KERINCI, JAMBI – Kabupaten Kerinci memiliki modal besar dalam pengembangan pariwisata. Keindahan Danau Kerinci, panorama Gunung Kerinci, hamparan perkebunan teh Kayu Aro, serta kekayaan adat dan budaya menjadi daya tarik yang membuat daerah ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata di Provinsi Jambi.
Besarnya potensi tersebut terlihat dari angka kunjungan wisatawan sepanjang 2026.
Berdasarkan data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kerinci yang diberitakan Jambi Ekspres pada 25 Oktober 2026, jumlah kunjungan wisatawan domestik selama Januari hingga September 2026 mencapai 763 ribu kunjungan. Sementara itu, kunjungan wisatawan mancanegara tercatat sebanyak 700 kunjungan.
Angka tersebut menjadi sinyal positif bagi perkembangan sektor pariwisata daerah. Bahkan, capaian kunjungan hingga September disebut telah melampaui target pemerintah daerah.
Namun, di balik angka kunjungan yang besar, ada persoalan yang perlu mendapatkan perhatian lebih serius: sejauh mana peningkatan pariwisata benar-benar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal?
Sebab, keberhasilan pariwisata tidak cukup hanya diukur melalui jumlah wisatawan yang datang. Ukuran lainnya adalah berapa lama wisatawan tinggal, berapa banyak uang yang dibelanjakan, serta berapa besar manfaat yang diterima oleh pelaku usaha lokal.
Apakah peningkatan kunjungan tersebut ikut meningkatkan pendapatan pedagang kecil, pemilik penginapan, pengelola destinasi, pengemudi transportasi, dan pelaku UMKM?
Pertanyaan ini semakin relevan ketika Festival Budaya Kerinci 2026 diselenggarakan pada 22–25 Oktober di kawasan Dermaga Danau Kerinci.
Mengusung tema "Sekepal Tanah Surga, Negeri Seribu Budaya", festival tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan tradisi dan identitas masyarakat Kerinci.
Pemerintah Kabupaten Kerinci melalui publikasi resminya menyebut festival tersebut sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus penguatan pariwisata dan ekonomi kreatif.
Kegiatan ini menghadirkan beragam atraksi budaya, mulai dari pawai budaya, pertunjukan seni tradisional, pameran benda budaya, kuliner tradisional, hingga berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat.
Kehadiran pelaku usaha muda juga memperlihatkan peluang lain dari kegiatan pariwisata. Salah satunya Noka Experience yang diperkenalkan Anugra Andiska, Ketua Umum HIPMI Kerinci, dalam Festival Kerinci pada 22 Oktober 2026.
Menghadirkan konsep kedai kopi dengan nuansa tempo dulu dan atap rumbia, usaha tersebut mencoba menggabungkan produk kopi dengan identitas budaya lokal.
Konsep semacam ini memperlihatkan bahwa pariwisata tidak harus selalu bergantung pada keindahan alam. Kreativitas masyarakat, kuliner, produk lokal, dan pengalaman budaya juga dapat menjadi bagian dari daya tarik wisata.
Meski demikian, festival tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial yang hanya ramai selama beberapa hari.
Pemerintah daerah perlu memastikan adanya strategi lanjutan, seperti penguatan promosi destinasi, peningkatan kualitas fasilitas wisata, pembinaan UMKM, pengembangan paket wisata, serta kemudahan akses bagi pengunjung.
Evaluasi juga harus didukung data yang terukur. Jumlah kunjungan perlu dibedakan dari jumlah wisatawan unik, sementara dampak ekonomi perlu dilihat melalui transaksi UMKM, tingkat hunian penginapan, lama tinggal, dan perputaran ekonomi masyarakat.
Dengan demikian, angka kunjungan tidak hanya menjadi bahan laporan keberhasilan, tetapi juga menjadi dasar penyusunan kebijakan yang lebih tepat.
Kerinci memiliki keindahan alam dan kekayaan budaya yang tidak perlu diragukan. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi sumber kesejahteraan yang dapat dinikmati masyarakat secara luas.
Festival boleh selesai, panggung boleh dibongkar, dan wisatawan boleh kembali ke daerah masing-masing. Namun, peluang ekonomi yang telah terbuka seharusnya tidak ikut berakhir.
Sebab, pariwisata yang berhasil bukan hanya pariwisata yang mampu mendatangkan banyak pengunjung, melainkan pariwisata yang mampu menghidupkan usaha masyarakat, menjaga warisan budaya, dan menciptakan kesejahteraan secara berkelanjutan.