BKSDA Jambi Bersama Mitra PROTECT30 Tinjau Upaya Perlindungan Gajah Sumatra di Lanskap Bukit Tigapuluh

WIB
ist

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi bersama para mitra dalam konsorsium PROTECT30 meninjau perkembangan kegiatan perlindungan habitat Gajah Sumatra di Lanskap Bukit Tigapuluh, Sabtu (22/8). Kunjungan lapangan ini menjadi bagian dari pemantauan pelaksanaan program sekaligus penguatan koordinasi antarpara pihak dalam menjaga konektivitas habitat dan mengurangi potensi konflik antara manusia dan gajah.

Lanskap Bukit Tigapuluh yang mencakup wilayah Provinsi Jambi dan Riau merupakan salah satu kawasan penting bagi konservasi Gajah Sumatra. Dengan luas sekitar 600.605 hektare dan estimasi populasi 90–120 individu, lanskap ini memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan populasi gajah beserta ekosistem yang mendukung kehidupannya.

Dalam beberapa tahun terakhir, dinamika perubahan tutupan dan penggunaan lahan telah memengaruhi ruang jelajah serta pola pergerakan gajah. Sejak 2022, teridentifikasi sejumlah hambatan pada jalur pergerakan menuju habitat inti, termasuk meningkatnya okupansi lahan dan ditemukannya jerat listrik pada beberapa area di dalam lanskap.

Kondisi tersebut berpotensi memutus konektivitas antarhabitat dan membatasi ruang jelajah gajah pada areal yang semakin sempit. Akibatnya, pergerakan gajah ke area di luar kawasan hutan dapat meningkat dan memperbesar potensi interaksi negatif dengan masyarakat.

Identifikasi dan pemetaan jalur pergerakan, titik-titik okupansi, serta potensi ancaman lainnya menjadi dasar untuk menentukan langkah penanganan yang tepat. Upaya membuka kembali dan menjaga konektivitas jalur pergerakan gajah antarpetak habitat, termasuk wilayah sungai dan anak sungai yang secara tradisional menjadi bagian dari ruang jelajah gajah, memerlukan penanganan yang terpadu, konsisten, dan berkelanjutan.

“Perlindungan Gajah Sumatra tidak dapat dilakukan hanya pada satu lokasi atau oleh satu pihak. Kita perlu melihat habitat dan ruang jelajahnya sebagai satu kesatuan lanskap. Melalui kunjungan ini, kami ingin memastikan bahwa kegiatan di lapangan berjalan sesuai kebutuhan konservasi serta didukung dengan koordinasi dan pemantauan yang baik,” ujar Kepala BKSDA Jambi, Himawan

Pendekatan kolaboratif berbasis lanskap menjadi penting karena pengelolaan habitat gajah melibatkan kawasan dengan fungsi, status, dan pemangku kepentingan yang beragam. Karena itu, peran pemerintah, pengelola kawasan konservasi, pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, masyarakat, dan sektor swasta perlu dijalankan secara saling melengkapi.

Salah satu bentuk kolaborasi tersebut dilaksanakan melalui PROTECT30 (Promoting Sustainable Landscape Management through Biodiversity Conservation and Forest Positive Action in Bukit Tigapuluh Landscape). Inisiatif ini dijalankan oleh konsorsium yang terdiri dari APP Group, KKI Warsi, Proforest, dan WWF Indonesia, dengan berkolaborasi bersama BKSDA Jambi, Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh, serta para pemangku kepentingan lainnya.

PROTECT30 dikembangkan untuk mendukung pengelolaan Lanskap Bukit Tigapuluh yang berkelanjutan dan inklusif. Ruang lingkupnya mencakup perlindungan habitat, peningkatan konektivitas lanskap, penguatan tata kelola, serta pengembangan pilihan penghidupan berkelanjutan bagi masyarakat sekitar. Inisiatif ini juga mendukung penguatan kembali pengelolaan kawasan bernilai konservasi tinggi bagi Gajah Sumatra di Jambi, termasuk di wilayah Datuk Gedang.

Setelah pelaksanaan kick-off pada Februari 2026, sejumlah kegiatan mulai memasuki tahap implementasi. Dalam kunjungan kali ini, BKSDA Jambi dan para mitra meninjau kegiatan penanaman pengayaan pakan gajah di Taman Wisata Alam Buluh Hitam serta dukungan peningkatan ketersediaan pakan bagi gajah binaan BKSDA Jambi.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperbaiki kualitas habitat dan mendukung pengelolaan populasi Gajah Sumatra. Pelaksanaannya akan terus dipantau dan dievaluasi agar intervensi yang dilakukan sesuai dengan kondisi ekologis, kebutuhan pengelolaan kawasan, serta dinamika sosial masyarakat di sekitar lanskap.

Chief Sustainability Officer APP Group, Elim Sritaba, menyampaikan bahwa kolaborasi multipihak merupakan elemen penting dalam mendukung pelestarian Lanskap Bukit Tigapuluh.

“Kami percaya bahwa masa depan konservasi bergantung pada kemampuan berbagai pihak untuk bekerja bersama dalam satu lanskap yang sama. Melalui PROTECT30 yang sejalan dengan komitmen Regenesis, kami mendukung pendekatan forest-positive yang mengintegrasikan perlindungan keanekaragaman hayati, pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, serta penguatan penghidupan masyarakat. Dengan kolaborasi yang kuat, kami berharap Lanskap Bukit Tigapuluh dapat menjadi contoh bagaimana konservasi dan pembangunan dapat berjalan secara seimbang,” ujar Elim.

Ke depan, BKSDA Jambi bersama para mitra akan terus memperkuat koordinasi, pemantauan lapangan, dan pertukaran data untuk mendukung perlindungan habitat serta konektivitas pergerakan Gajah Sumatra. Kolaborasi ini diharapkan dapat menghasilkan langkah konservasi yang terukur, adaptif, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi kelestarian ekosistem maupun masyarakat di Lanskap Bukit Tigapuluh. (*)

BeritaSatu Network