JAMBI - Ketua Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi Hj Ernawati, S.Ag., M.Pd. langsung bergerak setelah Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) I.
Belum lama seusai menyambangi pimpinan Pondok Pesantren Darul Arifin KH Zainul Arifin, Ernawati Jumat pagi (21/8/2026) kembali melakukan silaturahmi.
Kali ini tujuannya adalah Rumah Dinas Gubernur Jambi.
Ernawati tidak datang sendiri.
Ia memboyong sejumlah pengurus ISMI Jambi, di antaranya Sekretaris Dr Fahmi Rasyid, Wakil Ketua AR Syahbandar, serta sejumlah jajaran pengurus lainnya.
Mereka diterima langsung Gubernur Jambi Al Haris.
Al Haris yang pagi itu mengenakan atasan putih duduk bersama jajaran ISMI. Pertemuan berlangsung dalam suasana diskusi.
Ada satu hal penting yang dibawa Ernawati:
hasil Rakerwil I ISMI Jambi dan sederet program kerja yang mulai disiapkan organisasi tersebut.
Dari Ulama, Lanjut ke Gubernur
Gerak Ernawati dalam beberapa hari terakhir cukup intens.
Seusai Rakerwil I ISMI Jambi yang digelar di BW Luxury Hotel, Rabu (19/8), konsolidasi tidak berhenti di dalam ruang organisasi.
Kamis malam, Ernawati lebih dulu bersilaturahmi dengan KH Zainul Arifin di Pondok Pesantren Darul Arifin.
Di sana, ia berdiskusi soal agama, organisasi sekaligus meminta masukan agar ISMI konsisten menjalankan amanah dan programnya.
Pagi berikutnya, jalur silaturahmi itu bergeser ke pemerintahan.
Ernawati membawa pengurus menemui Al Haris.
Dua pertemuan berturut-turut itu memperlihatkan arah konsolidasi ISMI Jambi setelah Rakerwil: merangkul ulama sekaligus membangun komunikasi dengan pemerintah daerah.

Ernawati Bawa Hasil Rakerwil
Dalam pertemuan dengan Al Haris, Ernawati menyampaikan berbagai hasil Rakerwil dan program yang hendak dijalankan ISMI.
Rakerwil pertama tersebut sebelumnya menempatkan penguatan sumber daya manusia, kegiatan sosial-kemanusiaan, pemberdayaan masyarakat, pengembangan UMKM hingga pelestarian budaya Melayu sebagai sejumlah bidang yang ingin diperkuat.
Dalam sambutan resminya di Rakerwil, Ernawati memang sudah memberi penekanan bahwa ISMI tidak boleh menjadi organisasi yang sibuk sendiri.
“ISMI harus mampu menjadi jembatan antara ilmu, masyarakat dan pemerintah,” kata Ernawati.
Kalimat itu seperti mendapatkan bentuk konkretnya dalam pertemuan Jumat pagi.
Setelah pengurus menyusun program, mereka mendatangi pemerintah.
Bukan sekadar membawa nama organisasi, tetapi membawa agenda yang hendak dikerjakan.
ISMI Tak Mau Cuma Besar Nama
Ernawati sebelumnya juga menegaskan bahwa Rakerwil bukan sekadar forum menyusun kegiatan.
Ia ingin organisasi para sarjana Melayu itu besar karena manfaatnya.
“Kita ingin ISMI bukan hanya besar secara organisasi, tetapi juga besar manfaatnya bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia bahkan memberikan pesan cukup keras kepada internal ISMI.
“Jangan sampai ISMI hanya menjadi tempat berkumpulnya para sarjana. Jadikan ISMI sebagai rumah ilmu, rumah silaturahmi, rumah kaderisasi, rumah kemanusiaan dan rumah pengabdian,” katanya.
Agenda itulah yang kini mulai dibawa keluar dari ruang Rakerwil.
Pertemuan dengan gubernur menjadi salah satu langkah awal.
Al Haris Dengarkan Program ISMI
Di Rumah Dinas Gubernur, Al Haris mendengarkan pemaparan dan berdiskusi dengan Ernawati serta pengurus ISMI.
Pembicaraan berlangsung seputar hasil Rakerwil, arah program organisasi dan ruang kontribusi ISMI terhadap pembangunan Jambi.
Belum ada kutipan verbatim Al Haris dari pertemuan Jumat pagi yang diterima redaksi.
Namun sikap Al Haris terhadap keterlibatan kelompok intelektual dalam pembangunan pernah ia sampaikan secara terbuka.
Ketika menerima forum mahasiswa nasional di Universitas Jambi pada Juli 2026, Al Haris mengatakan pemerintah membutuhkan kontribusi kelompok intelektual.
“Pemerintah membutuhkan masukan, kritik yang membangun, serta ide-ide segar dari mahasiswa untuk mempercepat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Al Haris ketika itu.
Prinsip tersebut memiliki benang merah dengan posisi ISMI sebagai organisasi yang berisi sarjana dari berbagai disiplin ilmu.
Rakerwil Sudah Pasang Agenda Besar
Rakerwil I ISMI Jambi sendiri tidak hanya membicarakan agenda sosial.
Di dalam forum itu juga muncul gagasan agar kekuatan sarjana Melayu digunakan untuk menjawab persoalan pembangunan daerah.
Mulai pengembangan SDM.
Kaderisasi.
UMKM.
Pendidikan.
Sosial dan kemanusiaan.
Budaya Melayu.
Hingga bagaimana ilmu dapat dijembatani dengan kebutuhan pemerintah dan masyarakat.
Ernawati dalam sambutannya meminta ISMI ikut mengambil bagian membantu pemerintah, khususnya di bidang sosial dan kemanusiaan.
Anak yatim, kaum dhuafa, korban bencana, pendidikan masyarakat, pemberdayaan perempuan hingga persoalan sosial lain masuk dalam perhatian organisasi.
ISMI juga diarahkan mendorong pengembangan UMKM, peningkatan kapasitas anggota melalui pelatihan, pembangunan SDM serta pelestarian budaya Melayu Jambi.
Dari Rakerwil ke Kerja Nyata
Pertemuan dengan Al Haris membuat fase ISMI Jambi mulai bergeser.
Rakerwil selesai.
Program sudah disusun.
Sekarang masuk tahap membangun jaringan dan mencari ruang kolaborasi.
Ernawati sebelumnya menyebut Rakerwil sebagai titik awal untuk bekerja lebih sungguh-sungguh.
Dalam hitungan hari setelah forum itu, langkah silaturahmi mulai terlihat.
Tokoh agama didatangi.
Nasihat diminta.
Gubernur ditemui.
Hasil Rakerwil disampaikan.
Sekretaris, wakil ketua dan pengurus ikut dibawa.
Bagi Ernawati, pola itu sejalan dengan gagasan bahwa ISMI harus berada di antara tiga ruang sekaligus:
ilmu, masyarakat dan pemerintah.
Kini tantangannya tinggal satu.
Setelah hasil Rakerwil dibawa ke meja Gubernur Al Haris, seberapa cepat program-program itu benar-benar turun menjadi kerja yang dirasakan masyarakat Jambi. (*)