebesar 15% hingga 20%. Peningkatan ini bersumber dari pajak industri dan meningkatnya daya beli masyarakat. Efek berantai ini sangat krusial dalam menurunkan angka kemiskinan. Dengan target penyerapan tenaga kerja formal tersebut, Provinsi Jambi ditargetkan mampu menurunkan angka kemiskinan secara drastis sebesar 2% hingga 3,5% dalam periode 2026-2028. Penurunan ini dimungkinkan karena setiap posisi di industri hilir memiliki stabilitas pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan sektor ekstraktif mentah. (Liu et al., 2022; Zhang, 2023).

​F. Penutup
​Hilirisasi di Jambi tahun 2026 bukan sekadar pilihan ekonomi, melainkan sebuah keniscayaan sosiologis untuk menyelamatkan masa depan generasi mendatang. Ia bukan hanya tentang membangun cerobong pabrik, tapi tentang membangun kembali martabat ekonomi masyarakat. Jika dijalankan dengan prinsip transparansi, akuntabilitas yang ketat, dan semangat kolaboratif, Jambi akan bertransformasi menjadi aktor utama dalam peta ekonomi global.

​Investasi pada manusia melalui penguatan pendidikan vokasi harus berjalan seiring dengan pembangunan fisik industri. Hanya dengan cara inilah, angka 200.000 tenaga kerja baru tersebut bukan sekadar statistik, melainkan representasi dari rakyat Jambi yang kini lebih berdaya secara ekonomi. Hilirisasi adalah jalan menuju keadilan ekonomi, keadilan sosial, keadilan dalam eksploitasi Sumber daya alam yang tidak manusiawi. Efek lain, dambaan negeri ini adalah, meningkatnya kesejahteraan, pencerdasan kehidupan masyarakat di sektor pendidikan yang tertinggal, dan menurunnya signifikansi angka kemiskinan secara berkelanjutan. (Schwab, 2021).

​Referensi:

  1. Baldwin, R. (2022). The Globotics Upheaval: Globalization, Robotics, and the Future of Work. Oxford University Press.
  2. Brynjolfsson, E., & McAfee, A. (2021). The Second Machine Age: Work, Progress, and Prosperity in a Time of Brilliant Technologies. W. W. Norton & Company.
  3. Collier, P. (2020). The Future of Capitalism: Facing the New Anxieties. HarperCollins.
  4. ​Gereffi, G. (2023). Global Value Chains and Development. Cambridge University Press.
  5. ​He, P., et al. (2023). "Digital Transformation and Supply Chain Resilience in Agriculture." Journal of Cleaner Production (Q1 Scopus).
  6. Higgins, K. L. (2021). Economic Growth and Sustainability Systems. Routledge.
  7. Jomo, K. S. (2024). Economic Diversification in Resource-Rich Economies. Palgrave Macmillan.
  8. Kaplinsky, R. (2022). Sustainable Futures: An Agenda for Action. Polity Press.
  9. ​Liu, Y., et al. (2022). "The Impact of Downstream Integration on Resource-Based Economies." Resources Policy (Q1 Scopus).
  10. Mazzucato, M. (2021). Mission Economy: A Moonshot Guide to Changing Capitalism. Penguin Books.
  11. OECD. (2023). Perspectives on Global Development 2024: Investing in Sustainable Commodities. OECD Publishing.
  12. Piketty, T. (2020). Capital and Ideology. Harvard University Press.
  13. ​Rodrik, D. (2024). The Globalization Paradox: Democracy and the Future of the World Economy. Oxford University Press.
  14. Sachs, J. D. (2021). The Ages of Globalization. Columbia University Press.
  15. Schwab, K. (2021). Stakeholder Capitalism: A Global Economy that Works for Progress, People and Planet. Wiley.
  16. Smith, T., & Hall, S. (2021). "Sustainable Palm Oil and Value Chain Governance." Global Environmental Change (Q1 Scopus).
  17. ​Stiglitz, J. E. (2020). People, Power, and Profits: Progressive Capitalism for an Age of Discontent. W. W. Norton.
  18. ​UNCTAD. (2023). World Investment Report: Investing in Sustainable Energy for All. United Nations.
  19. Wang, L. (2024). "Industrial Policy and Green Growth in Emerging Economies." World Development (Q1 Scopus).
  20. ​Zhang, X. (2023). "Poverty Alleviation through Industrial Value Addition." Journal of Development Economics (Q1 Scopus).
    ​Regulasi Terkait:
  21. Undang-Undang No. 3 Tahun 2020 (Pertambangan Mineral dan Batubara).
  22. Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2021 (Penyelenggaraan Bidang Perindustrian).
  23. Peraturan Presiden No. 10 Tahun 2021 (Bidang Usaha Penanaman Modal).

BeritaSatu Network