MEDAN — Bengkel pandai besi yang sebelumnya bekerja dalam skala kecil mulai masuk ke rantai pasok industri perkebunan kelapa sawit.
PTPN IV PalmCo membina enam Industri Kecil dan Menengah atau IKM pandai besi di Sumatera Utara dan Riau melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan.
Pembinaan diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat kelembagaan, mengurus legalitas, menjaga mutu produk, dan membuka akses pasar.
Hasilnya mulai terlihat.
Dua koperasi pandai besi binaan di lingkungan PTPN IV Regional II telah mendistribusikan 19.579 unit alat operasional perkebunan dengan estimasi nilai pendapatan sekitar Rp514,43 juta.
Alat-alat tersebut antara lain egrek, dodos, kapak, gancu, dan tojok.
Enam IKM yang mengikuti program pembinaan tersebar di empat kabupaten di Sumatera Utara dan satu kabupaten di Riau.
Di Sumatera Utara terdapat Koperasi Berkah Pandai Besi di Kabupaten Labuhanbatu Utara, Koperasi Simpati Maju Bersama di Kabupaten Asahan, Koperasi Produsen Pandai Besi Tanah Jawa Simalungun di Kabupaten Simalungun, serta Koperasi Produsen Melati Jaya Steel di Kabupaten Serdang Bedagai.
Sementara di Kabupaten Kampar, Riau, pembinaan dilakukan terhadap Rumbio Jaya Steel dan kelompok usaha pandai besi Mola Maju Bersama.
Program ini menjadi bagian dari upaya menghubungkan kebutuhan operasional perkebunan dengan produk yang dihasilkan pelaku usaha lokal.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan pemberdayaan tidak cukup hanya dilakukan melalui pemberian bantuan.
“Bagi kami, pemberdayaan bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi membangun kapasitas dan menciptakan ekosistem usaha yang memungkinkan masyarakat tumbuh bersama perusahaan,” ujar Jatmiko.
Menurutnya, dampak program baru dapat dirasakan ketika pelaku usaha mampu memperbaiki kualitas produk, memperkuat organisasi, dan memperoleh pasar yang berkelanjutan.
“Ketika pandai besi lokal mampu meningkatkan kualitas, memperkuat kelembagaan, dan masuk ke dalam rantai pasok industri, di situlah program pemberdayaan menghasilkan dampak yang nyata dan berkelanjutan,” katanya.
Dua koperasi binaan di Sumatera Utara telah menjadi pemasok alat operasional bagi unit-unit PTPN IV Regional II.
Koperasi Produsen Melati Jaya Steel di Kabupaten Serdang Bedagai telah mendistribusikan 11.453 unit alat.
Nilai pendapatannya diperkirakan mencapai Rp287,32 juta.
Koperasi tersebut dipimpin Wagiono.
Sementara Koperasi Produsen Pandai Besi Tanah Jawa Simalungun yang dipimpin Ihfan Prasetia telah memasok 8.126 unit alat dengan estimasi pendapatan Rp227,11 juta.
Jika digabungkan, kedua koperasi telah memasok 19.579 unit alat dengan estimasi pendapatan Rp514,43 juta.
Produk yang dibuat merupakan alat-alat yang digunakan dalam kegiatan perkebunan kelapa sawit.
Egrek dan dodos digunakan dalam proses panen.
Gancu dan tojok membantu pemindahan hasil panen.
Sementara kapak digunakan untuk sejumlah pekerjaan operasional di lapangan.
Jatmiko mengatakan industri perkebunan memiliki rantai nilai yang panjang.
Kebutuhan perusahaan, menurut dia, dapat menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional.
“Industri perkebunan memiliki rantai nilai yang panjang dan harus mampu membuka ruang sebesar-besarnya bagi pelaku usaha lokal,” ujarnya.
PalmCo ingin sebagian kebutuhan operasional dapat dipenuhi melalui produk dalam negeri yang dibuat pelaku usaha lokal.
“Kami ingin kebutuhan operasional perusahaan dapat menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitar wilayah perkebunan,” kata Jatmiko.
Namun pelaku IKM juga dituntut memenuhi standar yang dibutuhkan industri.
Kapasitas produksi harus mencukupi.
Kualitas produk harus konsisten.
Administrasi dan kelembagaan usaha juga harus tertata.
“IKM tidak cukup hanya dibantu untuk bertahan, tetapi juga harus didorong naik kelas, memiliki standar, kepastian pasar, dan daya saing,” katanya.
Pembinaan dilakukan melalui pelatihan teknis, studi banding, penguatan kelembagaan, dukungan sertifikasi, hingga pengembangan akses pemasaran.
Pelaku usaha juga diajak mempelajari standar produksi alat pertanian dari sentra pandai besi yang telah lebih dahulu menjadi pemasok industri perkebunan.
Transfer pengetahuan tersebut dibutuhkan agar ukuran, daya tahan, ketajaman, dan kualitas alat yang diproduksi tetap konsisten.
PalmCo juga memfasilitasi pembentukan koperasi berbadan hukum dan membantu pengurusan legalitas usaha.
Sertifikasi produk seperti Tingkat Komponen Dalam Negeri atau TKDN dan Standar Nasional Indonesia masih dalam proses.
Selain itu, bantuan peralatan produksi diberikan untuk mendukung modernisasi bengkel.
Akses permodalan juga dibuka agar pelaku usaha dapat membeli bahan baku dan menjaga kelangsungan produksi ketika menerima pesanan dalam jumlah besar.
Sebagian pelaku pandai besi sebelumnya bekerja sendiri atau hanya bergabung dalam kelompok kecil.
Kapasitas produksinya terbatas.
Pencatatan usaha juga belum tertata.
Melalui pembinaan, sejumlah kelompok mulai berubah menjadi koperasi atau badan usaha yang memiliki struktur lebih jelas.
Penguatan kelembagaan dibutuhkan karena pesanan industri tidak hanya menuntut produk yang baik.
Pemasok juga harus mampu memenuhi volume, tenggat waktu, administrasi, dan pertanggungjawaban transaksi.
Jatmiko menilai transformasi tersebut tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat.
Pendampingan harus berlangsung secara berkelanjutan.
“Yang ingin kita bangun adalah kemandirian. Perusahaan hadir untuk membuka akses, memperkuat kapasitas, dan menciptakan peluang,” katanya.
Menurut Jatmiko, tujuan akhirnya adalah agar pelaku usaha tidak terus bergantung kepada bantuan perusahaan.
“Tujuan akhirnya adalah agar para pelaku usaha memiliki kelembagaan yang kuat, produk yang berkualitas, pasar yang berkelanjutan, dan kemampuan untuk terus berkembang,” ujarnya.
Ia menilai pertumbuhan usaha lokal juga dapat menciptakan lapangan kerja dan memperkuat rantai pasok perusahaan.
“Jika usaha lokal tumbuh, lapangan kerja tercipta, ekonomi daerah bergerak, dan rantai pasok perusahaan semakin kuat,” tambahnya.
Salah satu pelaku usaha binaan di Kabupaten Kampar, Desrico Apriyus, mengenang situasi sulit ketika pandemi COVID-19 melanda pada 2020.
Saat itu, penjualan alat menurun karena aktivitas ekonomi terganggu.
“Waktu itu hampir semua orang kesulitan menjual produk. Ekonomi seperti lumpuh. Tapi justru di situ PTPN hadir,” ujar Desrico.
Menurutnya, perusahaan menyerap produk yang dihasilkan sekaligus memberikan pendampingan kepada pelaku usaha.
“Mereka menyerap produk kami, membimbing kami, dan membantu kami, sehingga kami tetap bisa berproduksi di tengah situasi yang sulit,” katanya.
Kemitraan berlanjut pada tahun berikutnya.
PTPN tidak hanya menjadi pembeli hasil produksi, tetapi juga memberikan dukungan permodalan melalui program kemitraan senilai Rp800 juta.
Modal tersebut digunakan untuk memperkuat usaha, membeli bahan baku, dan meningkatkan kapasitas produksi.
Bengkel-bengkel kecil yang sebelumnya tersebar kemudian mulai terkonsolidasi menjadi sentra produksi.
Kelompok yang semula berbentuk Kelompok Usaha Bersama juga mulai diarahkan menjadi badan usaha dengan tata kelola yang lebih tertata.
Keberhasilan memasok puluhan ribu alat menunjukkan IKM lokal memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan industri.
Namun keberlanjutannya tetap bergantung pada kualitas produk, kepastian bahan baku, harga yang kompetitif, dan konsistensi pasar.
Karena itu, pola pembinaan tidak cukup berhenti setelah peralatan diberikan.
Koperasi perlu terus meningkatkan pencatatan keuangan, pengendalian mutu, kapasitas tenaga kerja, dan ketepatan waktu produksi.
Sertifikasi TKDN dan SNI yang sedang diproses juga menjadi penting agar produk memiliki standar yang lebih jelas dan dapat menjangkau pasar di luar lingkungan perusahaan.
Alat-alat yang sebelumnya dibuat di bengkel sederhana kini digunakan dalam kegiatan operasional perkebunan sawit.
Egrek.
Dodos.
Kapak.
Gancu.
Tojok.
Produk tersebut mungkin terlihat sederhana.
Namun bagi pelaku pandai besi, pesanan dalam jumlah besar memberi kepastian produksi dan pendapatan.
Bagi perusahaan, keterlibatan IKM lokal membantu memperkuat rantai pasok domestik.
Program ini masih harus diuji dari keberlanjutan pasar dan kemampuan koperasi mempertahankan kualitas.
Namun angka sementara menunjukkan hasil yang terukur.
Enam IKM telah dibina.
Dua koperasi telah memasok 19.579 alat.
Nilai pendapatannya diperkirakan menembus Rp514,43 juta.
Dari bengkel kecil, para pandai besi itu mulai masuk ke rantai pasok industri perkebunan.