Oleh:
Thamrin B. Bachri
PENDAHULUAN
Beberapa penulis asing terkemuka yang secara khusus mendedikasikan karyanya untuk membahas dinamika aviasi (penerbangan), pariwisata dan fusi (penggabungan) keduanya dalam bentuk literatur perjalanan (travel writing) global di antaranya adalah Antoine de Saint Exupery yang berfokus utama pada pelopor tulisan filosofis dengan karya terkenalnya Night Flight dan Sand and Stars. Pilot yang berasal dari Perancis ini buku-bukunya menggambarkan bagaimana aviasi membuka batas-batas dunia dan menghubungkan budaya terpencil. Sedangkan, penulis Alain de Botton yang terkenal dengan The Art of Travel and A Week at The Airport. Filsuf terkenal ini membedah psikologi pariwisata – mengapa manusia melakukan perjalanan dan bagaimana ekspektasi pariwisata seiring berbeda dengan realitas, sedangkan dalam bukunya A Week At The Airport ia mendokumentasikan bandara sebagai “jantung penggerak pariwisata global” tempat jutaan cerita manusia bersilangan. Di samping itu, ekonom transportasi terkemuka Kenneth Botton banyak meniliti liberasi pasar penerbangan, regulasi serta bagaimana konektivitas udara menopang wilayah terpencil dan global serta menekankan poin penting transportasi udara dalam pandangan ekonomi. Sektor penerbangan menyumbang triliunan US Dollar secara langsung maupun tidak langsung terhadap aktivitas ekonomi dunia.
Transportasi udara memainkan peran sebagai “katalisator utama” dalam perekonomian global, regional, nasional maupun lokal. Berbeda dengan transportasi lainnya, transportasi udara memiliki keunggulan mutlak pada kecepatan tinggi dan kemampuan menembus hambatan geografis (seperti laut dan pegunungan). Keunggulan ini menciptakan efisiensi waktu yang luar biasa bagi mobilitas manusia dan barang. Lebih lanjut industri aviasi menjadi tulang punggung industri pariwisata global karena aktivitas pariwisata internasional maupun nasional hampir mustahil berkembang pesat tanpa kehadiran maskapai penerbangan.
TANTANGAN INDUSTRI PENERBANGAN (AVIASI) PROVINSI JAMBI
Sejumlah tantangan industri aviasi atau penerbangan di provinsi Jambi adalah terdapat pada keterbatasan konektivitas udara, faktor cuaca musiman serta infrastruktur yang belum merata. Meskipun memiliki produk inti (core products) seperti Candi Muaro Jambi, Keindahan alam Kerinci, Unesco Global Geopark Merangin, dan sejumlah taman nasional, pergerakan wisatawan masih terhambat 0leh beberapa persoalan mendasar seperti friksi jarak antar destinasi dan keterbatasan konektivitas udara. Sehingga sulit mendesain paket-paket wisata yang menjual (salable) khususnya untuk turis massal (mass tourist) yang dampak ekonominya relatif besar dibandingkan turis minat khusus meskipun jumlah destinasi wisata minat khusus cukup banyak.
Perlu diketahui bahwa Jambi merupakan satu-satunya provinsi di tengah jaringan tengah-selatan Sumatera yang belum memiliki rute internasional aktif di bandara utamanya. Bandara Sultan Thaha. Wisatawan mancanegara harus transit melalui Jakarta, Batam atau Palembang, yang menjadikan waktu tempuh dan biaya perjalanan menjadi tidak budget friendly atau kompetitif. Berikutnya ada tantangan musiman akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak langsung pada operasional penerbangan akibat kabut asap tebal, jarak pandang sering menurun drastis dan hal ini memicu penundaan (delay) hingga pengalihan (divert) pesawat ke kota lain yang sangat mengganggu kenyamanan wisatawan/penumpang. Lebih lanjut adalah, tingkat keterisian penumpang yang tidak stabil membuat maskapai kerap melakukan penyesuaian atau pengurangan jadwal penerbangan dari dan menuju Jambi. Terkait dengan pariwisata Bandara Sultan Thaha berada di kota Jambi sedangkan core product utama wisata alam seperti Gunung Kerinci berada sangat jauh, jalur darat dari kota Jambi ke Kerinci membutuhkan waktu tempuh hingga 10 - 12 Jam dengan kondisi jalan yang fluktuatif dan rest area yang masih dibawah standar minimal terutama keberadaan air bersihnya, sementara itu, Jalur udara ke Bandara Depati Parbo di Kerinci pun belum melayani penerbangan komersial terjadwal secara masif atau kontinyu disamping kurangnya fasilitas publik dan pengelolaan.
Bagaimana dengan Bandara Muara Bungo dan Bandara Depati Parbo Kerinci?
Bandara Muara Bungo memegang peranan sangat strategis sebagai hub konektivitas udara wilayah barat provinsi jambi. Jika Bandara Sultan Thaha berfokus melayani area timur dan tengah. Bandara Muara Bungo menjadi pintu gerbang utama bagi masyarakat di wilayah barat Jambi serta kabupaten-kabupaten tetangga. Posisi strategisnya sangat menguntungkan karena menjadi penyangga bagi 7 kabupaten di sekitarnya yang berjarak rata-rata di bawah 100-kilometer dari bandara. Keberadaan bandara ini akan mereduksi waktu perjalanan masyarakat wilayah barat Jambi (seperti Bungo, Tebo, Merangin hingga Sarolangun) yang sebelumnya harus menempuh jalur darat hingga 6 - 8 jam menuju kota jambi untuk terbang keluar pulau.
Konektivitas bandara ini terus diperkuat secara komersial oleh maskapai nasional Batik Air yang sejak 15 Juni 2026 resmi membuka layanan penerbangan langsung rute Jakarta - Muara Bungo (pulang-pergi), dengan tingkat keterisian kursi (load factor) yang rata-rata stabil mencapai 80%.
Melalui kementerian terkait, pemerintah terus mendorong optimalisasi slot penerbangan ke Muara Bungo untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi dan pariwisata, bandara ini menjadi alternatif terdekat bagi wisatawan darat yang ingin menuju ke destinasi wisata nasional seperti Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), mengingat jalur udara langsung ke bandara Depati Parbo Kerinci masih menghadapi kendala operasional akibat kabut tebal di pagi hari.
Selanjutnya, Bandara Muara Bungo juga memberikan multi manfaat bagi UNESCO Global Geopark Merangin utamanya adalah akses cepat karena jarak dari Bandara Muara Bungo ke Pusat Informasi Geopark Merangin di Bangko hanya 76 kilometer, jauh lebih dekat dibandingkan darat dari kota Jambi yang memakan waktu berjam-jam dan mempermudah (efisiensi perjalanan) kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara, terutama dengan tersedianya rute penerbangan langsung seperti layanan Batik Air dari Jakarta dan terbukti pula bahwa Bandara Muara Bungo mendukung status sebagai UNESCO Global Geopark dengan mempermudah mobilitas tim ahli, peneliti dan evaluator baik untuk keperluan riset maupun revalidasi. Karena itu, Bandara Muara Bungo akan menjadi driver bagi peningkatan kunjungan wisatawan yang pada akhirnya akan menggerakan roda perekonomian lokal, UMKM serta investasi di sekitar kawasan wisata Merangin.
UPAYA PENGEMBANGAN INDUSTRI AVIASI (PENERBANGAN) PROVINSI JAMBI DALAM MENDUKUNG PARIWISATA
Upaya pengembangan Bandara Sultan Thaha saat ini difokuskan pada peningkatan kapasitas infrastruktur guna menopang ambisi menjadi bandara internasional, di samping wacana jangka panjang membangun bandara baru di wilayah pesisir. Dua lokasi pilihan yang dilirik adalah Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Tanjung Timur. Wilayah Tanjung Jabung Timur pada tahap inisial dianggap paling strategis karena lokasinya berada di wilayah pesisir dekat laut, cocok untuk merancang landasan pacu sepanjang 2.602 meter yang dapat melayani penerbangan global berskala besar.
Sedangkan Bandara Sultan Thaha ada kendala pengembangan landasan pacu karena secara fisik berada di tengah kawasan perkotaan (Kecamatan Paal Merah) membuat perluasan landasan pacu (runway) cukup terbatas. Hal ini terus menjadi topik pembahasan di forum pembangunan daerah karena panjang runway yang ada belum ideal untuk pendaratan pesawat berbadan lebar (wide-body) dalam jumlah besar. Karena keterbatasan lahan inilah Pemerintah Provinsi Jambi membuka peluang bekerja sama dengan investor untuk mematangkan opsi pembangunan bandara baru bertaraf internasional seperti sudah diuraikan di atas.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jambi bersama PT Angkasa Pura II terus pula mengupayakan peningkatan status bandara agar bisa melayani rute penerbangan internasional komersial langsung. Beberapa target pasar luar negeri yang dinilai potensial adalah Malaysia, Singapura, China, dan Arab Saudi (untuk Umroh/Haji). Sedangkan sisi darat dan area publik (Landside) direncanakan secara bertahap perluasan terminal penumpang dari kapasitas yang ada menjadi area yang dapat menampung penumpang hingga 2,6 juta penumpang per tahun, termasuk optimalisasi lahan parkir dan aksesibilitas.
Selanjutnya, upaya utama untuk meningkatkan peran Bandara Muara Bungo dan Bandara Depati Parbo Kerinci adalah memperkuat sinergi antar daerah antara kabupaten Bungo, kabupaten Kerinci dan kota Sungai Penuh untuk mendukung konektivitas udara wilayah barat provinsi Jambi, menambah rute dan maskapai penerbangannya serta peningkatan fasilitas dan infrastruktur (seperti: pembangunan VIP Room di bandara Muara Bungo dan peningkatan komersial area di bandara dan menjadikan bandara sebagai creative-hub), serta perbaikan infrastruktur menuju bandara.
Upaya-upaya tersebut di atas akan berprestasi secara langsung terhadap sektor pariwisata. Potensi pariwisata wilayah barat provinsi Jambi akan didukung secara langsung oleh kehadiran Bandara Muara Bungo dan Bandara Depati Parbo Kerinci seperti berbagai obyek wisata di Bungo, UNESCO Global Geopark Merangin, wisata alam berskala internasional dan ekowisata Kerinci, serta wisata dan rekreasi keluarga. Keberadaan kedua bandara ini memangkas waktu tempuh perjalanan darat yang memakan waktu 10 - 12 jam dari kota Jambi.
PENUTUP
Untuk dapat mewujudkan upaya-upaya tersebut di atas maka perilaku dan langkah nyata yang harus diambil Pemerintah adalah mempermudah perizinan dengan memangkas birokrasi yang berbelit-belit untuk sertifikasi bandara, AMDAL (Analisis Dampak Lingkungan) dan izin ruang udara, bernegosiasi secara internasional terkait pengaturan wilayah udara (open sky policy) agar maskapai asing mau membuka rute, dan menyediakan insentif pajak bagi investor dan maskapai penerbangan di masa-masa awal operasional.
Lebih lanjut, Pemerintah harus aktif menjemput bola dengan mempromosikan bandara ke maskapai internasional agar mereka bersedia membuka rute pemerbangan langsung, dan tak kalah pentingnya memperkuat sektor Pariwisata dan Bisnis dengan mengembangkan potensi daerah (destinasi wisata dengan berbagai fasilitas pendukungnya) agar ada permintaan (demand) nyata dari penumpang mancanegara maupun nusantara serta menjamin keamanan dan imigrasi dengan menyediakan fasilitas bea-cukai, imigrasi, dan karantina (CIQ) yang modern, cepat, serta bebas dari pungutan liar.
Pemerintah pusat dan pemerintah daerah (Pemda) harus menunjukan perilaku yang sinergis, kolaboratif dan tidak tumpang tindih karena keduanya memiliki porsi tanggung jawab yang berbeda namun saling mengikat. Pemerintah pusat (Kemenhub) sebagai pemegang otoritas tertinggi, regulator makro, dan penghubung internasional sedangkan Pemda bertindak sebagai fasilitator lokal, penyedia ruang, dan penggerak ekonomi daerah yang menjamin ketersediaan lahan melalui RTRW daerah, membangun aksesibilitas non-udara, mempermudah izin lokal, serta menyiapkan daya tarik daerah dengan aktif membangun industri pariwisatanya untuk menciptakan demand (penumpang dan kargo) yang berkelanjutan.
Akhirnya, transparansi dan Anti-Korupsi dalam mengelola proyek pembangunan secara jujur demi menjaga kepercayaan investor asing maupun nasional. SEMOGA.
** Penulis:
THAMRIN B. BACHRI
Senior Advisor, Indonesia Tourism Support
Mantan Deputi Peningkatan Kapasitas & Kerjasama Luar Negeri Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata periode 2001-2003, Dirjen Pemasaran Pariwisata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata periode 2003-2008 dan alumni Lemhannas KSA-X 2002, yang mengenyam pendidikan di Department of International Resources, Hospitality and Tourism, University of Wisconsin-Stout, USA (1990) ini mendedikasikan sebagian hidupnya di Bidang Pariwisata.
Staf pengajar di Pasca Sarjana Pariwisata STP Bandung dan penggagas buku Responsible Tourism Marketing ini sangat peduli dan banyak memberikan pandangan dan pemikiran yang terkait dengan pembangunan dan pariwisata yang bertanggungjawab dan berkelanjutan (Sustainable Tourism Development).
Ia berpendapat bahwa kombinasi yang akan menghancurkan pariwisata adalah MATERIALISM plus SHORT-TERMISM.
Saat ini berdomisili di Jambi dan menjadi Tenaga Ahli Gubernur (TAG) Jambi Bidang Pariwisata.