Usai Lantik ISMI Bungo, Ernawati Langsung ke Panti Asuhan: Salami Anak Yatim hingga Salat Maghrib Bersama

WIB
ist

Bungo - Agenda Ketua Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi Hj Ernawati di Kabupaten Bungo belum berhenti setelah melantik Pengurus Daerah ISMI Kabupaten Bungo.

Sabtu (29/8/2026) sore, usai rangkaian pelantikan di Hotel Semagi, Ernawati justru melanjutkan perjalanan ke tempat yang suasananya jauh lebih sederhana.

Tujuannya Panti Asuhan Aisyiyah Muara Bungo di kawasan Jalan Lintas Sumatera.

Ia datang didampingi Ketua PD ISMI Kabupaten Bungo M. Mahili dan rombongan.

Waktu sudah mendekati Maghrib.

Anak-anak panti tampak menunggu kedatangan rombongan. Begitu tiba, Ernawati tak langsung duduk di tempat yang telah disiapkan.

Ia mendekati mereka.

Satu per satu tangan anak-anak yatim itu disalaminya.

Ada yang masih kecil.

Ada yang sudah remaja.

Sebagian terlihat malu-malu. Yang lain tersenyum ketika Ernawati mengajak berbicara.

Suasananya sederhana.

Tak ada panggung besar.

Tak ada seremoni seperti beberapa jam sebelumnya.

Namun justru di tempat itulah lawatan Ernawati di Bungo sore itu berubah menjadi lebih personal.

Dari Pelantikan Langsung Temui Anak Yatim

Beberapa jam sebelumnya, Ernawati masih berdiri di tengah acara resmi.

Ia memimpin pelantikan pengurus ISMI Kabupaten Bungo.

Ada pejabat.

Ada tamu undangan.

Ada sambutan.

Ada tari Sekapur Sirih.

Ada prosesi organisasi.

Namun setelah seluruh rangkaian selesai, Ernawati memilih tidak langsung beristirahat.

Rombongan bergerak menuju Panti Asuhan Aisyiyah.

Ketua PD ISMI Bungo Mahili ikut mendampingi.

Menurut Ernawati, kunjungan itu ingin menjadi pengingat bahwa organisasi tidak cukup hanya tumbuh di ruang formal.

Ada masyarakat yang harus disentuh langsung.

Ada anak-anak yang membutuhkan perhatian.

Ada ruang pengabdian yang tidak selalu membutuhkan podium.

Azan Maghrib, Semua Beranjak Salat

Waktu terus bergerak.

Azan Maghrib kemudian berkumandang.

Percakapan dihentikan.

Ernawati bersama Mahili, pengurus, pengelola panti dan anak-anak kemudian melaksanakan salat Maghrib berjamaah.

Suasana menjadi hening.

Anak-anak berbaris dalam saf.

Rombongan tamu ikut membaur.

Tak ada jarak antara pimpinan organisasi dan penghuni panti.

Malam perlahan turun di Muara Bungo.

Setelah salat selesai, mereka tidak langsung beranjak.

Ernawati duduk bersama anak-anak.

Ia meminta waktu sebentar.

Bukan untuk memberikan sambutan panjang.

Tetapi untuk menitipkan pesan.

Ernawati Bicara soal Kedekatan Rasulullah dengan Anak Yatim

Di hadapan sekitar 40 anak panti, Ernawati berbicara mengenai kedudukan anak yatim dalam Islam.

Ia mengingatkan bahwa Nabi Muhammad SAW sendiri tumbuh sebagai seorang yatim.

Ayah Rasulullah, Abdullah bin Abdul Muthalib, telah wafat sebelum beliau lahir. Kemudian ibunya, Aminah, wafat ketika Nabi masih kecil.

Karena itu, menurut Ernawati, anak yatim tidak boleh merasa dirinya lebih rendah dibandingkan siapa pun.

"Anak-anak jangan pernah merasa rendah hanya karena hidup tanpa ayah atau ibu. Rasulullah SAW sendiri tumbuh sebagai seorang yatim. Tetapi dari seorang anak yatim itulah Allah menghadirkan manusia yang kemudian menjadi teladan bagi seluruh umat," kata Ernawati.

Kalimat itu membuat suasana berubah lebih tenang.

Anak-anak mendengarkan.

Ernawati kemudian melanjutkan bahwa Islam memberikan perhatian sangat besar kepada anak yatim.

Ia mengingatkan sabda Nabi Muhammad SAW tentang kedekatan orang yang memelihara anak yatim dengan Rasulullah di surga.

Namun kepada anak-anak, ia membawa pesan dari sisi berbeda.

Mereka tidak hanya harus menunggu untuk dikasihani.

Mereka harus tumbuh.

Belajar.

Berani bermimpi.

Dan kelak menjadi orang yang justru membantu orang lain.

"Kalian Boleh Punya Mimpi Setinggi-tingginya"

Ernawati meminta anak-anak panti tidak menjadikan keterbatasan hidup sebagai alasan untuk menyerah.

Menurutnya, masa depan tidak selalu ditentukan oleh kondisi hari ini.

Anak yang hari ini tinggal di panti bisa menjadi orang besar pada masa mendatang.

Bisa menjadi dokter.

Guru.

Pengusaha.

Ulama.

Pejabat.

Akademisi.

Atau apa pun yang mereka cita-citakan.

"Kalian boleh punya mimpi setinggi-tingginya. Jangan karena hari ini tinggal di panti kemudian merasa masa depan kalian lebih kecil daripada anak-anak yang lain. Tidak. Di hadapan Allah, setiap anak punya kesempatan untuk menjadi manusia yang hebat," ujar Ernawati.

Ia meminta anak-anak tidak berhenti belajar.

"Belajar yang rajin. Hormati guru dan pengasuh. Jaga salat. Jangan malu dengan keadaan hari ini. Bisa jadi dari tempat inilah nanti lahir orang-orang besar yang membanggakan Bungo dan Jambi," katanya.

Jangan Hidup dari Rasa Kasihan

Ada pesan lain yang disampaikan Ernawati.

Ia tak ingin anak-anak tumbuh dengan mental merasa harus selalu dikasihani.

Menurutnya, bantuan memang penting.

Perhatian juga penting.

Tetapi jauh lebih penting adalah membangun kepercayaan diri.

"Saya ingin kalian menerima bantuan ini dengan bahagia, tetapi jangan tumbuh dengan perasaan bahwa hidup harus terus dikasihani. Kalian harus kuat. Kalian harus punya ilmu. Suatu hari nanti kalian yang berdiri membantu orang lain," kata Ernawati.

Pesan itu menjadi inti motivasinya.

Hari ini menerima.

Suatu hari memberi.

Hari ini dibantu.

Suatu hari membantu.

Ernawati ingin anak-anak panti melihat bantuan bukan sebagai tanda kelemahan.

Justru sebagai jembatan agar mereka bisa tumbuh dan kemudian melakukan hal yang sama kepada orang lain.

"Dekat dengan Allah, Masa Depan Tidak Pernah Gelap"

Ernawati kemudian mengaitkan optimisme dengan kekuatan spiritual.

Menurutnya, ada satu tempat yang tidak boleh ditinggalkan anak-anak ketika menghadapi kesulitan.

Allah SWT.

"Kalau kalian sedang sedih, dekatlah kepada Allah. Kalau merasa sendiri, ingat bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Kalau punya cita-cita, minta kepada Allah dan kejar dengan belajar serta kerja keras," kata Ernawati.

Ia meminta mereka menjaga salat dan menjadikan Al-Qur'an sebagai pegangan.

"Kita mungkin tidak selalu bisa memilih bagaimana awal kehidupan kita. Tetapi kita bisa berikhtiar menentukan ke mana hidup ini akan dibawa. Dekat dengan Allah, belajar sungguh-sungguh, jaga akhlak. Insyaallah masa depan tidak pernah gelap," ujarnya.

Bantuan Dibagikan Satu per Satu

Setelah motivasi singkat, Ernawati tidak menyerahkan bantuan secara simbolis kepada satu orang untuk mewakili seluruh penghuni panti.

Ia memilih membagikannya satu per satu.

Sekitar 40 anak maju bergantian.

Ernawati kembali menyalami mereka.

Bantuan diserahkan langsung ke tangan masing-masing anak.

Ada yang tersenyum lebar.

Ada yang terlihat gugup.

Ada pula yang mengucapkan terima kasih pelan.

Ernawati beberapa kali menyempatkan diri berbicara singkat dengan penerima.

Menanyakan sekolah.

Menyemangati mereka.

Dan kembali mengingatkan untuk rajin belajar.

Bagi Ernawati, cara itu penting.

Sebab yang ingin diberikan bukan hanya bantuan materi.

Ada perhatian personal di dalamnya.

Mahili Dampingi hingga Selesai

Ketua PD ISMI Kabupaten Bungo M. Mahili ikut mendampingi seluruh rangkaian kunjungan tersebut.

Bagi Mahili, kunjungan itu sekaligus memberi gambaran kepada pengurus ISMI Bungo yang baru dilantik mengenai arah organisasi.

Pelantikan bukan berhenti di ruang hotel.

Beberapa jam kemudian, ketua wilayah sudah membawa mereka masuk ke ruang sosial.

Dari aula resmi ke panti asuhan.

Dari prosesi pataka ke anak-anak yatim.

Mahili menilai pesan itu cukup jelas.

ISMI tidak boleh hanya hidup pada seminar dan seremoni.

"Ini menjadi pelajaran bagi kami di ISMI Bungo. Setelah dilantik, kita langsung diajak melihat bagaimana organisasi harus dekat dengan masyarakat. Tidak hanya bicara program besar, tetapi juga hadir di tempat-tempat yang membutuhkan perhatian," kata Mahili.

Ernawati: Organisasi Harus Punya Hati

Ernawati mengatakan kaum sarjana memang harus mampu melahirkan gagasan.

Tetapi menurutnya, kecerdasan harus berjalan bersama kepedulian.

"ISMI ini organisasi sarjana. Kita tentu bicara ilmu, pendidikan, ekonomi dan pembangunan. Tetapi sarjana juga harus punya hati. Kalau di sekitar kita masih ada anak yatim dan masyarakat yang membutuhkan, kita tidak boleh berpaling," katanya.

Menurutnya, keberhasilan organisasi tidak hanya diukur dari berapa banyak pelantikan yang dilakukan.

Bukan pula dari seberapa besar forum diskusi yang digelar.

Ukuran lainnya adalah seberapa jauh keberadaan organisasi dirasakan oleh masyarakat.

"Ilmu itu harus membuat kita semakin peka. Kalau semakin tinggi pendidikan tetapi semakin jauh dari orang yang membutuhkan, ada yang salah dengan cara kita memaknai ilmu," kata Ernawati.

Dari Hotel Semagi ke Panti Aisyiyah

Hari itu perjalanan Ernawati di Bungo cukup panjang.

Pagi ia mengunjungi sekolah alam Ya Bunayya.

Kemudian berdialog dengan mahasiswa Universitas Islam Yasni Bungo tentang kewirausahaan.

Siang harinya ia melantik pengurus ISMI Kabupaten Bungo di Hotel Semagi.

Sore menjelang malam, rombongan kembali bergerak.

Tujuannya kali ini bukan kampus.

Bukan hotel.

Bukan pula gedung pemerintahan.

Tetapi panti asuhan.

Di sana Ernawati menyalami anak-anak.

Salat berjamaah.

Bercerita tentang Rasulullah SAW yang juga tumbuh sebagai yatim.

Memberikan motivasi.

Kemudian membagikan bantuan satu per satu.

Ketika kunjungan selesai, malam sudah menyelimuti Muara Bungo.

Tetapi satu pesan ditinggalkan kepada anak-anak sebelum Ernawati pergi:

keadaan hari ini tidak menentukan seberapa tinggi mereka boleh bermimpi.

"Suatu hari nanti saya ingin mendengar ada anak dari panti ini yang berhasil, menjadi orang baik dan kemudian kembali membantu adik-adiknya. Jangan pernah berhenti berharap. Allah bisa mengubah hidup siapa saja," kata Ernawati.

Sabtu itu, Ernawati memang datang membawa bantuan.

Namun kepada sekitar 40 anak di Panti Asuhan Aisyiyah Muara Bungo, ia ingin meninggalkan sesuatu yang lebih lama daripada isi amplop.

Keberanian untuk menatap masa depan.(*)

BeritaSatu Network