Mendes Yandri Guyur Program untuk Merangin: 3 Kades Bakal Dikirim Belajar ke China, 205 Anak Desa Disiapkan Kursus Kerja ke Jepang

WIB
ist

Merangin - Kabupaten Merangin bakal mendapat sederet program dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT).

Programnya tidak kecil.

Tiga kepala desa dari Merangin direncanakan dikirim ke Tiongkok atau China untuk mempelajari strategi pengembangan desa dan daerah tertinggal.

Tak hanya para kades.

Satu putra atau putri dari masing-masing desa di Merangin juga disiapkan mengikuti kursus yang diarahkan untuk membuka peluang bekerja di Jepang.

Menteri Desa PDTT Yandri Susanto menyampaikan program tersebut saat menghadiri Upacara Retreat Kepala Desa Kabupaten Merangin di Dodikjur Rindam III Siliwangi, Bandung, Senin (24/8/2026).

“Nanti saya minta tiga orang kepala desa dari Kabupaten Merangin akan kita kirim ke Tiongkok, untuk mengikuti pendidikan strategi memajukan desa atau daerah tertinggal,” ujar Yandri, Selasa (25/8/2026).

Tiga Kades Belajar ke Tiongkok

Program pertama menyasar kepala desa.

Sebanyak tiga kades dari Kabupaten Merangin akan dipilih untuk mengikuti pendidikan di Tiongkok.

Materi yang ingin dipelajari berkaitan dengan strategi memajukan desa maupun daerah tertinggal.

Program tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kunjungan.

Pengetahuan yang diperoleh nantinya diharapkan bisa dibawa pulang dan diterapkan sesuai kebutuhan desa-desa di Merangin.

Dengan jumlah 205 desa yang tersebar di Kabupaten Merangin, transfer pengetahuan setelah program menjadi bagian penting agar manfaatnya tidak hanya dirasakan tiga kades yang berangkat.

205 Anak Desa Disiapkan Ikut Kursus

Program berikutnya menyasar generasi muda.

Merangin memiliki 205 desa dan 10 kelurahan yang tersebar di 24 kecamatan.

Pemerintah merencanakan satu putra atau putri dari setiap desa mendapat kesempatan mengikuti kursus.

Artinya, apabila program direalisasikan penuh sesuai skema tersebut, terdapat 205 putra-putri desa yang berpeluang masuk program.

Kursus itu diarahkan untuk membuka kesempatan bekerja di Jepang.

Namun program kursus tidak berarti peserta otomatis diterima bekerja di Jepang.

Masih terdapat tahapan pelatihan, kesiapan kompetensi, persyaratan administrasi maupun mekanisme penempatan tenaga kerja yang nantinya harus dipenuhi sesuai ketentuan.

Bumdesma Disiapkan Rp2,5 Miliar

Yandri juga membawa program penguatan ekonomi desa.

Melalui Program Sehati, pemerintah menyiapkan dukungan sebesar Rp2,5 miliar untuk setiap Badan Usaha Milik Desa Bersama atau Bumdesma di tingkat kecamatan.

Merangin memiliki 24 kecamatan.

Jika seluruh kecamatan memiliki Bumdesma yang memenuhi persyaratan dan seluruhnya memperoleh alokasi Rp2,5 miliar, potensi dukungannya secara matematis dapat mencapai sekitar Rp60 miliar.

Namun angka Rp60 miliar tersebut merupakan kalkulasi dari 24 kecamatan dikalikan Rp2,5 miliar, bukan angka total pencairan yang sudah dinyatakan terealisasi.

Realisasinya tetap bergantung pada ketentuan program dan Bumdesma yang memenuhi persyaratan.

Modal Desa Didorong Jadi Mesin Ekonomi

Dukungan terhadap Bumdesma diarahkan untuk memperkuat kegiatan usaha di tingkat desa dan kecamatan.

Harapannya, modal tersebut tidak hanya mengendap.

Bumdesma dituntut mampu membaca potensi ekonomi wilayah.

Apa yang bisa diproduksi.

Apa yang bisa dipasarkan.

Pasar mana yang bisa dimasuki.

Dan usaha apa yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan.

Jika dijalankan dengan baik, Bumdesma dapat menjadi salah satu instrumen untuk menghubungkan potensi desa dengan pasar yang lebih luas.

Kopi hingga Gula Aren Dibidik Ekspor

Pemerintah pusat juga menjanjikan dukungan untuk membuka akses ekspor produk unggulan Merangin.

Beberapa komoditas telah disebut.

Kopi.

Gula aren.

Jahe.

Serta produk pertanian dan komoditas unggulan lainnya.

“Kita juga akan membantu Kabupaten Merangin untuk mengekspor berbagai komoditi unggulan seperti kopi, gula aren, jahe dan berbagai produk pertanian dan unggulan lainnya,” kata Yandri.

Program ekspor tersebut akan membutuhkan pemetaan yang lebih rinci.

Sebab tidak semua produk desa dapat langsung masuk pasar luar negeri.

Volume produksi harus cukup.

Kualitas harus konsisten.

Standar produk harus dipenuhi.

Pasokan harus berkelanjutan.

Dan akses pasarnya harus tersedia.

Bupati Syukur Akan Klasterkan Potensi Desa

Bupati Merangin M Syukur menyambut program tersebut.

Pemkab Merangin akan memetakan potensi masing-masing desa dan kecamatan.

Komoditas yang memiliki prospek ekonomi akan diklasterkan agar pengembangannya lebih terarah.

“Terima kasih atas semua bantuan yang diberikan Pak Mendes PDTT. Kami akan mengklasterkan berbagai unggulan setiap kecamatan dan desa, baik produk pertanian maupun produk lainnya,” ujar Syukur.

Klasterisasi menjadi penting karena setiap wilayah memiliki karakter berbeda.

Ada desa yang kuat pada kopi.

Ada yang potensial di gula aren.

Ada yang menghasilkan komoditas pertanian lain.

Dengan pemetaan yang jelas, dukungan pemerintah dapat diarahkan berdasarkan potensi nyata.

Jangan Sampai Program Berhenti sebagai Bantuan

Syukur juga tidak ingin program pemerintah pusat hanya berhenti pada penyaluran bantuan.

Target akhirnya adalah perubahan ekonomi masyarakat.

“Harapan kami, berbagai program ini dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh pemerintah desa dan masyarakat Merangin sehingga memberikan dampak positif bagi masyarakat,” tegas Syukur.

Karena itu, ukuran keberhasilannya kelak bukan hanya berapa orang yang mengikuti kursus.

Bukan hanya berapa kades yang berangkat ke luar negeri.

Dan bukan sekadar berapa miliar rupiah yang masuk ke Bumdesma.

Yang akan dilihat adalah apa yang berubah setelah program berjalan.

Dari SDM hingga Pasar Ekspor

Paket program untuk Merangin pada dasarnya bergerak pada tiga jalur sekaligus.

Pertama, meningkatkan kapasitas pemimpin desa melalui pendidikan.

Kedua, meningkatkan keterampilan generasi muda agar punya akses terhadap peluang kerja.

Ketiga, memperkuat ekonomi desa melalui Bumdesma dan akses pasar ekspor.

Jika tiga jalur itu bertemu, dampaknya bisa lebih besar.

Kades mendapatkan wawasan.

Anak muda memiliki keterampilan.

Bumdesma memperoleh modal.

Produk desa memperoleh pasar.

Namun tantangan terbesarnya tetap berada pada pelaksanaan.

Siapa tiga kades yang dipilih.

Bagaimana mekanisme seleksi 205 anak desa.

Apa jenis kursusnya.

Bagaimana jalur penempatan kerja ke Jepang.

Bumdesma mana yang memenuhi syarat.

Dan kapan program Rp2,5 miliar mulai direalisasikan.

Detail itulah yang berikutnya perlu dipastikan.

Untuk sementara, pemerintah pusat sudah membawa satu pesan besar ke Merangin: desa tidak hanya disiapkan menerima bantuan, tetapi didorong belajar, membangun usaha dan mencari pasar hingga ke luar negeri. (*)

BeritaSatu Network