Pulang Kampung Usai 2 Bulan di Makkah, Hj Ernawati Temui Al Musayat dan Pengurus ISMI Sarolangun

WIB
ist

Sarolangun - Hampir dua bulan berada di Makkah, Arab Saudi, Hj Ernawati akhirnya kembali menginjakkan kaki di kampung halamannya, Provinsi Jambi.

Tak menunggu lama.

Senin (19/10/2026), Ketua Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi itu langsung bergerak menuju Sarolangun, daerah tempat ia dilahirkan.

Perjalanan pulang ke kampung halaman kali ini terasa lebih personal.

Ernawati didampingi putra sulungnya, Bintang Airlangga Fadli.

Agenda awalnya adalah menghadiri undangan pernikahan keluarga.

Namun kesempatan pulang ke Sarolangun tak dilewatkan begitu saja.

Selepas menghadiri acara keluarga, Ernawati melanjutkan silaturahmi dengan jajaran pengurus ISMI Kabupaten Sarolangun.

Tak ada rapat resmi.

Tak ada meja panjang.

Tak ada podium.

Pertemuan justru berlangsung sangat sederhana di kediaman Ketua ISMI Kabupaten Sarolangun Al Musayat.

Mereka duduk lesehan.

Ngobrol santai.

Makan bersama.

Lalu membicarakan banyak hal, dari kondisi organisasi, program ISMI, hingga bagaimana pengurus di daerah bisa segera bergerak menyentuh masyarakat.

Suasananya hangat.

Bagi Ernawati, momen itu seperti pulang ke dua tempat sekaligus.

Pulang ke kampung halaman.

Dan pulang ke keluarga organisasi.

"Alhamdulillah, setelah cukup lama di Makkah akhirnya saya bisa kembali ke Jambi dan langsung ke Sarolangun. Ini kampung halaman saya. Tentu ada rasa rindu. Apalagi bisa bertemu keluarga sekaligus bersilaturahmi dengan kawan-kawan ISMI," kata Ernawati.

Kepulangan Ernawati ke Sarolangun bukan sekadar perjalanan biasa.

Hampir dua bulan ia berada di Makkah.

Selama berada di Tanah Suci, Ernawati tetap mengikuti sejumlah agenda dan komunikasi organisasi.

Rapat bisa dilakukan melalui Zoom.

Koordinasi tetap berjalan.

Program ISMI juga terus dipantau.

Namun tetap ada sesuatu yang tak bisa digantikan oleh layar.

Pertemuan langsung.

Duduk bersama.

Mendengar cerita pengurus di daerah.

Dan merasakan atmosfer kampung halaman.

Karena itu, begitu kembali ke Jambi, Sarolangun menjadi salah satu tujuan pertama.

"Bisa rapat dari jauh, bisa komunikasi lewat telepon, tetapi silaturahmi langsung tetap berbeda. Ada rasa yang tidak bisa digantikan teknologi," ujar Ernawati.

Ia mengatakan momentum pulang itu juga menjadi kesempatan untuk kembali melihat kesiapan pengurus ISMI Sarolangun.

"Organisasi ini harus hidup. Jangan hanya ada nama dan struktur. Pengurus harus saling kenal, saling percaya dan punya program yang benar-benar dikerjakan," katanya.

Dalam perjalanan ke Sarolangun, Ernawati didampingi putra sulungnya, Bintang Airlangga Fadli.

Kehadiran sang anak memberi suasana tersendiri.

Perjalanan itu bukan sekadar agenda organisasi.

Ada sisi keluarga yang kuat.

Ernawati datang untuk menghadiri undangan pernikahan keluarga.

Di sela agenda tersebut, ia tetap menyempatkan bertemu pengurus ISMI.

Menurutnya, keluarga dan silaturahmi adalah sesuatu yang tidak boleh dipisahkan dari kehidupan.

"Sesibuk apa pun kita, keluarga jangan dilupakan. Silaturahmi juga jangan putus. Karena dari silaturahmi banyak pintu kebaikan terbuka," kata Ernawati.

Pertemuan Lesehan di Rumah Al Musayat

Selepas acara keluarga, Ernawati bergerak ke kediaman Al Musayat.

Di sanalah suasana berubah menjadi lebih santai.

Pengurus ISMI Sarolangun berkumpul.

Tidak duduk di kursi formal.

Mereka memilih lesehan.

Pembicaraan mengalir.

Dari satu topik ke topik lain.

Sesekali diselingi tawa.

Al Musayat mengatakan pertemuan tersebut menjadi energi baru bagi pengurus ISMI Sarolangun.

"Kami tentu sangat senang Ibu Hj Ernawati bisa langsung datang ke Sarolangun setelah kembali dari Makkah. Ini menunjukkan perhatian beliau kepada daerah dan kepada pengurus ISMI di kabupaten," kata Al Musayat.

Menurutnya, suasana santai justru membuat komunikasi lebih terbuka.

"Kita bisa ngobrol dari hati ke hati. Tidak terlalu formal. Dari situ banyak hal bisa dibicarakan, termasuk program dan apa yang harus segera kita kerjakan," ujarnya.

ISMI Sarolangun Diminta Jangan Lama di Tahap Konsolidasi

Ernawati mengingatkan pengurus ISMI Kabupaten Sarolangun agar tidak terlalu lama berada di tahap konsolidasi.

Menurutnya, setelah struktur terbentuk, pekerjaan berikutnya adalah program.

Ia kembali menyinggung beberapa agenda prioritas ISMI Provinsi Jambi.

Anak yatim.

Rumah tahfiz.

Pembinaan masjid.

UMKM.

Dan penguatan budaya Melayu.

"Kalau pengurus sudah ada, sekarang waktunya turun. Mulai dari hal sederhana. Data anak yatim, lihat rumah tahfiz, lihat masjid, lihat UMKM. Jangan tunggu program besar," kata Ernawati.

Ia menilai Sarolangun memiliki potensi besar.

Baik dari sisi sumber daya manusia maupun ekonomi.

Karena itu, ISMI di daerah harus mampu membaca kebutuhan masyarakat.

"Jangan semua program provinsi ditiru mentah-mentah. Sarolangun punya karakter sendiri. Pengurus di sini yang paling tahu apa yang dibutuhkan masyarakatnya," ujarnya.

Al Musayat: Kami Siap Bergerak

Al Musayat mengatakan pengurus ISMI Sarolangun siap menindaklanjuti arahan tersebut.

Menurutnya, tantangan terbesar organisasi adalah mengubah struktur menjadi kerja nyata.

"Kita siap bergerak. Yang paling penting sekarang menyusun prioritas. Tidak perlu terlalu banyak, tetapi harus ada yang benar-benar jalan," kata Al Musayat.

Ia mengatakan pengurus akan mulai melihat beberapa sektor yang bisa disentuh.

Mulai dari sosial.

Pendidikan.

Ekonomi.

Hingga kegiatan keagamaan.

"ISMI harus bisa hadir di masyarakat. Kalau hanya rapat dan berkumpul, tentu tidak cukup. Harus ada manfaat yang bisa dirasakan," ujarnya.

Ernawati Kembali Ingatkan soal Anak Yatim

Salah satu program yang kembali ditegaskan Ernawati adalah anak yatim.

Program tersebut sudah beberapa kali ia sampaikan dalam rapat ISMI sebelumnya.

Ernawati ingin setiap kabupaten memiliki data yang jelas.

Bukan sekadar jumlah.

Tetapi siapa anaknya.

Bagaimana kondisi keluarganya.

Sekolah di mana.

Dan apa kebutuhannya.

"Saya ingin program anak yatim ini serius. Jangan sekadar santunan satu kali. Kalau bisa, kita bantu pendidikan mereka sampai lebih jauh," kata Ernawati.

Menurutnya, organisasi sarjana harus punya tanggung jawab moral terhadap generasi muda.

"Kalau ada anak yang putus sekolah karena keadaan ekonomi atau kehilangan orang tua, di situlah kita harus hadir," ujarnya.

Bagi Al Musayat, pertemuan seperti itu justru penting.

"Kadang organisasi itu kuat bukan karena banyak acara besar, tetapi karena hubungan antarorangnya kuat. Kalau silaturahmi baik, koordinasi juga mudah," kata Sayat.

Ernawati mengangguk pada gagasan itu.

"Betul. Organisasi dibangun dari kepercayaan. Program bisa dibuat, tetapi kalau orang-orangnya tidak kompak, sulit jalan," ujarnya.(*)

BeritaSatu Network