Syahrasaddin Dorong ISMI Jadi Think Tank: Data Dulu, Jabatan Belakangan

WIB
ist

JAMBI - Dewan Pakar Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi, Ir. H. Syahrasaddin, M.Si., melempar gagasan besar dalam Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) I ISMI Jambi, Rabu (19/8/2026).

Namanya: Jambi Naik Kelas.

Paparan itu mengajak para sarjana Melayu melihat pembangunan Jambi dengan ukuran yang lebih tinggi.

Bukan lagi sekadar bertanya apakah ekonomi tumbuh.

Bukan pula hanya menghitung berapa banyak sumber daya alam yang dikeluarkan dari bumi Jambi.

Pertanyaan yang diajukan Syahrasaddin lebih tajam:

Sudahkah Jambi benar-benar naik kelas?

Gagasan strategis tersebut diberi tema “Agenda Kecendekiawanan Melayu dari Kekayaan Sumber Daya menuju Keunggulan Manusia dan Peradaban” dan diarahkan menjadi pokok pikiran transformasi ISMI Jambi 2026-2030.

Pesan besarnya sederhana tetapi menusuk persoalan mendasar pembangunan daerah.

Jambi kaya sumber daya. Tetapi kekayaan itu belum sepenuhnya berubah menjadi nilai tambah, teknologi, inovasi, industri dan kesejahteraan yang lebih tinggi.

Syahrasaddin: Dari Gelar Menuju Kegunaan Sosial

Dalam paparannya, Syahrasaddin menempatkan sarjana sebagai aktor penting dalam transformasi tersebut.

Ia tidak ingin kesarjanaan berhenti pada gelar akademik.

Dalam materi yang dipaparkan tertulis:

“ISMI harus menjadi tempat ilmu menemukan jalan menuju kemaslahatan.”

Paparan itu juga menegaskan:

“Kesarjanaan harus bergerak dari gelar menuju kegunaan sosial.”

Bagi Syahrasaddin, agenda ISMI 2026-2030 karena itu tidak cukup diisi deretan kegiatan rutin.

Ia harus berubah menjadi gerakan transformasi.

Sarjana tidak hanya datang ketika seminar digelar.

Tetapi hadir ketika daerah membutuhkan gagasan.

Ketika masyarakat membutuhkan solusi.

Ketika pemerintah membutuhkan kajian.

Dan ketika sumber daya Jambi perlu diubah menjadi nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Paradoks Jambi: Kaya SDA, Nilai Tambah Belum Maksimal

Syahrasaddin kemudian membedah apa yang disebutnya sebagai Paradoks Jambi.

Daerah ini mempunyai SDA, lahan, komoditas, sejarah, budaya, tenaga kerja, kampus serta posisi geografis yang strategis.

Namun modal besar tersebut dinilai belum optimal berubah menjadi teknologi, merek, industri hilir, perusahaan lokal besar dan pusat inovasi.

Karena itu pembangunan tidak lagi cukup diukur dari:

berapa banyak yang diproduksi.

Tetapi:

berapa besar nilai yang diciptakan.

Arah perubahannya adalah:

Produksi → Nilai Tambah.

Di sinilah Syahrasaddin melihat ruang besar bagi kecendekiawanan Melayu.

Empat Lubang Besar yang Harus Ditutup

Dalam paparannya, Syahrasaddin memetakan empat celah pembangunan.

Pertama, Knowledge Gap.

Sumber daya alam melimpah, tetapi penguasaan teknologi, riset dan manajemen nilai belum sebanding.

Kedua, Value Added Gap.

Komoditas yang masih keluar dalam bentuk mentah membuat sebagian nilai strategis justru dinikmati mata rantai ekonomi di luar daerah.

Ketiga, Institutional Gap.

Jambi memiliki banyak institusi, tetapi hubungan antara kampus, pemerintah, dunia usaha, profesional dan masyarakat belum terkoneksi kuat sebagai jaringan pengetahuan.

Keempat, Vision Gap.

Pertumbuhan membutuhkan sasaran.

Transformasi membutuhkan arah.

Dan peradaban membutuhkan narasi.

Karena itu Syahrasaddin menawarkan posisi baru bagi ISMI:

knowledge connector sekaligus orchestrator of knowledge.

Ekonomi Tumbuh, Tapi Syahrasaddin Tanya: Sudah Naik Kelas?

Syahrasaddin tidak menyangkal Jambi tumbuh.

Dalam materi paparannya, data kunci Jambi 2025 mencatat pertumbuhan ekonomi 4,93 persen.

PDRB atas dasar harga berlaku Rp349,66 triliun.

PDRB per kapita Rp92,79 juta.

IPM 75,13.

Kemiskinan 6,89 persen.

TPT 4,08 persen.

Sedangkan Gini Ratio tercatat 0,291.

Tetapi angka pertumbuhan tidak menjadi titik akhir.

Paparan Syahrasaddin justru menuliskan:

“Pertanyaan kaum sarjana tidak berhenti pada ‘apakah Jambi tumbuh’, tetapi: apakah Jambi sudah naik kelas?”

Naik kelas, dalam kerangka tersebut, bukan sekadar PDRB bertambah.

Jambi baru benar-benar naik kelas ketika struktur ekonomi, kualitas manusia, teknologi dan kapasitas pengetahuan berubah bersama.

Dari SDA ke Peradaban

Syahrasaddin menggambarkan transformasi itu seperti sebuah tangga.

Dimulai dari:

SDA.

Kemudian ilmu.

Masuk ke teknologi.

Melahirkan inovasi.

Berubah menjadi industri.

Menghasilkan nilai tambah.

Mendorong kesejahteraan.

Dan pada tingkat tertinggi membangun peradaban.

Menurut paparan tersebut, bagian yang paling menentukan justru berada di tengah.

Ilmu.

Teknologi.

Inovasi.

Dan manusia.

“Sumber daya alam adalah modal awal; manusia dan pengetahuan menentukan nilai akhirnya,” demikian gagasan yang tertuang dalam paparan tersebut.

Muncul Konsep Melayu 5.0

Syahrasaddin juga membawa satu konsep yang cukup futuristik:

Melayu 5.0.

Konsep itu ingin membawa identitas Melayu masuk ke dunia modern tanpa kehilangan akar.

Ada adat.

Syarak.

Ilmu.

Teknologi.

Alam.

Dunia.

Manusia.

Dan kemaslahatan.

Tradisi tidak dibuang.

Tetapi direinterpretasi untuk menghadapi Artificial Intelligence, perubahan iklim, entrepreneurship digital, ekonomi halal, pendidikan global dan ekonomi kreatif.

Artinya, Melayu yang ingin dibangun bukan Melayu yang hanya kuat dalam nostalgia masa lalu.

Tetapi Melayu yang mampu menggunakan teknologi.

Menghasilkan inovasi.

Membentuk bisnis.

Bersaing secara global.

Namun tetap mempunyai etika dan identitas.

Jambi 2045: Pusat Bioekonomi dan Peradaban Melayu Hijau

Visi Syahrasaddin bahkan ditarik hingga 2045.

Dalam paparannya, Jambi diarahkan menjadi:

“Pusat Bioekonomi dan Peradaban Melayu Hijau di Sumatera.”

Bioekonomi dimaknai sebagai pemanfaatan sumber daya biologis yang dipertemukan dengan ilmu dan teknologi untuk menghasilkan ekonomi berkelanjutan.

Rantai ekonominya harus berubah:

Komoditas → Pengetahuan → Produk Bernilai Tambah.

Peradaban Melayu yang ditawarkan pun dirumuskan menarik:

modern tetapi berakar, global tetapi beridentitas, digital tetapi beradab.

Sedangkan pembangunan hijau berarti kemajuan hari ini tidak boleh menghilangkan kesempatan generasi berikutnya.

ISMI Jangan Sibuk Seminar

Paparan Syahrasaddin juga menyentil cara organisasi menyusun program.

Pertanyaan pertama, menurut konsep tersebut, seharusnya bukan:

“Seminar apa?”

Tetapi:

“Masalah apa yang hendak diselesaikan?”

Karena itu ISMI diarahkan menjadi organisasi berbasis misi.

Ada lima isu besar:

manusia Melayu unggul;

SDA menjadi nilai tambah;

ekosistem inovasi dan entrepreneurship;

jaringan sarjana dan diaspora;

serta pusat pemikiran Melayu 5.0.

Struktur organisasi tetap dihormati.

Tetapi keahlian harus mempunyai otoritas intelektual.

Dewan Pakar diposisikan sebagai “dapur ilmu” dan klaster keahlian strategis organisasi.

Target 1.000 Sarjana dan 100 Mentor

Gagasan Syahrasaddin tidak seluruhnya ditempatkan sebagai target jangka panjang.

Ada quick wins untuk 12 bulan.

Salah satu yang paling konkret adalah Talent Mapping 1.000 sarjana dan profesional.

Kemudian dibentuk Policy & Knowledge Council berisi 15-25 ahli lintas disiplin.

Ada program:

100 Mentor, 100 Talenta.

Mentoring berlangsung 6-12 bulan.

ISMI juga didorong menghasilkan Policy Brief Paradoks Jambi dan menerbitkan Jambi Outlook 2027.

Semua program itu harus memiliki output, outcome, dan dampak yang bisa diukur.

70 Persen Energi untuk Masalah Masyarakat

Syahrasaddin bahkan menawarkan perubahan budaya kerja organisasi.

Formulanya:

70:20:10.

Sebanyak 70 persen energi organisasi digunakan untuk persoalan masyarakat dan pembangunan.

20 persen untuk membangun jaringan dan kapasitas.

Sedangkan administrasi serta seremoni cukup 10 persen.

Filosofinya dirumuskan melalui lima prinsip:

Data before opinion.

Expertise before position.

Collaboration before ego.

Impact before event.

Legacy before position.

Pesannya terang.

Data lebih dahulu daripada opini.

Keahlian lebih dahulu daripada jabatan.

Kolaborasi lebih dahulu daripada ego.

Dampak lebih penting daripada acara.

Dan warisan lebih penting daripada kedudukan.

Mau Bawa Sarjana Melayu Dunia ke Jambi

Paparan itu tidak membatasi gerakan ISMI hanya di tingkat provinsi.

Syahrasaddin ingin jaringan Melayu berubah dari sekadar cultural network menjadi knowledge network.

Festival, pakaian, pantun dan kegiatan kebudayaan tetap berjalan.

Tetapi harus naik kelas menjadi kerja sama riset mengenai AI, ekonomi halal, green economy, startup hingga heritage studies.

Salah satu gagasannya:

World Malay Scholars Forum — Jambi.

Tema yang disiapkan:

“The Future of Malay Civilization in the Knowledge Economy.”

Jika terwujud, Jambi diarahkan bukan hanya dikenal sebagai wilayah kebudayaan Melayu.

Tetapi juga menjadi salah satu pusat pertemuan intelektual Melayu.

Yang Dicari Bukan Banyak Acara, tapi Legacy

Sampai 2030, Syahrasaddin mendorong ISMI meninggalkan tiga warisan besar.

Pertama, Jambi Intellectual Infrastructure.

Isinya database sarjana, jaringan pakar, policy center, publikasi dan Jambi Outlook.

Kedua, Jambi Human Capital Movement.

Meliputi mentoring, beasiswa, talent scouting, entrepreneurship dan regenerasi.

Ketiga, Jambi 2045 Knowledge Agenda.

Sebuah peta jalan dari daerah kaya SDA menuju pusat bioekonomi dan peradaban Melayu hijau.

Setiap program bahkan harus melewati pertanyaan penguji:

Masalah Jambi apa yang diselesaikan?

Siapa penerima manfaatnya?

Apa dasar data dan ilmunya?

Bagaimana keberhasilannya diukur?

Dan:

warisan apa yang ditinggalkan?

Syahrasaddin Tutup dengan Pertanyaan Besar

Pada akhirnya, paparan Jambi Naik Kelas bukan sekadar berbicara mengenai program ISMI.

Ia membawa pertanyaan mengenai masa depan Provinsi Jambi.

Pada bagian terakhir materi tertulis:

“Kalau kekayaan alam adalah karunia Allah SWT kepada Jambi, maka kecendekiawanan adalah cara kita mempertanggungjawabkan karunia itu.”

Lalu tiga pertanyaan ditinggalkan kepada peserta Rakerwil:

Jambi 2045 hendak dijadikan apa?

Apa kontribusi khas ISMI?

Warisan apa yang masih dirasakan masyarakat?

Dari Hotel BW Luxury, Syahrasaddin seolah sedang mengingatkan para sarjana Melayu:

Jambi memang kaya.

Tetapi kekayaan alam saja tidak otomatis membuat sebuah daerah maju.

Bumi yang kaya harus dipertemukan dengan pikiran yang kaya.

Dan di situlah, menurut gagasan Jambi Naik Kelas, kaum sarjana Melayu ditantang mengambil peran. (*)

BeritaSatu Network