Ribuan Jamaah Tumpah Ruah di Al-Falah, Syekh Ala Gaungkan Cinta Rasulullah Lewat Shalawat

WIB
Ist

Jambi - Masjid Agung Al-Falah Jambi dipadati jamaah, Jumat (4/9/2026) siang.

Ribuan warga datang untuk mengikuti tabligh akbar bersama ulama asal Mesir, Maulana Syekh ‘Ala Muhammad Musthafa Na’imah. Kegiatan itu diinisiasi Ketua Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi Hj Ernawati, S.Ag., M.Pd.

Sejak menjelang acara dimulai, jamaah terus berdatangan.

Laki-laki, perempuan, anak muda, santri hingga kelompok majelis taklim memenuhi bagian dalam masjid. Sebagian datang berombongan. Ada yang mengenakan pakaian putih, membawa sajadah, dan duduk berjejer menunggu tausiah dimulai.

Suasana makin khidmat ketika lantunan shalawat mulai menggema.

Masjid yang dikenal dengan julukan Masjid Seribu Tiang itu berubah menjadi lautan jamaah.

Hari itu, masyarakat tidak hanya datang untuk melihat ulama asal Mesir.

Mereka datang untuk duduk dalam satu majelis.

Bershalawat.

Mendengar nasihat.

Dan menghidupkan kembali kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Shalawat Menggema di Masjid Al-Falah

Ketika Syekh Ala mulai menyampaikan tausiah, suasana jamaah menjadi lebih tenang.

Salah satu pesan utama tabligh akbar berkisar tentang shalawat dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

Syekh Ala mengingatkan bahwa shalawat bukan sekadar bacaan yang dilafalkan di lisan.

Shalawat merupakan bagian dari hubungan batin seorang Muslim dengan Rasulullah.

Semakin sering seseorang mengingat Nabi, semakin besar pula peluang untuk mengenal perjalanan hidup, perjuangan dan akhlaknya.

Dalam garis besar tausiahnya, Syekh Ala mengajak umat tidak menjadikan kecintaan kepada Rasulullah sebatas slogan.

Cinta harus mempunyai jejak.

Shalawat diucapkan.

Sunnah dipelajari.

Akhlak Rasulullah diteladani.

Dan ajarannya dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Shalawat adalah salah satu jalan untuk menjaga hati kita tetap terhubung dengan Rasulullah SAW. Tetapi cinta kepada beliau tidak berhenti pada ucapan. Cinta harus melahirkan keinginan untuk mengikuti akhlak dan ajarannya.”

Pesan itu mendapat perhatian jamaah.

Beberapa kali lantunan shalawat kembali terdengar dari dalam masjid.

Suasana yang awalnya seperti pengajian besar berubah menjadi majelis yang lebih emosional.

Syekh Ala: Rasulullah Membawa Rahmat

Dalam tabligh tersebut, Syekh Ala juga menguraikan posisi Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa rahmat.

Rasulullah tidak hanya mengajarkan ibadah.

Beliau mengajarkan bagaimana memperlakukan keluarga.

Bagaimana menghormati tetangga.

Bagaimana menjaga anak yatim.

Bagaimana membantu orang miskin.

Bagaimana bersikap ketika berbeda pendapat.

Dan bagaimana memperlakukan manusia dengan kasih sayang.

Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah menurut garis besar pesan Syekh Ala harus terlihat dalam karakter seorang Muslim.

Tidak cukup rajin bershalawat jika perilaku kepada orang lain masih menyakiti.

Tidak cukup mengaku mencintai Nabi jika tidak memiliki kepedulian kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Rasulullah SAW diutus membawa rahmat. Maka orang yang mengaku mencintai Rasulullah harus berusaha menjadi rahmat bagi orang di sekitarnya—bagi keluarganya, tetangganya dan masyarakatnya.”

Pesan tersebut bertemu dengan atmosfer tabligh akbar yang dihadiri berbagai lapisan masyarakat.

Di satu sisi ada ulama berbicara mengenai kasih sayang Rasulullah.

Di sisi lain, panitia menyiapkan makanan untuk jamaah yang hadir.

Ernawati Siapkan 1.000 Nasi Kotak

Hj Ernawati menyiapkan 1.000 nasi kotak untuk masyarakat yang mengikuti tabligh akbar.

Makanan tersebut disiapkan sebagai bagian dari pelayanan kepada jamaah.

Bagi Ernawati, kegiatan keagamaan tidak cukup hanya menghadirkan penceramah.

Jamaah yang datang juga harus diperhatikan.

Apalagi sebagian masyarakat sudah berada di lokasi sejak sebelum acara dimulai.

Ada yang datang dari luar kawasan pusat Kota Jambi.

Ada kelompok majelis taklim.

Ada santri.

Ada masyarakat yang mengikuti rangkaian acara hingga selesai.

Karena itu, 1.000 nasi kotak disiapkan untuk dibagikan.

"Kita mengundang masyarakat datang ke majelis ilmu, maka sebisa mungkin kita juga melayani mereka. Seribu nasi kotak ini sederhana. Kita berharap jamaah yang hadir bisa ikut makan dan merasakan kebersamaan," kata Ernawati.

[Draf kutipan untuk dikonfirmasi.]

Ernawati mengatakan semangat berbagi tersebut juga berkaitan dengan pesan yang dibawa dalam tabligh.

Cinta kepada Rasulullah, menurutnya, harus melahirkan kepedulian.

"Kalau kita bershalawat kepada Rasulullah, kita juga harus belajar bagaimana beliau begitu mencintai umatnya. Maka kegembiraan kita dalam majelis ini jangan hanya kita rasakan sendiri. Kita berbagi, kita makan bersama, kita bahagiakan orang lain semampu kita," ujarnya.

Ernawati: Saya Ingin Masyarakat Jambi Ikut Merasakan Ilmu Guru Saya

Kehadiran Syekh Ala di Jambi mempunyai makna khusus bagi Ernawati.

Ia bukan hanya tokoh yang menginisiasi tabligh akbar tersebut.

Ernawati juga merupakan murid yang berguru langsung kepada Syekh Ala.

Dari pengalaman itulah muncul keinginannya membawa sang guru datang ke Jambi.

"Saya berguru kepada beliau dan saya merasakan banyak sekali manfaat dari ilmu dan nasihat beliau. Dari situ muncul keinginan, jangan sampai manfaat ini berhenti pada saya. Saya ingin masyarakat Jambi juga bisa duduk bersama beliau dan mendapatkan ilmu secara langsung," kata Ernawati.

Menurut Ernawati, akses kepada seorang guru adalah nikmat yang harus dibagikan.

Kalau seseorang memiliki jaringan dengan ulama, maka jaringan itu semestinya tidak berhenti menjadi hubungan personal.

Ia bisa dibuka untuk umat.

"Kalau Allah memberikan kita kesempatan mengenal dan berguru kepada orang alim, kemudian ada jalan untuk membawa beliau ke Jambi, tentu saya ingin pintu itu dibuka untuk masyarakat. Karena ilmu semakin banyak dibagikan, insyaallah semakin banyak pula manfaatnya," ujarnya.

Bukan Sekadar Mengundang Ulama dari Mesir

Bagi ISMI Provinsi Jambi, tabligh akbar tersebut juga membawa pesan tentang arah organisasi.

ISMI bukan sekadar wadah orang-orang bergelar akademik.

Organisasi sarjana, menurut Ernawati, harus memiliki fondasi spiritual.

Ilmu pengetahuan penting.

Pendidikan tinggi penting.

Kecakapan ekonomi dan teknologi penting.

Tetapi semuanya memerlukan arah moral.

"Kita adalah organisasi sarjana. Kita bicara ilmu, pendidikan, ekonomi dan pembangunan. Tetapi manusia tidak cukup hanya dibangun kecerdasannya. Hatinya juga harus dibangun. Karena itu ISMI ingin ruang intelektual dan ruang keagamaan berjalan bersama," kata Ernawati.

Menurutnya, seorang sarjana yang baik bukan hanya orang yang mampu menjelaskan teori.

Ia harus mempunyai akhlak.

Peka terhadap masyarakat.

Dan mampu menggunakan ilmunya untuk membantu orang lain.

Jamaah Datang dari Berbagai Kalangan

Tabligh akbar berlangsung dengan atmosfer berbeda dari kegiatan formal organisasi.

Tidak ada batas antara pejabat, akademisi, santri dan masyarakat umum ketika jamaah duduk di dalam masjid.

Semuanya menghadap arah yang sama.

Mendengar guru yang sama.

Bershalawat bersama.

Ada jamaah yang mengikuti tausiah sambil membuka telepon genggam untuk merekam.

Ada yang membawa catatan.

Sebagian hanya duduk menyimak.

Ketika Syekh Ala berbicara tentang Rasulullah, perhatian jamaah tertuju ke depan.

Nama Nabi Muhammad SAW beberapa kali disebut.

Shalawat kembali menyambut.

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad.

Suasana itulah yang membuat tabligh akbar tidak sekadar menjadi acara dengan jumlah massa besar.

Ada kedekatan emosional yang dibangun.

Syekh Ala Ingatkan Agar Shalawat Berbuah Akhlak

Salah satu pesan yang dapat ditarik dari tabligh tersebut adalah bahwa shalawat harus memberikan efek pada perilaku.

Orang yang semakin mengenal Rasulullah seharusnya semakin mengenal kelembutan.

Semakin mengenal kejujuran.

Semakin mengenal amanah.

Dan semakin memahami pentingnya menahan diri dari menyakiti sesama.

Dalam garis besar tausiahnya, Syekh Ala mengajak jamaah bertanya kepada diri sendiri:

Apa makna mencintai Nabi jika keluarga tidak merasakan kelembutan kita?

Apa makna bershalawat jika tetangga merasa tidak aman?

Apa makna mengagumi Rasulullah jika anak yatim dan orang miskin tidak mendapat perhatian?

“Jadikan shalawat sebagai jalan memperbaiki hati. Ketika hati semakin mencintai Rasulullah, akhlak kita juga harus semakin mendekati akhlak yang beliau ajarkan.”

Pesan itu sederhana.

Tetapi langsung menyentuh kehidupan sehari-hari.

Maulid dan Kecintaan kepada Nabi

Momentum tabligh tersebut juga masih berada dalam suasana peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Karena itu pembahasan mengenai mahabbah atau kecintaan kepada Rasulullah terasa kuat.

Syekh Ala mengajak jamaah tidak hanya menjadikan momen kelahiran Nabi sebagai acara tahunan.

Maulid harus menjadi momentum mengenal Nabi lebih dekat.

Membaca sirahnya.

Mengetahui perjuangannya.

Mempelajari akhlaknya.

Memperbanyak shalawat.

Kemudian mengamalkannya.

Bagi Ernawati, semangat inilah yang sejak awal ingin ia hadirkan.

"Kita ingin masyarakat datang bukan hanya karena ada ulama dari Mesir. Yang kita inginkan setelah pulang, cinta kita kepada Rasulullah bertambah. Shalawat bertambah. Akhlak semakin baik. Dan kepedulian kita kepada sesama juga semakin besar," kata Ernawati.

Dari 1.000 Nasi Kotak hingga Pesan Berbagi

Ada satu benang merah antara isi tabligh dan apa yang dilakukan di lapangan.

Syekh Ala berbicara mengenai cinta Rasulullah dan kepedulian.

Ernawati menyiapkan makanan untuk jamaah.

Memang hanya 1.000 kotak.

Sementara jamaah yang hadir mencapai ribuan.

Namun Ernawati melihatnya sebagai simbol.

Bahwa majelis ilmu juga bisa menjadi ruang berbagi.

"Yang penting bukan jumlahnya. Kita ingin membangun kebiasaan bahwa setiap ada kesempatan, mari berbagi. Kalau punya rezeki lebih, berbagi makanan. Kalau punya ilmu, berbagi ilmu. Kalau punya jaringan, gunakan untuk membantu orang lain," katanya.

Bagi Ernawati, setiap orang mempunyai sesuatu untuk disedekahkan.

Tidak selalu uang.

Ada tenaga.

Ada waktu.

Ada ilmu.

Ada senyum.

Dan ada kemampuan mempertemukan orang dengan guru.

Dari Al-Falah, Lawatan Berlanjut

Tabligh akbar di Masjid Agung Al-Falah bukan akhir lawatan Syekh Ala.

Ulama Mesir itu masih memiliki rangkaian agenda di Provinsi Jambi.

Sebelumnya Syekh Ala telah mengikuti Dialog Pendidikan dan Peradaban Islam di UIN STS Jambi.

Selepas rangkaian di Kota Jambi, lawatan juga dijadwalkan bergerak menuju pesantren-pesantren dan daerah lain.

Artinya, satu kedatangan digunakan untuk membuka sebanyak mungkin majelis.

Di kampus bertemu mahasiswa.

Di masjid bertemu masyarakat.

Di pesantren bertemu santri.

Itulah konsep yang dibawa Ernawati bersama ISMI Provinsi Jambi.

Ribuan Jamaah, Satu Nama yang Disebut Berulang-ulang

Tabligh akbar akhirnya berlangsung di tengah sesaknya jamaah Masjid Agung Al-Falah.

Ribuan orang datang.

Sebagian mungkin tidak mengenal satu sama lain.

Ada yang datang dari lingkungan berbeda.

Pekerjaan berbeda.

Usia berbeda.

Namun Jumat siang itu, ada satu nama yang berulang kali disebut di antara ribuan jamaah tersebut.

Muhammad Rasulullah SAW.

Shalawat menggema.

Syekh Ala berbicara tentang cinta.

Tentang akhlak.

Tentang bagaimana seorang Muslim seharusnya meneladani manusia yang dicintainya.

Sementara di sisi lain, seribu kotak nasi disiapkan untuk dibagikan kepada jamaah.

Ernawati mengatakan itulah yang sejak awal ia harapkan.

"Saya bahagia melihat masyarakat begitu antusias. Mudah-mudahan yang kita bawa pulang dari sini bukan hanya foto atau video. Bawa pulang ilmu. Bawa pulang shalawat. Bawa pulang cinta kepada Rasulullah. Lalu buktikan cinta itu dengan menjadi manusia yang lebih baik dan lebih bermanfaat," kata Ernawati.

Siang itu, Masjid Al-Falah memang dipenuhi manusia.

Namun yang hendak dibesarkan bukan nama orang yang menginisiasi acara.

Bukan pula sekadar nama ulama yang datang dari Mesir.

Yang hendak dibesarkan adalah satu rasa:

cinta kepada Rasulullah SAW.

Tambahkan bagian ini ke berita sebelumnya agar suasananya lebih hidup dan pembaca memahami jalannya tabligh akbar:

Ceramah Disampaikan dalam Bahasa Arab, Lalu Diterjemahkan

Ada satu hal yang membuat tabligh akbar bersama Syekh Ala terasa berbeda.

Sepanjang menyampaikan tausiah, Syekh Ala berbicara menggunakan bahasa Arab.

Dengan intonasi tenang dan sesekali penuh penekanan, ulama asal Mesir itu menyampaikan nasihat mengenai shalawat, kecintaan kepada Rasulullah SAW, akhlak dan kehidupan seorang Muslim.

Agar seluruh jamaah memahami isi ceramah, setiap bagian kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Pola penyampaiannya berlangsung bergantian.

Syekh Ala berbicara beberapa kalimat dalam bahasa Arab.

Lalu penerjemah menyampaikan kembali maknanya kepada jamaah.

Setelah itu Syekh Ala melanjutkan penjelasan berikutnya.

Cara tersebut membuat suasana tabligh akbar berjalan lebih perlahan, tetapi justru memberi kesempatan jamaah mencerna setiap pesan.

Beberapa kali, ketika Syekh Ala menyebut nama Rasulullah SAW atau berbicara tentang keutamaan shalawat, jamaah langsung merespons dengan lantunan shalawat.

Bahasa memang berbeda.

Tetapi pesan yang disampaikan terasa dekat.

Tentang cinta kepada Nabi.

Tentang bagaimana shalawat tidak hanya berhenti di bibir.

Dan tentang bagaimana kecintaan kepada Rasulullah harus tercermin dalam akhlak dan kehidupan sehari-hari.

Hj Ernawati mengatakan penggunaan bahasa Arab justru memberi pengalaman tersendiri bagi jamaah.

“Beliau memang menyampaikan tausiah dalam bahasa Arab, kemudian diterjemahkan agar seluruh jamaah memahami. Saya justru senang karena masyarakat bisa mendengar langsung cara guru menyampaikan ilmu dalam bahasa aslinya, lalu maknanya dijelaskan kepada jamaah,” kata Ernawati.

Menurut Ernawati, hal terpenting bukan bahasa yang digunakan, tetapi pesan yang sampai kepada jamaah.

“Bahasanya Arab, tetapi pesan cintanya bisa dirasakan semua orang. Ketika beliau berbicara tentang Rasulullah, tentang shalawat dan akhlak, jamaah bisa menangkap maknanya melalui terjemahan. Itu yang kita harapkan,” ujarnya.

Suasana seperti itulah yang membuat tabligh akbar terasa khas.

Syekh Ala menyampaikan ilmu dengan bahasa Arab.

Penerjemah menjembatani makna.

Dan ribuan jamaah di Masjid Agung Al-Falah menyimak dalam satu irama yang sama.

Berbeda bahasa, tetapi satu pesan: cinta kepada Rasulullah SAW.(*)

BeritaSatu Network