MUARO JAMBI – Di tengah deretan para kiai, tuan guru, pimpinan pondok pesantren, dan tokoh agama yang hadir dalam Deklarasi dan Pelantikan Pengurus Wihdah Al Ma'ahid Al Islamiyah atau WMI masa khidmat 2026–2030, ada satu sosok perempuan yang mencuri perhatian.
Dia adalah Hj Ernawati, S.Ag., M.Pd.
Ketua Ikatan Sarjana Melayu Indonesia atau ISMI Provinsi Jambi itu hadir sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya WMI di Provinsi Jambi.
Bukan sekadar hadir.
Hj Ernawati disebut sebagai inisiator pembentukan WMI, wadah yang menghimpun sekitar 30 pondok pesantren di Jambi.
Acara deklarasi dan pelantikan WMI berlangsung di Aula Putri Pondok Pesantren Kumpeh Daaru Attauhid, Kabupaten Muaro Jambi, Sabtu (27/6/2026).
Forum itu menjadi momentum penting bagi dunia pesantren di Jambi.
Para ulama, tuan guru, pimpinan pondok pesantren, santri, dan tokoh masyarakat berkumpul dalam satu majelis.
Hadir pula Gubernur Jambi Dr. H. Al Haris, S.Sos., M.H., Pimpinan Ponpes Kumpeh Daaru Attauhid KH Sulahuddin Sargawi Al Qodiri, Pimpinan Ponpes Sa'adatud Daarein Tuan Guru Sulaiman, Pimpinan Ponpes Al Ikhwan Tuan Guru Abdul Aziz, serta Pimpinan Ponpes Ar-Riyadh Tuan Guru Riyadh Azra'i.
Selain itu hadir perwakilan Kapolda Jambi, Danrem, Bupati Muaro Jambi, jajaran Bank Jambi, Bank Indonesia, Ketua MUI Muaro Jambi, serta tamu undangan lainnya.
Di antara banyak tokoh yang hadir, kehadiran Hj Ernawati memiliki makna tersendiri.
Ia menjadi tokoh perempuan yang hadir dan diundang dalam forum besar pesantren tersebut.
Kehadirannya memberi pesan kuat bahwa kebangkitan pendidikan Islam di Jambi tidak hanya menjadi ruang para ulama dan pimpinan pesantren, tetapi juga membutuhkan peran tokoh perempuan, sarjana Melayu, keluarga, dan masyarakat luas.
Bagi Hj Ernawati, WMI lahir dari kegelisahan dan harapan yang sama.
Pesantren di Jambi memiliki sejarah panjang.
Memiliki akar kuat.
Memiliki jaringan keilmuan.
Memiliki peran besar dalam membentuk akhlak dan karakter masyarakat.
Namun kekuatan itu perlu dihimpun, disatukan, dan digerakkan bersama agar memberi dampak lebih luas bagi umat.
“WMI ini lahir dari semangat kebersamaan. Kita ingin pondok pesantren di Jambi semakin kompak, semakin kuat, dan semakin mampu menjadi pusat pendidikan Islam yang melahirkan generasi berilmu, beradab, dan berakhlakul karimah,” ujar Hj Ernawati.
Menurut Hj Ernawati, pondok pesantren adalah salah satu tiang utama peradaban Islam.
Dari pesantren, lahir generasi yang tidak hanya mengenal ilmu agama, tetapi juga dibentuk dengan adab, disiplin, kesederhanaan, kemandirian, dan rasa tanggung jawab sosial.
Karena itu, ia menilai WMI tidak boleh berhenti sebagai organisasi seremonial.
WMI harus menjadi rumah besar.
Rumah untuk para pesantren saling berkomunikasi.
Rumah untuk memperkuat kurikulum dan pembinaan santri.
Rumah untuk membangun jejaring.
Rumah untuk memperkuat peran pesantren dalam menjawab tantangan zaman.
“Pesantren tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Dengan WMI, kita ingin ada ruang bersama. Ada silaturahmi. Ada musyawarah. Ada program nyata. Ada gerakan bersama untuk memperkuat pendidikan Islam di Jambi,” kata Hj Ernawati.
Sebagai Ketua ISMI Provinsi Jambi, Hj Ernawati juga membawa gagasan kolaborasi antara sarjana Melayu dan pondok pesantren.
Menurutnya, ISMI dan pesantren memiliki titik temu yang kuat.
ISMI membawa semangat intelektual, gagasan, jejaring, dan penguatan peran sarjana Melayu.
Sementara pesantren menjaga nilai, akhlak, tradisi keilmuan, dan pembinaan umat.
Jika dua kekuatan ini bertemu, ia yakin akan lahir gerakan besar untuk membangun peradaban Islam dan Melayu di Jambi.
“ISMI Jambi melihat pesantren sebagai pusat peradaban. Sarjana Melayu dan pesantren harus berkolaborasi. Sarjana membawa gagasan dan jejaring, pesantren menjaga nilai dan akhlak. Kalau ini bersatu, insya Allah akan lahir kekuatan besar untuk umat dan daerah,” ujarnya.
Hj Ernawati menegaskan, pembentukan WMI juga menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat ukhuwah Islamiyah.
Ia ingin pondok pesantren di Jambi saling menopang.
Pesantren yang besar membantu yang kecil.
Pesantren yang sudah maju berbagi pengalaman dengan yang sedang tumbuh.
Para kiai dan tuan guru saling menguatkan.
Santri dari berbagai pesantren juga diharapkan dapat tumbuh dalam semangat persaudaraan.
Menurutnya, tantangan pendidikan Islam hari ini tidak ringan.
Generasi muda menghadapi arus informasi yang sangat deras.
Nilai-nilai moral sering kali diuji oleh perubahan zaman.
Teknologi membawa peluang, tetapi juga menghadirkan tantangan baru.
Di tengah situasi itu, pesantren harus tampil sebagai benteng akhlak sekaligus pusat pembinaan ilmu yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
“Anak-anak kita hari ini hidup dalam zaman yang berbeda. Karena itu, pesantren harus kuat. Kuat agamanya, kuat akhlaknya, kuat ilmunya, dan kuat kemandiriannya. WMI harus hadir untuk memperkuat itu semua,” tutur Hj Ernawati.
Ia juga menyoroti pentingnya peran perempuan dalam gerakan pendidikan Islam.
Menurut Hj Ernawati, keluarga adalah madrasah pertama bagi anak.
Sebelum seorang anak masuk pesantren, sekolah, atau perguruan tinggi, nilai-nilai awal tentang akhlak, sopan santun, kejujuran, dan kepedulian ditanamkan dari rumah.
Di rumah itulah perempuan, terutama ibu, memiliki peran sangat menentukan.
Karena itu, ia menilai gerakan WMI ke depan juga perlu menyentuh keluarga dan masyarakat.
Tidak hanya membina santri di dalam pesantren, tetapi juga ikut memperkuat ekosistem pendidikan Islam di luar pesantren.
“Kalau kita bicara generasi berakhlak, kita tidak bisa melepaskan peran keluarga dan perempuan. Ibu adalah madrasah pertama. Pesantren mendidik santri, keluarga menanamkan dasar akhlak sejak awal. Keduanya harus saling menguatkan,” kata Hj Ernawati.
Bagi Hj Ernawati, kehadirannya dalam forum WMI bukan semata sebagai Ketua ISMI Jambi.
Tetapi juga sebagai bentuk panggilan moral untuk ikut memperkuat pendidikan Islam.
Ia ingin pesantren di Jambi tidak hanya bertahan, tetapi maju.
Tidak hanya dikenal sebagai lembaga tradisional, tetapi juga sebagai lembaga yang mampu beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan jati diri.
“Pesantren harus tetap menjaga ruhnya. Tetapi pesantren juga harus mampu menjawab kebutuhan zaman. Santri harus kuat ilmu agama, tetapi juga harus siap menjadi pemimpin, penggerak masyarakat, dan bagian dari pembangunan daerah,” ujarnya.
Gubernur Jambi Al Haris dalam kesempatan itu turut memberikan penegasan tentang pentingnya persatuan pondok pesantren.
Dalam pidatonya, Al Haris mengajak hadirin mengenang kembali sejarah pendidikan Islam di Jambi.
Ia menyebut cikal bakal pendidikan Islam di Jambi bermula dari perukunan Samaratul Insan di Seberang Kota Jambi sekitar tahun 1915.
Dari gerakan itulah, menurut Al Haris, madrasah dan pesantren mulai tumbuh.
Ia menyebut sejumlah pesantren pionir seperti Al Jauharein, Nurul Iman, Nurul Islam, dan Sa'adatud Daarein.
“Dari perukunan Samaratul Insan itulah cikal bakal berkembangnya pondok pesantren di Jambi ini. Dari madrasah, mulailah hari ini bermunculan pondok-pondok pesantren modern,” ujar Al Haris.
Al Haris menyebut, sejarah pendidikan Islam yang dahulu bermula dari Seberang Kota Jambi kini seolah menemukan titik baru di Kumpeh Daaru Attauhid.
Menurutnya, berkumpulnya puluhan pesantren dalam WMI menjadi momentum besar untuk mengukir kembali sejarah kebesaran pendidikan Islam Jambi.
“Kalau dulu dari Seberang Kota Jambi sejarah bermula, hari ini dari Kumpeh Daaru Attauhid, sejarah bermula lagi,” kata Al Haris.
Pernyataan itu sejalan dengan gagasan Hj Ernawati.
Bahwa WMI harus menjadi titik baru konsolidasi pesantren.
Bukan untuk memutus sejarah lama, tetapi menyambungnya dengan kerja nyata hari ini.
Dari Samaratul Insan ke WMI.
Dari Seberang Kota Jambi ke Kumpeh.
Dari sejarah pendidikan Islam awal abad ke-20 menuju tantangan pendidikan Islam abad ke-21.
Dalam forum tersebut, Al Haris juga menekankan pentingnya kemandirian umat dan pesantren.
Ia meminta pesantren tidak hanya menjadi penonton di daerah sendiri.
Pesantren harus kompak dan mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
“Yang penting kita kompak-kompak. Kita harus jadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan jadi penonton di negeri sendiri,” tegas Al Haris.
Hj Ernawati menilai pesan tersebut harus diterjemahkan dalam kerja nyata.
Menurutnya, menjadi tuan rumah di negeri sendiri berarti pesantren harus memiliki posisi strategis dalam membangun umat.
Pesantren harus diperkuat kelembagaannya.
Santri harus disiapkan menjadi generasi unggul.
Ekonomi pesantren harus mulai digerakkan.
Jaringan antarpondok harus diperluas.
Dan kolaborasi dengan pemerintah, organisasi keilmuan, dunia usaha, serta masyarakat harus semakin dibuka.
“Menjadi tuan rumah di negeri sendiri artinya kita tidak boleh pasif. Pesantren harus hadir sebagai kekuatan moral, kekuatan ilmu, dan kekuatan sosial. WMI harus menjadi salah satu jalan untuk memperkuat itu,” kata Hj Ernawati.
Ia berharap setelah deklarasi dan pelantikan, WMI segera menyusun program yang konkret.
Beberapa program yang dapat didorong antara lain peningkatan kapasitas guru pesantren, pelatihan manajemen pondok, penguatan literasi santri, kolaborasi dakwah, pembinaan karakter generasi muda, dan pemberdayaan ekonomi pesantren.
ISMI Jambi, kata Hj Ernawati, siap menjadi mitra WMI.
Terutama dalam menghadirkan gagasan, jejaring sarjana, pendampingan program, serta membangun komunikasi dengan berbagai pihak.
“ISMI Jambi siap berkolaborasi. Kita ingin pesantren tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga kuat secara ilmu, manajemen, ekonomi, dan jaringan. Pesantren adalah masa depan umat,” ujarnya.
Pelantikan WMI masa khidmat 2026–2030 ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda organisasi.
Ia menjadi ruang pertemuan sejarah, gagasan, dan harapan.
Ada sejarah Samaratul Insan yang dikenang.
Ada pesan Al Haris tentang kemandirian pesantren.
Ada para tuan guru yang menyatukan langkah.
Dan ada Hj Ernawati yang hadir sebagai inisiator, membawa gagasan kolaborasi sarjana Melayu dan pesantren.
Dari Kumpeh Daaru Attauhid, pesan itu mengalir.
Pesantren harus bersatu.
Pesantren harus maju.
Pesantren harus menjadi pusat akhlak dan ilmu.
Dan WMI diharapkan menjadi rumah besar bagi kebangkitan pendidikan Islam di Provinsi Jambi.
Bagi Hj Ernawati, inilah awal dari kerja panjang.
Menyatukan pesantren bukan pekerjaan sehari.
Membangun peradaban bukan pekerjaan satu acara.
Tetapi dari Kumpeh, langkah itu dimulai.
Dengan niat, persatuan, dan kerja bersama.
“WMI ini bukan akhir. Ini awal. Awal untuk memperkuat pesantren, memperkuat umat, dan memperkuat masa depan pendidikan Islam di Jambi,” pungkas Hj Ernawati. (*)